HumasUIN – Dalam upaya memperkuat literasi dan memperdalam pemahaman akademik mahasiswa, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Perpustakaan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar kajian literasi keagamaan dan sosial. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (20/05/2026) ini diisi dengan membedah buku berjudul “Ngopilsafat: Khazanah Filsafat Islam Klasik dan Kejayaan Bangsa: Pengalaman Iran dan Indonesia”. Acara tersebut dilaksanakan di Perpustakaan BI Corner, Kampus 1 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dengan menghadirkan Ahmad Fadli, Lc., M.Hum., sebagai narasumber utama.
Kepala Perpustakaan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dr. Muhammad Shoheh, M.A., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini. Muhammad Shoheh menjelaskan bahwa kajian ini merupakan ruang silaturahmi sekaligus sarana penting dalam membedah karya ilmiah untuk memperluas cakrawala pengetahuan civitas akademika.
Muhammad Shoheh mengungkapkan bahwa sejak awal kepemimpinannya, ia melihat adanya fasilitas pojok baca atau sudut literasi yang jarang dimanfaatkan dengan optimal. Oleh karena itu, melalui momentum kajian ini, pihak perpustakaan berkomitmen untuk terus menghidupkan budaya literasi pada bulan-bulan mendatang, baik melalui bedah karya dosen maupun agenda akademik lainnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi mengaktifkan kembali aktivitas ilmiah di Kampus 1 yang sempat terasa sepi setelah mayoritas perkuliahan terpusat di Kampus 2. Ia bersyukur karena saat ini salah satu fakultas telah kembali beraktivitas di Kampus 1, yang diharapkan dapat memicu kembali keramaian dan dinamika akademik di lingkungan tersebut.

Lebih lanjut, Muhammad Shoheh juga merefleksikan keberhasilan pameran literasi tahun lalu yang bekerja sama dengan penerbit besar. Meski persiapannya sangat singkat dan belum mencapai target kuantitatif secara maksimal karena keterbatasan waktu, acara tersebut dinilai sukses memikat antusiasme pengunjung melalui tema-tema yang menarik. Menyadari bahwa penyelenggaraan pameran berskala besar memerlukan biaya yang tidak sedikit serta persiapan yang matang, ia memproyeksikan program-program ke depan akan dikemas dalam format yang lebih ringan namun tetap konsisten. Kajian filsafat yang dikemas santai sembari menikmati kopi menjadi salah satu contoh inovasi agar materi yang terkesan berat tetap dapat dinikmati mahasiswa tanpa mengganggu jalannya perkuliahan. Terlebih, fasilitas live streaming kini telah disiapkan agar para dosen dan pegawai yang berada di ruangan kerja atau di rumah tetap bisa mengikuti jalannya kajian.
Memasuki sesi inti, Ahmad Fadli, Lc., M.Hum., memaparkan materi bedah buku dengan menekankan pentingnya menumbuhkan kembali kecintaan terhadap buku di tengah generasi Z. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mulai meramaikan perpustakaan kembali. Di era digital saat ini, Ahmad Fadli menilai keberadaan teknologi kecerdasan buatan (AI) seharusnya menjadi katalisator yang mempermudah pemustaka dalam mengakses dan memahami literatur klasik, seperti buku-buku berbahasa Arab. Meskipun teknologi mampu menerjemahkan silabus dan naskah kuno berformat digital dengan sangat baik, ia menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing secara mandiri tetap menjadi hal yang krusial bagi seorang akademisi.

Dalam pemaparannya, Ahmad Fadli mengisahkan sejumlah tokoh besar klasik yang mendedikasikan hidupnya demi ilmu pengetahuan, seperti Al-Jahiz yang abadi karena karya-karyanya meski memiliki keterbatasan fisik, serta Ibnu Nadim, seorang katalogis ulung yang menyusun kitab Al-Fihris. Ia juga menceritakan kisah humoris sekaligus filosofis mengenai Al-Kindi dan Al-Mubashir bin Fatih untuk menggambarkan bagaimana para pemikir zaman dahulu menganggap buku sebagai prioritas utama dalam hidup mereka, bahkan melebihi kecintaan terhadap hal-hal bersifat duniawi.
Menghubungkan khazanah Filsafat Islam Klasik dengan kejayaan bangsa, khususnya berkaca pada pengalaman di Iran dan Indonesia, Ahmad Fadli menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak pernah berangkat dari titik nol. Peradaban Islam pada masa Daulah Abbasiyah mampu mencapai masa keemasan melalui institusi Baitul Hikmah karena mereka melakukan penerjemahan massal terhadap karya-karya filosofis dari Yunani, Persia, dan India, untuk kemudian dikembangkan lebih jauh. Tokoh seperti Ibnu Rusyd bahkan diakui dunia sebagai komentator terbesar karena kemampuannya mengulas pemikiran Aristoteles dalam berbagai tingkatan pemahaman.

Ahmad Fadli menegaskan bahwa tanpa adanya proses penerjemahan naskah asing sekalipun, Islam secara inheren memiliki dorongan kuat terhadap pemberdayaan akal melalui teks Al-Qur’an dan Hadis. Kata akal disebutkan sebanyak 49 kali dalam Al-Qur’an, yang seluruhnya merujuk pada pujian bagi mereka yang mengoptimalkan fungsi berpikir. Ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan teks agama tanpa keterlibatan akal sehat sering kali melahirkan pemahaman yang tidak kontekstual. Dengan mengkolaborasikan dua elemen utama, yaitu sayap akal dan sayap wahyu, umat Islam dinilai akan lebih mudah mendarat pada kebenaran yang hakiki dan kontekstual.