Prof. Ahmad Baso Bedah Silsilah Otentik Syekh Yusuf Al-Makassari

HumasUIN – Peringatan 400 tahun memori ketokohan ulama besar Nusantara, Syekh Yusuf Al-Makassari, menjadi momentum penting dalam pelurusan sejarah berbasis data primer. Dalam kegiatan Studium Generale yang bertemakan “Syeikh Yusuf Al-Makassari Heritage 400: Harmoni Tradisi, Ilmu, dan Kebantenan untuk Dunia”, peneliti manuskrip Nusantara, Prof. Dr. Ahmad Baso, M.A., memaparkan berbagai temuan krusial dari dokumen-dokumen kuno yang selama ini belum banyak terungkap ke publik.

Dalam orasinya, Prof. Ahmad Baso menyoroti bahwa historiografi mengenai Syekh Yusuf selama ini terlalu bergantung pada sumber-sumber kolonial Belanda atau naskah-naskah salinan sekunder. Beliau menegaskan bahwa pelacakan riwayat hidup sang ulama seharusnya bersandar pada penuturan yang ditulis secara genuine oleh tangan beliau sendiri, serta kesaksian dari murid langsung maupun sahabat seperjuangan beliau selama menimba ilmu di Mekah, Madinah, Damaskus, Yaman, hingga India.

“Sumber-sumber ini yang belum banyak diungkap, dan saya baru pada kesempatan ini memberikan presentasi mengenai beberapa sumber tersebut. Selama ini orang hanya berpijak pada sumber Belanda dan karya tasawufnya, tapi yang kurang adalah bagaimana kesaksian beliau sendiri menceritakan riwayat hidupnya,” ujar Prof. Ahmad Baso di hadapan para sivitas akademika.

Salah satu bukti awal yang ditunjukkan adalah manuskrip beraksara Pegon koleksi Leiden, Belanda. Meskipun naskah tasawuf tersebut ditulis oleh orang Jawa dan Makassar asli, lembar pembukanya memuat pengakuan mendalam mengenai pengaruh besar bumi Banten terhadap otoritas keilmuan sang ulama. Prof. Ahmad Baso menjelaskan bahwa sang penulis naskah mengaku mengajarkan ilmu tasawuf tersebut karena memperoleh berkah dari Syekh Yusuf. Menariknya, berkah ini justru secara spesifik disebut berasal dari Banten, bukan dari tempat kelahiran lokal beliau di Sulawesi.

Berkaca dari temuan tersebut, Prof. Ahmad Baso mengusulkan langkah konkret kepada Rektor UIN untuk mengabadikan khazanah ini di lingkungan kampus. “Salah satu barakah yang akan kita lanjutkan oleh kita untuk beliau adalah bagaimana naskah-naskah sumber beliau ini kita kumpulkan dan dimasukkan dalam perpustakaan menjadi bacaan wajib, bahkan kalau perlu masuk dalam kurikulum, terutama di Fakultas Adab dan Humaniora yang baru saja di-SK-kan. Nanti saya usulkan ke Pak Rektor sebagai Syekh Yusuf Corner, dengan dukungan dari Pak Koordinator Staf Khusus karena tahun ini kita memperingati empat ratus tahun memori Syekh Yusuf,” tuturnya.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa relasi persaudaraan antara Banten dan Makassar sebenarnya telah terbangun kokoh jauh sebelum Syekh Yusuf lahir. Berdasarkan dokumen kuno dari era Sultan Abu Mufakhir sekitar tahun 1631 hingga 1633, terdapat sebuah wasiat penting dari Syarif Mekah kala itu, Syarif Zaid, yang meminta tiga kekuatan besar Nusantara untuk bersatu.

“Negara yang ketiga ini, mulai dari Mataram, Banten, dan Makassar harus bicara satu, harus seiase kata dalam membangun peradaban Islam ini di Nusantara, dan juga harus seiase kata bersatu padu dalam melawan menghadapi kekuasaan kaum kafir Belanda VOC. Ini wasiat yang disampaikan oleh Syarif Mekah dan itulah yang kemudian dilanjutkan oleh Sultan Abu Mufakhir dan putranya, Sultan Ageng Tirtayasa,” kata Prof. Ahmad Baso seraya menjelaskan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa kelak menjadi mertua dari Syekh Yusuf.

Memori kedekatan geopolitik ini juga diperkuat oleh dokumen lokal Lontara Makassar abad ke-17. Dalam naskah tersebut, terdapat tradisi kuno yang menyebutkan bahwa setiap orang Makassar yang hendak menuntut ilmu, naik haji, ataupun berdagang, memiliki kewajiban kultural untuk singgah terlebih dahulu di tanah Banten. Langkah ini dinilai penting karena Banten dipandang sebagai pusat berkah ilmu, keulamaan, dan keislaman, sehingga Syekh Yusuf sebagai kader ulama kosmopolitan pun menempuh jalur tersebut sebelum bertolak ke daerah Arab.

Selain melacak jaringan keilmuan, presentasi ini juga berhasil meluruskan distorsi sejarah mengenai tahun kelahiran dan asal-usul keluarga Syekh Yusuf. Berdasarkan naskah otentik tulisan tangan asli Syekh Yusuf yang kini tersimpan di Princeton University, Amerika Serikat, diketahui beliau lahir pada tahun 1626 Masehi atau 1035 Hijriah. Keaslian dokumen abad ke-17 bekas koleksi Abraham Yahuda ini diperkuat dengan adanya catatan verifikasi (tashih) dari sahabat seperguruan beliau, Syekh Abdurrauf As-Singkili, pada tahun 1078 Hijriah.

Melalui dokumen otentik tersebut, Prof. Ahmad Baso meluruskan kekeliruan naskah-naskah generasi baru yang sering meragukan asal-usul beliau, termasuk kesalahan penyalinan nama ayah Syekh Yusuf dari Abul Khair menjadi Abdul Jalal. Beliau juga mengkritik maraknya mitologisasi irasional di tengah masyarakat yang mengaitkan asal-usul sang ulama dengan hal-hal gaib akibat salah membaca teks kuno.

“Sampai disebut beliau keturunan langsung dari Nabi Khidir. Waduh, ini sudah karena kesalahan pembaca. Tulisan Abul Khair dibaca Al-Khidir. Nah, inilah pentingnya bagi adik-adik mahasiswa, kalau bicara sejarah, kalau sumbernya tidak jelas, hati-hati. Harus akses sumber tertuanya yang lebih diutamakan. Kalau tidak, akan muncul proses mitologisasi suatu tokoh, saking dikramatkannya beliau sehingga ditempatkan seperti orang yang punya asal-usul dari dewa-dewa,” pungkasnya tegas.

Pada akhir pemaparannya, Prof. Ahmad Baso kembali menunjukkan bukti otentik di mana Syekh Yusuf menuliskan nama lokal asalnya secara lengkap dengan gelar keulamaan dari Damaskus, yaitu Yusuf Ayub bin Ahmad Abul Khair Al-Khalwati Al-Manjalawi. Nama terakhir ini merujuk secara akurat pada daerah Moncongloe di pinggiran Kota Makassar, yang saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Gowa. Seluruh dokumen primer penunjang sejarah ini direncanakan akan segera diintegrasikan ke dalam perpustakaan UIN sebagai rujukan utama studi Islam Nusantara.


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323