Humas UIN – Pusat Studi Gender Anak dan Difabel (PSGAD) LP2M UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten bersinergi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN SMH Banten dan PPKS Untirta menyelenggarakan kegiatan Literasi Pencegahan Pelecehan Seksual dan Kekerasan pada Kamis, (30/04/2026).
Kegiatan ini bertujuan membekali sivitas akademika dalam mencegah praktik kekerasan seksual, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. Acara ini dihadiri oleh Rektor, Kepala Biro AAKK, Ketua DWP, serta jajaran Wakil Dekan. Materi utama disampaikan oleh Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPKS), Muhammad Uut Lutfi, S.H., M.H.
Ketua PSGAD UIN SMH Banten, Dr. Hj. Eneng Muslihah, Ph.D., menekankan bahwa isu kekerasan seksual adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan sinergi seluruh unsur kampus. Ia menyebutkan bahwa peserta terdiri dari perwakilan duta universitas, fakultas, organisasi mahasiswa (Ormawa), dosen, hingga anggota DWP.

“Tema ‘Membangun Komitmen Bersama Lawan Kekerasan Seksual: Wujudkan Kampus Aman dan Nyaman’ merupakan seruan moral bahwa tidak boleh ada ruang sedikit pun bagi kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi,” ujar Eneng Muslihah.
Ia menambahkan bahwa kampus harus menjadi ruang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan. Kekerasan seksual, menurutnya, tidak boleh dianggap sepele atau ditutup-tutupi. Pencegahan harus dilakukan melalui edukasi, keberpihakan pada korban, serta sistem perlindungan yang jelas.
“Mahasiswa bukan hanya objek kebijakan, melainkan subjek penting sebagai agen perubahan untuk menciptakan budaya kampus yang sehat dan berani menyuarakan keadilan,” tegasnya.
Ketua DWP UIN SMH Banten, Hj. Siti Zahratul Janah Muhammad Ishom, menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menghadapi ancaman kekerasan seksual yang tidak mengenal usia maupun latar belakang. Ia menyatakan bahwa literasi adalah kunci agar orang tua mampu menjadi pelindung bagi anak-anak mereka.

Siti Zahratul Janah berharap peserta dapat membawa pulang tiga poin utama dari kegiatan ini: ilmu mengenai bentuk-bentuk kekerasan dan payung hukumnya, keberanian untuk melapor serta mendampingi korban, dan kepedulian untuk saling menjaga.
“Mari kita jadikan rumah dan kampus sebagai ruang yang aman, nyaman, dan berdaya. Cegah kekerasan seksual secara bersama-sama dimulai dari lingkungan terdekat kita,” ajak Ketua DWP.
Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., dalam arahannya menegaskan bahwa Islam sangat memuliakan perempuan dan anak. Ia mengutip filosofi bahwa perempuan adalah tiang negara yang kualitasnya menentukan masa depan bangsa.

Namun, Rektor memberikan catatan kritis mengenai posisi Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura dalam hal keramahan terhadap anak dan perempuan. Ia juga menyoroti fenomena kekerasan verbal yang sering kali dianggap remeh atau “abu-abu” oleh masyarakat kampus.
“Banyak yang belum memahami bahwa komentar fisik atau godaan lisan tertentu termasuk dalam kekerasan seksual verbal. Kami sedang mempersiapkan media sosialisasi bersama tim Humas untuk mengedukasi jenis-jenis perkataan yang masuk kategori kekerasan,” ungkap Muhammad Ishom.
Sebagai langkah preventif, Rektor juga menginstruksikan pemeriksaan fasilitas umum kampus untuk memastikan keamanan privasi seluruh sivitas akademika. “Dukungan pimpinan adalah energi untuk membangun budaya akademik yang sehat. Kita ingin menciptakan kampus yang ramah dan inklusif bagi semua,” pungkasnya.

Acara literasi ini dilanjutkan pemamaparan materi oleh Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPKS), Muhammad Uut Lutfi, S.H., M.H. dan Tandatangan komitmen bersama yang diawali oleh Rektor UIN SMH Banten lalau dilanjutkan kepada semua peserta dan panitia.
