HumasUIN – Guna menjawab tantangan global dan merumuskan arah baru peradaban, UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten mendelegasikan 17 guru besar pada Festival Muharram 1448 H/2026 M di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Pengiriman delegasi berskala besar pada acara bertajuk “Rekonstruksi Peradaban Islam untuk Membangun Dunia Baru” ini menjadi langkah konkret kampus dalam memperkuat tradisi ilmiah tingkat nasional.
Kehadiran para akademisi UIN Banten ini merupakan tindak lanjut langsung dari undangan resmi yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. Muhammad Ishom, M.A., memimpin langsung rombongan delegasi kehormatan tersebut.
Seminar nasional yang menjadi rangkaian Festival Muharram 1448 Hijriah ini dibuka secara resmi oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. Dalam pidato utamanya yang mengupas transformasi peradaban dunia, Menteri Agama menyoroti secara tajam sejarah dinamika peradaban manusia yang terus bergeser setiap enam abad, dimulai dari rentang abad kegelapan hingga pencapaian era keemasan Islam. Nasaruddin Umar menekankan bahwa puncak kejayaan peradaban Islam di masa lampau dapat terwujud secara gemilang berkat adanya sinergi yang sangat harmonis antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama. Sang Menteri menggarisbawahi bagaimana Al-Qur’an, melalui hamparan ayat-ayat kauniyah, secara eksplisit mendorong umat manusia untuk tiada henti membaca, meneliti, serta mengembangkan kreativitas dan inovasi tanpa batas.

“Kenapa menurut Profesor Bull tidak pernah terjadi peradaban sehebat abad keenam hingga ketiga belas Masehi? Jawabannya adalah karena di titik sejarah tersebut terjadi sinergi yang luar biasa antara ilmu pengetahuan dan agama,” tegas Nasaruddin Umar saat memaparkan analisisnya di hadapan para peserta. Menteri Agama lebih lanjut menguraikan bahwa perkawinan antara agama dan ilmu pengetahuan, serta perpaduan filosofis antara agama dan prinsip bismi rabbika, merupakan fondasi utama yang melahirkan The Golden Age of Islam. Ia menambahkan dengan lugas bahwa tidak pernah ada umat manusia yang menikmati kemerdekaan ilmu pengetahuan sebebas dan semaju pada masa peradaban Nabi Muhammad dan era-era keemasan setelahnya.
Selain membedah lembaran sejarah, Menteri Agama juga memetakan fenomena mutakhir terkait perkembangan Islam di dunia Barat, khususnya di Amerika Serikat, yang menunjukkan tren peningkatan sangat pesat di tengah disrupsi era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Nasaruddin Umar mengungkapkan kebanggaannya terhadap relevansi abadi Al-Qur’an di pusaran sains modern. Menteri Agama memaparkan bahwa saat ini, tidak ada kitab suci yang paling aktif keluar masuk di berbagai laboratorium ilmiah selain Al-Qur’an, terlebih di tengah melesatnya era kecerdasan buatan. Menurutnya, banyak sekali ayat-ayat maupun kisah-kisah di dalam Al-Qur’an yang maknanya sempat tersembunyi, kini perlahan terungkap secara sporadis, dan setelah dianalisis secara komprehensif ternyata menyimpan nilai ilmiah yang sangat dahsyat. Oleh karena itu, Nasaruddin Umar menyerukan dengan lantang agar seluruh institusi pendidikan tinggi Islam kembali menghidupkan kemerdekaan ilmu pengetahuan, serta menghapuskan segala bentuk pandangan dualitas yang memisahkan antara pengetahuan agama dan ilmu umum demi mengembalikan kejayaan peradaban Islam.

