Studi Humaniora di Tengah Dentuman Teknologi Perang

HumasUIN – Fragmentasi dalam penguatan studi dan riset teknologi, sains, dan medis di era sekarang sering melahirkan kesan bahwa ilmu humaniora semakin kehilangan relevansinya. Perguruan tinggi dan lembaga riset di berbagai negara berlomba memperkuat bidang kecerdasan buatan, teknologi militer, bioteknologi, hingga sistem keamanan siber. Dalam arus kompetisi global tersebut, humaniora kerap dipersepsikan sebagai disiplin yang kurang strategis dalam menghadapi tantangan geopolitik kontemporer.

Pandangan tersebut semakin menguat ketika konflik geopolitik modern tampak didominasi oleh kecanggihan teknologi. Negara-negara besar mengukur kekuatan mereka melalui kemampuan pengembangan drone tempur, rudal hipersonik, sistem pertahanan udara, serta jaringan satelit militer. Dalam logika politik global yang semakin teknokratis, kemenangan atau kekalahan dalam konflik sering dipahami sebagai persoalan keunggulan teknologi semata.

Eskalasi konflik yang melibatkan Iran versus Israel, dan Amerika Serikat serta konflik Ukraina-Rusia memperlihatkan dengan jelas dominasi perspektif teknologi tersebut. Pertukaran serangan drone dan rudal jarak jauh menjadi simbol fase baru perang modern. Operasi militer tidak lagi selalu bergantung pada mobilisasi pasukan besar, melainkan pada sistem persenjataan presisi yang dapat diluncurkan dari jarak ribuan kilometer.

Perkembangan mutakhir bahkan menunjukkan bahwa perang modern semakin menyerupai kompetisi efisiensi teknologi. Drone murah yang diproduksi secara massal mampu menekan sistem pertahanan udara yang jauh lebih mahal. Dalam logika ini, konflik tidak hanya menjadi soal kekuatan militer, tetapi juga persoalan kapasitas industri, inovasi teknologi, dan ketahanan ekonomi suatu negara.

Namun, jika konflik geopolitik hanya dipahami sebagai perlombaan teknologi militer, analisis tersebut menjadi terlalu menyederhanakan persoalan. Konflik antarnegara selalu melibatkan manusia dengan seluruh kompleksitas sejarah, identitas, ideologi, dan pengalaman kolektif yang membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Teknologi mungkin menjadi alat, tetapi akar konflik tetap berada dalam ranah sosial dan kultural.

Hubungan Iran dan Israel, misalnya, tidak dapat dipahami hanya melalui kalkulasi militer. Permusuhan keduanya dipengaruhi oleh sejarah panjang rivalitas politik kawasan, perbedaan ideologi, serta narasi identitas yang berkembang sejak perubahan politik Iran pada akhir 1970-an. Tanpa memahami dimensi historis dan ideologis tersebut, analisis konflik menjadi kehilangan konteks yang mendasar.

Di sinilah studi humaniora memiliki peran penting yang tidak tergantikan. Humaniora membantu menjelaskan bagaimana memori sejarah, simbol politik, dan identitas budaya memengaruhi sikap suatu bangsa terhadap konflik. Kajian sejarah, filsafat politik, dan antropologi memberikan kerangka analisis untuk memahami mengapa suatu konflik dapat berlangsung begitu lama dan sulit diselesaikan.

Humaniora juga berperan dalam membaca dinamika narasi dan propaganda yang semakin dominan dalam konflik modern. Pertempuran tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga di ruang informasi digital. Narasi politik, propaganda media, dan opini publik global menjadi bagian dari strategi geopolitik yang memengaruhi legitimasi suatu negara.

Dalam konteks ini, kajian komunikasi dan budaya menjadi semakin relevan. Media sosial, algoritma digital, dan jaringan informasi global membentuk persepsi publik tentang konflik internasional. Cara suatu konflik dipersepsikan sering kali memengaruhi dukungan internasional, tekanan diplomatik, bahkan arah kebijakan luar negeri suatu negara.

Selain itu, humaniora memainkan peran penting dalam merumuskan kerangka etika bagi perkembangan teknologi militer. Kemajuan kecerdasan buatan dalam sistem persenjataan menimbulkan pertanyaan serius mengenai batas moral penggunaan teknologi, tanggung jawab dalam peperangan, serta perlindungan terhadap warga sipil. Tanpa refleksi etis yang kuat, teknologi dapat berkembang tanpa kendali nilai kemanusiaan.

Peran humaniora juga menjadi krusial dalam proses rekonsiliasi pascakonflik. Setelah perang mereda, masyarakat yang terlibat sering kali menghadapi trauma kolektif, polarisasi sosial, dan ketidakpercayaan yang mendalam. Pendekatan humaniora melalui dialog budaya, pendidikan sejarah yang reflektif, serta ekspresi seni dapat membantu membangun kembali kepercayaan sosial yang rusak akibat konflik.

Ke depan, tantangan terbesar bagi humaniora adalah keluar dari isolasi disipliner. Kolaborasi dengan ilmu sains dan teknologi menjadi semakin penting agar analisis terhadap konflik global tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mempertimbangkan dimensi sosial, budaya, dan etika yang menyertainya.

Perguruan tinggi dan lembaga riset perlu mendorong integrasi antara kajian teknologi dan humaniora. Pendekatan lintas disiplin dapat melahirkan perspektif baru dalam memahami dinamika geopolitik yang semakin kompleks di era digital.

Pada akhirnya, di tengah dentuman teknologi perang dan persaingan geopolitik global, humaniora tetap memiliki peran strategis. Jika sains dan teknologi menjelaskan bagaimana konflik dilakukan, maka humaniora membantu menjawab mengapa konflik terjadi dan bagaimana perdamaian dapat dibangun. Tanpa pemahaman tentang manusia dan kemanusiaan, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu membawa dunia menuju stabilitas yang berkelanjutan.

M. Ishom El Saha (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323