HumasUIN – Bagi Iffan Ahmad Gufron, ruang kelas bukanlah hal baru. Sehari-hari, ia mengabdikan diri sebagai dosen di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Namun suasana berbeda ia rasakan ketika mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026.
Diklat kali ini, menurut Iffan, menghadirkan perubahan signifikan. Tidak lagi sekadar bimbingan teknis, pelatihan dirancang dengan pendekatan pendidikan dan pelatihan model semi-militer.
“Yang paling terasa adalah perubahan paradigma. Ini bukan sekadar bimtek, tapi benar-benar pendidikan dan pelatihan yang membentuk karakter,” ungkapnya.
Perubahan itu tercermin dari durasi pelatihan yang lebih panjang serta materi yang tidak hanya menekankan aspek teknis operasional. Kedisiplinan, kebersamaan, dan kemampuan bekerja dalam tim menjadi nilai utama yang ditanamkan kepada para peserta.
“Waktunya lebih lama, dan fokusnya bukan cuma soal teknis. Ada pembiasaan disiplin dan rasa kebersamaan. Itu penting, karena di lapangan nanti kita bekerja dalam tekanan dan kondisi yang tidak ringan,” jelasnya.
Sebagai akademisi, Iffan menilai materi yang diberikan sudah relevan dengan kebutuhan petugas haji. Meski demikian, ia melihat masih ada ruang untuk penguatan, terutama pada pendekatan berbasis kasus nyata di lapangan.
“Materinya relate dengan tugas petugas. Tapi akan lebih kuat kalau diperbanyak studi kasus dan realitas di lapangan,” ujarnya.
Ia mencontohkan materi tentang larangan penggunaan media sosial bagi petugas haji. Menurutnya, akan lebih efektif jika disertai contoh konkret.
“Misalnya, larangan medsos itu dijelaskan lebih detail: larangan apa saja, contoh kasusnya seperti apa. Jadi petugas benar-benar paham batasannya,” tambah Iffan.
Dari sekian materi, ada satu yang paling menarik perhatiannya: Bahasa Arab. Ia menilai penguatan bahasa Arab menjadi bekal penting bagi petugas haji, terutama untuk komunikasi langsung dengan otoritas Arab Saudi dan jemaah.
“Bahasa Arab ini sangat bagus. Sangat membantu komunikasi petugas saat bertugas nanti,” katanya.
Secara umum, Iffan menilai Diklat PPIH Arab Saudi 2026 sudah berjalan dengan baik dan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menyiapkan petugas haji yang profesional, disiplin, dan siap menghadapi tantangan di Tanah Suci.
“Secara keseluruhan sudah baik. Tinggal penyempurnaan di beberapa aspek agar petugas semakin siap menghadapi kondisi nyata di lapangan,” tandasnya.