Koordinator Staf Khusus Menag RI Bedah Manuskrip Syekh Yusuf Al-Makassari di UIN Banten: Dorong Internasionalisasi Islam Nusantara ke Kancah Global

HumasUIN – Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. H. M. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa warisan intelektual dan jaringan keilmuan Syekh Yusuf Al-Makassari merupakan modal strategis yang sangat besar bagi Indonesia untuk memimpin pemikiran Islam di panggung dunia. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Studium Generale bertajuk “Syeikh Yusuf Al-Makassari Heritage 400: Harmoni Tradisi, Ilmu, dan Kebantenan untuk Dunia” yang digelar di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada Kamis (18/06/2026).

Farid Saenong menyebutkan bahwa, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini menjadi penyelenggara perdana dalam membawa perspektif baru mengenai pentingnya melihat sejarah dari sudut pandang data primer demi mendukung internasionalisasi Islam Nusantara.

Dalam penyampaiannya, Farid Saenong membuka pemaparan dengan meluruskan asal-usul sosiologis Syekh Yusuf melalui pendekatan manuskrip kuno. Berdasarkan penelusuran naskah otentik, terungkap fakta bahwa secara genealogis sang ulama sebenarnya bukanlah anak kandung dari garis keturunan raja Gowa, melainkan seorang anak angkat istimewa yang tumbuh besar di dalam lingkaran kekuasaan. Status hukum adat inilah yang kemudian membukakan jalan bagi sang ulama untuk mengakses fasilitas kelas atas dari pihak kesultanan, termasuk dukungan penuh untuk melakukan perjalanan keagamaan dan menuntut ilmu ke luar negeri.

“Satu riwayat mengatakan atau satu manuskrip mengatakan aslinya bukan royal family, dia bukan anak raja secara genealogis. Tetapi dia adalah anak angkat raja, yang kemudian mendapatkan fasilitas. Kalau orang dulu itu, ulama-ulama kita itu bisa ke Timur Tengah, itu pasti menggunakan fasilitas,” jelas Farid Saenong di hadapan seluruh sivitas akademika UIN Banten.

Lebih lanjut, Farid Saenong menganalisis bahwa mobilitas intelektual lintas samudra pada abad ke-17 membutuhkan modal finansial dan jejaring politik yang sangat kuat, sehingga sangat tidak rasional jika ada narasi yang menyebutkan rakyat biasa dari kampung bisa mengembara ke Timur Tengah sendirian tanpa sokongan elite penguasa. Melalui kedekatan dengan lingkaran istana di Sulawesi Selatan, Syekh Yusuf sejak awal telah dididik oleh guru-guru agama pilihan pusat kerajaan seperti Dato Ribandang dan Dato Di Tiro, sebelum akhirnya diberangkatkan ke berbagai negara mulai dari Yaman, Damaskus, India, hingga Mekah dan Madinah untuk mengumpulkan sanad keilmuan yang sah.

Jaringan intelektual global tersebut, menurut Farid Saenong, juga membentuk konektivitas yang kuat dengan wilayah barat Indonesia, termasuk Banten dan Aceh. Farid Saenong mencontohkan temuan naskah penting yang menggambarkan dialog mendalam antara Syekh Yusuf dengan Nuruddin Ar-Raniri di Aceh, yang memberikan warna baru pada peta sejarah Islam karena memperlihatkan sisi tradisionalis dari sosok Ar-Raniri yang selama ini sering dicap kaku oleh para orientalis Barat. Transmisi keilmuan inilah yang membuktikan bahwa model keislaman yang dibawa Syekh Yusuf mengintegrasikan pemikiran Islam yang sudah lebih dahulu matang dan mapan di kawasan Sumatra dan Jawa.

Farid Saenong juga menguraikan sebuah analisis kritis mengenai historiografia Islam di Sulawesi Selatan, di mana terdapat kekosongan narasi ulama besar selama hampir dua abad antara era Syekh Yusuf pada abad ke-17 dengan kemunculan Kiai Haji As’ad pendiri As’adiyah pada abad ke-20. Guna mempermudah pemahaman peserta, Farid Saenong menganalogikan posisi KH As’ad di Sulawesi Selatan setara dengan KH Hasyim Asy’ari di Jawa, namun memiliki karakter intelektual yang berbeda karena KH As’ad lahir dan belajar langsung di benteng tradisionalis Madrasah Darul Falah dan Saulatiyah Mekah saat arus politik Wahabi sedang kuat. Sementara itu, Syekh Yusuf justru memiliki keunikan karena memilih bumi Banten sebagai panggung utama pengabdiannya, bukan kembali ke Sulawesi Selatan.

Realitas sejarah tersebut membawa Farid Saenong pada sebuah kesimpulan bahwa secara lokus kontribusi dan pengabdian, Syekh Yusuf merupakan milik peradaban Banten. Pengaruh kuat ajaran tasawuf sang ulama menyebar ke Sulawesi Selatan justru melalui murid-muridnya yang dikirim pulang, seperti Abdul Fattah dari Rappang, yang rekam jejaknya ditulis oleh peneliti Barat, Thomas Gibson. Farid Saenong menilai posisi masa lalu Banten sebagai intellectual and maritime hub di Samudra Hindia terbukti mampu memfasilitasi gerakan intelektual sekaligus aliansi militer strategis yang kuat antara Syekh Yusuf dan Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan penindasan VOC Belanda, yang berujung pada pengasingan sang ulama ke Afrika Selatan.

Di akhir pemaparannya, Farid Saenong menyampaikan komitmen besar Kementerian Agama RI yang kini tengah gencar mendorong figur Syekh Yusuf sebagai warisan dunia (world heritage). Langkah strategis ini merupakan bagian dari pengejawantahan misi internasionalisasi Islam Indonesia yang diamanatkan langsung oleh Presiden kepada Menteri Agama. Farid Saenong menegaskan bahwa peninggalan Syekh Yusuf sudah sangat mapan, sehingga kampus seperti UIN Banten hanya perlu mengemasnya secara serius ke dalam kurikulum berbasis cinta maupun ekoteologi untuk diperkenalkan ke kancah global.

Melalui semangat gagasan de-centering, Farid Saenong optimis bahwa Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menarik minat mahasiswa asing berskala besar guna belajar mengenai moderasi beragama dan studi Islam. Farid Saenong meyakini bahwa dalam jangka panjang, para lulusan internasional tersebut akan membawa model Islam Indonesia ke negara masing-masing sebagai rujukan ideal, terutama dalam membuktikan keberhasilan bangsa Indonesia mengawinkan nilai-nilai luhur agama Islam dengan sistem demokrasi modern secara damai, selaras, dan tanpa pertumpahan darah.


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323