Rangkaian seminar ini tidak hanya mendengarkan arahan strategis dari pimpinan Kementerian Agama, tetapi juga menghadirkan diskursus mendalam melalui tiga sesi panel utama yang diisi oleh jajaran tokoh nasional, akademisi, dan pakar lintas disiplin guna merespons berbagai tantangan global. Pada panel utama pertama yang mengangkat tajuk “Konflik Global, Tragedi Kemanusiaan, dan Solusi atas Palestina”, diskusi berfokus pada dinamika diplomasi internasional dan kemanusiaan. Sesi ini menghadirkan deretan narasumber kredibel, yakni Wakil Menteri Luar Negeri RI Muhammad Anis Matta, Pakar Hubungan Internasional Universitas Pertamina Dr. Ian Montratama, dan Direktur Eksekutif ASEAN-IPR I Gusti Agung Wesaka Puja, dengan panduan apik dari moderator Prof. Drs. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D.
Beranjak pada panel utama kedua, perbincangan beralih secara spesifik pada “Respon Agama Terhadap Krisis Lingkungan dan Kesenjangan Sosial”. Sesi yang membedah peran krusial etika keagamaan dalam menjaga keseimbangan ekologi sosial ini diisi oleh deretan cendekiawan terkemuka yang mewakili berbagai latar belakang, di antaranya cendekiawan Muslim Dr. KH. Adi Hidayat, Lc., M.A., Pakar Lingkungan Dr. Fachruddin Majeri Mangunjaya, Ketua Umum Permabudhi Prof. Dr. Philip K. Widjaja, serta Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Jacklevyn Frits Manuputty. Diskusi interaktif lintas iman yang syarat makna ini dimoderatori langsung oleh Prof. Dr. Syafa’atun Almirzana, Ph.D., D.Min.
Sebagai penutup rangkaian dialektika ilmiah, panel utama ketiga difokuskan pada upaya strategis “Memperkuat Tradisi Ilmiah pada Lingkungan Pendidikan Tinggi Islam”. Sesi krusial yang ditujukan khusus bagi insan akademis ini menghadirkan pemikiran-pemikiran segar dan kebijakan dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Brian Yuliarto, Ph.D., Ketua Komisi X DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, M.P.P., Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof. Phil. Kamaruddin Amin, Ph.D., serta Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. M. Amin Abdullah. Jalannya sesi pamungkas ini dikawal oleh moderator Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D.

Melalui partisipasi aktif yang ditunjukkan oleh 17 guru besar tersebut, UIN SMH Banten menaruh harapan besar agar forum ilmiah tingkat nasional ini mampu melahirkan kontribusi pemikiran yang konstruktif. Keterlibatan penuh delegasi kampus ini sekaligus menjadi pijakan kuat dalam upaya bersama untuk merekonstruksi tradisi ilmiah di lingkungan PTKIN, serta mempertegas peran sentral kampus dalam mencetak generasi intelektual yang siap merespons berbagai tantangan peradaban dunia baru di masa depan.
Adapun deretan guru besar dari berbagai fakultas dan program pascasarjana yang mengemban tugas resmi ini meliputi:
- Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A
- Prof. Ilzamudin, M.A
- Prof. Dr. H. Suadi Sa’ad, M.Ag
- Prof. Dr. H. E. Syarifudin, M.Pd
- Prof. Dr. Yuyun Rohmatul Uyuni, M.Ag
- Prof. Dr. H. Subhan, M.Ed
- Prof. Dr. Naf’an Tarihoran, M.Hum
- Prof. Dr. Umdatul Hasanah, S.Ag., M.Ag
- Prof. Dr. Wasehudin, M.S.I
- Prof. Dr. Muhajir, S.Ag., M.A
- Prof. Dr. Itang, S.Ag., M.A
- Prof. Dr. H. Endad Musaddad, S.Ag.,M.A
- Prof. Dr. Budi Sudrajat, M.A
- Prof. Dr. Hidayatullah, M.Pd
- Prof. Dr. Suryani, M.Si
- Prof. Dr. Hj. Eneng Muslihah, M.M
- Prof. Dr. Badrudin, M.Ag