HumasUIN – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., memberikan pembekalan mendalam kepada para mahasiswa dalam acara pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Ke-VI Tahun 2026. Acara yang diselenggarakan di Auditorium UUIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada Rabu (15/07/2026) ini menjadi momen penting untuk menegaskan kembali peran krusial mahasiswa di tengah realitas masyarakat lokal.
Mengawali arahannya, Nasaruddin Umar menekankan kedudukan sangat mulia orang tua dalam pandangan Al-Quran, baik orang tua secara biologis maupun spiritual. Nasaruddin menjelaskan bahwa para pimpinan kampus dan dosen merupakan orang tua intelektual yang mendidik mahasiswanya layaknya anak sendiri. Pemahaman relasi spiritual ini dipandang sebagai fondasi adab yang harus dipegang teguh oleh setiap mahasiswa sebelum melangkah ke medan pengabdian.
Menteri Agama kemudian menyoroti tingginya ekspektasi publik terhadap lulusan perguruan tinggi Islam. Nasaruddin menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya menilai kualitas keilmuan atau apa yang diucapkan, tetapi juga melihat siapa sosok pembawanya. Oleh karena itu, mahasiswa UIN tidak boleh hanya berhenti pada level ilmuwan yang memandang pengetahuan sekadar teori, atau intelektual yang hanya mempraktikkan teori untuk dirinya sendiri. Puncak dari tujuan seorang mahasiswa UIN adalah menjadi cendekiawan, yakni sosok cerdas yang berorientasi pada ketuhanan dan kehadirannya memberikan dampak nyata serta solusi bagi lingkungan sekitarnya.

Sebagai bekal operasional saat turun ke masyarakat, Nasaruddin memformulasikan delapan pilar karakter utama bagi peserta KKN melalui akronim ISTIQAMAH. Kedelapan fondasi tersebut menuntut mahasiswa untuk memiliki sifat Ikhlas dalam setiap tindakan, Sabar menghadapi dinamika sosial, Tawadu kepada sesama, Ihsan dengan terus menebarkan kebajikan, Qana’ah atau merasa cukup dengan apa yang ada, Akhlak yang terpuji, Muruah yang berarti pandai menempatkan diri dan berpakaian secara pantas, serta Al-haya yakni senantiasa memelihara rasa malu. Nasaruddin memastikan bahwa pengamalan seluruh pilar ini akan mengantarkan mahasiswa pada kesuksesan program kerja di lapangan.
Lebih jauh, Menteri Agama mengingatkan bahwa lokasi KKN adalah laboratorium kehidupan yang sesungguhnya. Mahasiswa diinstruksikan untuk meneladani keluwesan metode dakwah Rasulullah SAW dan para Wali Songo yang merangkul tradisi serta kearifan lokal tanpa memicu benturan sosial. Nasaruddin secara tegas melarang mahasiswa bersikap arogan, merasa paling benar, atau mudah membidahkan tradisi kebudayaan masyarakat setempat.

Dengan mengangkat konsep ekoteologi, Nasaruddin juga mengajak mahasiswa untuk bersahabat dengan alam semesta dan memetik hikmah dari manapun kebenaran itu berasal. Menutup pembekalannya, Nasaruddin menyampaikan sebuah pesan reflektif bahwa kebiasaan menyalahkan orang lain hanyalah pertanda bahwa seseorang masih harus banyak belajar. Sebaliknya, seorang cendekiawan yang arif akan berbaur dan menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat secara diam-diam tanpa perlu menepuk dada mencari pengakuan.