HumasUIN – Upaya mematangkan pelaksanaan program KKN Nusantara 2026 terus dilakukan. Para panitia bersama kepala pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) se-Indonesia, didampingi jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, melakukan visitasi sekaligus pemetaan sosial di Kecamatan Leuwidamar, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan lokasi pengabdian mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sebelum program resmi digelar pada pertengahan tahun mendatang.
Agenda tersebut dipimpin langsung oleh Dr. Nur Kafid, Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Litapdimas) Diktis Kementerian Agama RI. Dalam sambutannya, Nur Kafid menegaskan bahwa isu strategis yang tengah menjadi perhatian Kementerian Agama, terutama terkait ekoteologi dan pelestarian lingkungan, dinilai sangat relevan untuk diterapkan di wilayah Leuwidamar. Menurut dia, kawasan tersebut memiliki karakter sosial dan ekologis yang kuat karena selain dikelilingi hutan yang masih terjaga, wilayah ini juga menjadi ruang hidup masyarakat adat Suku Baduy yang hingga kini konsisten menjaga tradisi dan kearifan lokal.
“Mahasiswa yang datang ke sini nantinya bukan hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga belajar secara langsung bagaimana masyarakat menjaga harmoni dengan alam, merawat lingkungan, sekaligus mempertahankan identitas budaya,” ujar Nur Kafid.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Agung Nugraha, Camat Leuwidamar. Dalam sambutannya, Agung menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya sebagai salah satu lokasi pelaksanaan KKN Nusantara tahun ini. Ia menuturkan, Leuwidamar merupakan kawasan yang memiliki sejarah panjang dan keunikan tersendiri. Pada rentang 1828 hingga 1842, wilayah tersebut bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Lebak, yang jejak sejarahnya masih dapat ditemukan melalui sisa-sisa bangunan bergaya kolonial Belanda.
Selain nilai historis, kata Agung, Leuwidamar juga memiliki kekayaan alam yang masih terjaga dan budaya masyarakat adat yang tetap lestari. Menurut dia, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan wisata berbasis sejarah, budaya, dan lingkungan. Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait kesadaran pengelolaan sampah dan persoalan pendidikan.
“Masih ada anak-anak usia sekolah di beberapa wilayah yang putus pendidikan. Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah diharapkan dapat memberi motivasi dan membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi masa depan,” katanya.
Usai agenda penyambutan, para peserta melanjutkan kegiatan dengan pemetaan sosial di wilayah Kampung Ciboleger dan Kaduketug yang berada di kawasan Baduy Luar. Kegiatan tersebut dipandu oleh Medi, Sekretaris Desa Kanekes yang sebelumnya merupakan bagian dari komunitas Baduy. Dalam pemaparannya, Medi menjelaskan bahwa jumlah warga Baduy saat ini mencapai sekitar 5.300 jiwa yang menempati wilayah seluas kurang lebih 5.537 hektar, tersebar di 68 kampung.
Ia menjelaskan, masyarakat Baduy memiliki sistem kehidupan yang khas dan berbeda dengan komunitas lain pada umumnya. Dalam tradisi mereka, pendidikan formal belum menjadi bagian dari sistem sosial yang dijalankan. Khusus di wilayah Baduy Dalam, mobilitas masyarakat pun masih sepenuhnya dilakukan dengan berjalan kaki, sementara layanan kesehatan lebih banyak mengandalkan pengobatan tradisional.
Namun demikian, Medi menegaskan bahwa masyarakat Baduy memiliki komitmen tinggi dalam menjaga keseimbangan alam, sebab kehidupan mereka sepenuhnya bertumpu pada kelestarian lingkungan sekitar.
Kegiatan visitasi dan pemetaan sosial tersebut berlangsung selama satu hari penuh. Setelah seluruh rangkaian lapangan selesai, para peserta melanjutkan rapat koordinasi guna mematangkan desain program KKN Nusantara 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Juli hingga 23 Agustus 2026.
Dengan persiapan yang semakin matang, Leuwidamar diharapkan tidak hanya menjadi lokasi pengabdian, tetapi juga laboratorium sosial, budaya, dan lingkungan bagi mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia.