HumasUIN – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten menyelenggarakan kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Kapasitas Dosen dalam Penelitian dan Karya Ilmiah Bereputasi Internasional. Mengusung tema “From Research to Publication: Meningkatkan Kompetensi Dosen Dalam Hasil Karya Ilmiah Bereputasi Internasional”, acara ini berlangsung di Ruang Rapat LP2M pada Rabu (17/06/2026).
Pelatihan ini menghadirkan dua pakar sebagai narasumber, yaitu Prof. Dr. Hamami Zada, M.A. dan Dr. Himawan Putrananta, M.Pd. Acara ini dihadiri langsung oleh Rektor UIN SMH Banten, Wakil Rektor II, Sekretaris LP2M beserta jajaran, Dekan Fakultas Syariah, Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin, serta jajaran dosen di lingkungan kampus.
Dalam sambutannya, Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang diselenggarakan oleh LP2M. Rektor menyampaikan bahwa pelatihan ini memiliki dampak besar terhadap peningkatan agilitas kampus. Saat ini UIN SMH Banten sudah memiliki 20 produk yang terakreditasi unggul, namun publikasi internasional dinilai masih sangat minim. Padahal, seluruh perguruan tinggi saat ini sedang berlomba untuk mengejar pemeringkatan dunia atau world university rankings.

“Saya ingin supaya ketika kita bersandingan dengan teman-teman yang lain, kita itu juga bangga. UIN Banten ini produktivitas dari riset seribu misalnya, kan bangga kita. World ranking kita nanti masuk ranking sekian, nanti dari aspek Sinta dan Scholar kita masukkan berapa, ini harapan saya,” ujar Prof. Ishom dalam pidatonya.
Rektor juga menegaskan komitmennya untuk tidak mempersulit proses kenaikan pangkat para dosen, bahkan berharap kampus dapat melahirkan lebih dari 50 Guru Besar baru yang bereputasi. Kendati demikian, Prof. Ishom mengingatkan agar para Profesor yang sudah mapan tidak terjebak dalam zona nyaman dan berhenti berkarya. Menurut Rektor, seorang Guru Besar harus mampu menjadi mentor bagi dosen-dosen junior serta terus aktif meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di jurnal bereputasi global seperti Scopus.
Selain memotivasi dosen, Rektor menyoroti masalah teknis yang menyebabkan pencatatan data publikasi UIN SMH Banten di akun Sinta belum optimal. Berdasarkan evaluasi, salah satu penyebab utama adalah ketidakkompakan dalam penulisan nama afiliasi kampus serta penggunaan email personal seperti Yahoo oleh para dosen pada akun Google Scholar mereka. Ada yang menuliskan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, UIN SMH Banten, hingga menggunakan istilah bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan banyak karya ilmiah dosen tidak tersinkronisasi dan tidak terbaca oleh sistem Sinta kampus yang saat ini baru mencatat angka 167 publikasi.

“Semua harus dipaksa menggunakan emailnya uinbanten.ac.id sehingga nanti kalau ingin untuk submit ke Sinta dan lain sebagainya, dilihat Google Scholar-nya tinggal tahun berapa kan ketahuan itu. Dan saya yakin jumlahnya tidak 167 seperti yang ada di akun Sintanya UIN, saya yakin seribu mungkin ada,” tegas Rektor.
Melalui penataan administrasi digital dan penyeragaman nama afiliasi ini, Rektor optimistis UIN SMH Banten dapat bergerak cepat mengejar ketertinggalan dari kampus lain serta mewujudkan visi menjadi kampus unggul terkemuka yang berdampak nyata di kancah internasional.
