HumasUIN – UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) resmi menjadi tuan rumah penyelenggaraan Opening Ceremony Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara ke-VI Tahun 2026. Acara yang berkolaborasi dengan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI berlangsung dengan khidmat diselenggarakan di Auditorium Gedung Rektorat Lantai 3, UIN SMH Banten, pada Rabu (15/07/2026).
Kegiatan berskala nasional ini dihadiri langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. Turut hadir dalam acara tersebut jajaran pimpinan kampus mulai dari Rektor, Para Wakil Rektor, Kepala Biro AAKK, Kepala Biro AUPK, Ketua LP2M beserta jajarannya, serta seluruh Dekan Fakultas. Selain itu, acara ini juga disaksikan oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten, perwakilan jajaran Polres setempat, serta ratusan mahasiswa peserta KKN Nusantara 2026.
Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran Menteri Agama di tengah-tengah sivitas akademika. Muhammad Ishom berharap kedatangan pucuk pimpinan Kementerian Agama tersebut mampu menjadi pemicu semangat bagi UIN SMH Banten untuk melesat menuju taraf internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor melaporkan bahwa total peserta KKN pada tahun ini mencapai 1.400 mahasiswa.
“Sebanyak 1.200 mahasiswa secara umum telah kami lepas pada pagi hari untuk menuju masing-masing kantor kecamatan tempat mereka mengabdi. Sementara yang tersisa di ruangan ini adalah 240 peserta KKN Nusantara dari berbagai penjuru Indonesia yang akan diterjunkan ke kawasan Tanah Baduy,” jelas Muhammad Ishom.
Rektor menambahkan bahwa pemilihan kawasan Baduy sangat sejalan dengan tema KKN tahun ini, yakni merawat ekoteologi. Masyarakat Baduy dinilai memiliki nilai-nilai kelestarian lingkungan dan tradisi yang sangat luar biasa untuk dipelajari. Mahasiswa diharapkan dapat memetik hikmah dari kearifan lokal setempat, sekaligus belajar merawat harmoni keberagaman dengan para penganut kepercayaan lokal seperti Sunda Wiwitan.
Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., memberikan orasi ilmiah dan pembekalan yang sarat akan makna filosofis bagi para mahasiswa yang akan segera terjun ke masyarakat. Menteri Agama menegaskan bahwa mahasiswa UIN memikul ekspektasi yang jauh lebih besar dari masyarakat dibandingkan dengan mahasiswa dari perguruan tinggi umum.

Nasaruddin Umar memaparkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi juga keteladanan.
“Ekspektasi masyarakat terhadap alumni UIN jauh lebih berat. Masyarakat tidak hanya melihat apa yang Saudara sampaikan, tetapi mereka juga ingin tahu siapa yang menyampaikannya. Puncak dari seorang pencari ilmu bukanlah sekadar menjadi ilmuwan atau intelektual, melainkan harus menjadi seorang cendekiawan yang ilmunya memberikan dampak nyata bagi lingkungan,” tegas Menteri Agama.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Nasaruddin Umar membekali para peserta KKN dengan konsep kepribadian yang dirangkum dalam akronim ISTIQAMAH, yakni Ikhlas, Sabar, Tawadhu, Ihsan, Qana’ah, Akhlak, Muruah, dan Alhaya (rasa malu). Sang Menteri secara khusus menyoroti pentingnya menjaga muruah dengan cara menempatkan diri secara tepat, berpakaian yang wajar, serta senantiasa bertutur kata santun di tengah masyarakat.
Terkait penempatan mahasiswa di kawasan Baduy yang kaya akan tradisi, Menteri Agama mengingatkan para peserta untuk tidak datang dengan arogansi akademis. Mengangkat konsep ekoteologi, Nasaruddin Umar mengisahkan bagaimana masyarakat tradisional di nusantara mampu bertahan hidup selama jutaan tahun karena mereka bersahabat dengan alam, tanpa perlu bergantung pada instrumen laboratorium yang rumit.

Menteri Agama berpesan agar mahasiswa menjadikan lokasi KKN sebagai laboratorium kehidupan yang penuh berkah. Ia memperingatkan mahasiswa agar tidak mudah membenturkan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan realitas tradisi lokal yang sudah mengakar.
“Kalian dituntut untuk mencontoh kearifan Rasulullah dan para Wali Songo dalam berdakwah. Jangan datang ke tengah masyarakat untuk membenturkan diri. Jangan dengan mudah melabeli sesuatu sebagai bid’ah atau syirik hanya karena belum memahami filosofi persahabatan masyarakat tradisional dengan alamnya,” papar Nasaruddin Umar.
Sebagai penutup, Menteri Agama mengingatkan kembali muruah pendidikan di Universitas Islam Negeri. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pencarian ilmu pengetahuan yang mendalam harus dikembalikan pada prinsip dasar Iqra Bismi Rabbik. Ilmu pengetahuan hanyalah media, sementara tujuan utamanya adalah menggunakan ilmu tersebut untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
