HumasUIN – Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., memberikan instruksi khusus kepada seluruh panitia pelaksana Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara 2026. Dalam pengarahannya yang disampaikan secara daring pada Senin malam (11/05/2026), Prof. Sahiron menekankan bahwa kehadiran mahasiswa di lokasi pengabdian harus membawa dampak positif sekaligus penghormatan yang tinggi terhadap kearifan lokal.

Prof. Sahiron menegaskan bahwa forum KKN Nusantara merupakan ajang silaturahmi nasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai pelosok negeri, mulai dari wilayah barat hingga timur Indonesia. Namun, inti dari kegiatan ini adalah bagaimana mahasiswa mampu menyatu dengan masyarakat setempat tanpa mencederai tatanan budaya yang ada.
“Alhamdulillah dengan kegiatan ini kita semua dapat bertemu, baik dari Makassar, Aceh, dan semuanya. Jadi ini forum silaturahmi juga untuk para mahasiswa. Di samping itu, tentunya kegiatan ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat,” ujar Prof. Sahiron.
Direktur Diktis menaruh perhatian besar pada etika komunikasi mahasiswa saat berinteraksi dengan warga Banten. Menurut Prof. Sahiron, pemahaman mengenai tradisi lokal harus menjadi prioritas sebelum mahasiswa diterjunkan ke lapangan. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman sosial yang dipicu oleh perilaku atau ucapan yang tidak sesuai dengan norma setempat.

“Tolong sampaikan kepada para mahasiswa bahwa mereka harus bisa belajar menghargai dan memahami tradisi yang ada di masyarakat Banten ini. Jangan sampai salah bicara atau bertindak di sana. Mahasiswa perlu di-briefing terlebih dahulu agar tidak salah bersikap atau berbicara kepada masyarakat,” tegas Prof. Sahiron.
Secara spesifik, Prof. Sahiron menyoroti wilayah Baduy sebagai lokasi pengabdian yang unik. Masyarakat Baduy dikenal memiliki cara hidup yang sangat harmonis dengan alam, sebuah prinsip yang menurutnya harus dipelajari dan dihormati oleh mahasiswa sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Masyarakat di sana sudah terbiasa hidup bersama alam dan memiliki cara bersikap sendiri terhadap alam. Mahasiswa harus belajar dari situ; bagaimana mereka menghargai alam dan tumbuhan. Mereka hanya memanfaatkan alam semesta ini sesuai dengan kebutuhannya saja, setelah itu dihargai dan dijaga agar tidak rusak. Itu adalah tradisi dan cara hidup mereka sendiri,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Prof. Sahiron menyarankan agar setiap kampus pengirim menyiapkan materi pembekalan khusus mengenai kebudayaan Baduy. Dengan pemahaman awal yang kuat, mahasiswa diharapkan memiliki antisipasi terhadap perbedaan kultur, terutama bagi mereka yang ditempatkan di wilayah Baduy luar maupun Baduy dalam yang memiliki aturan adat yang ketat.
“Barangkali di sinilah PTKIN berdampak, yaitu membantu memberikan penampungan pemikiran atau bantuan lainnya. Namun, mahasiswa harus selalu diberitahu untuk berdiskusi dan berbicara baik-baik terlebih dahulu dengan masyarakat setempat. Informasi semacam itu sangat penting, kalau bisa materinya disiapkan oleh kampus mengenai tradisi Baduy tersebut,” jelas Prof. Sahiron.
Di akhir pesannya, Prof. Sahiron berharap agar seluruh teknis pelaksanaan dipersiapkan dengan matang guna menjaga citra positif institusi pendidikan keagamaan di mata publik. Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sejauh mana mahasiswa mampu menunjukkan sikap saling mengerti dan menghargai di tengah keragaman masyarakat Indonesia.
“Persiapkan dengan sebaik mungkin secara teknis supaya citra dan nama baik PTKIN terus meningkat serta semakin besar manfaatnya bagi masyarakat. Saya berharap teman-teman dari berbagai daerah, dari Indonesia bagian Barat sampai Timur, betul-betul bisa saling mengerti dan menghargai satu sama lain di samping membantu kehidupan masyarakat,” pungkas Prof. Sahiron menutup arahannya.