Tujuh Sahabat Berpengaruh dalam Hijrah Rasulullah SAW

HumasUIN – Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah memberikan pelajaran berharga untuk kita seputar kolaborasi dan pembagian peran. Hijrah bukan hanya petunjuk wahyu, akan tetapi juga membangun strategi dengan melibatkan pikiran dan Tenaha manusia. Keberhasilan hijrah tidak terlepas dari peran kolaboratif para sahabat yang dengan penuh keimanan, keberanian, dan pengorbanan membantu Rasulullah SAW Ada tujuh tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam mendukung dan menyukseskan hijrah.

Tokoh pertama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia merupakan sahabat terdekat Rasulullah SAW yang mendapat kehormatan menemani beliau selama perjalanan hijrah menuju Madinah. Ketika kaum Quraisy berusaha menangkap Rasulullah SAW, Abu Bakar mendampingi beliau bersembunyi di Gua Tsur selama beberapa hari. Ia juga menyiapkan berbagai kebutuhan perjalanan, termasuk kendaraan dan bekal. Kesetiaan serta keberaniannya menjadi bukti kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah SAW dan perjuangan Islam.

Tokoh kedua adalah Ali bin Abi Thalib. Perannya dalam hijrah sangat penting dan penuh risiko. Pada malam ketika kaum Quraisy mengepung rumah Rasulullah SAW dengan niat membunuh beliau, Ali rela tidur di tempat tidur Rasulullah SAW untuk mengelabui para pengepung. Tindakan tersebut mempertaruhkan nyawanya sendiri demi keselamatan Nabi. Setelah Rasulullah SAW berhasil meninggalkan Makkah, Ali juga menyelesaikan amanah dengan mengembalikan barang-barang titipan masyarakat yang sebelumnya dipercayakan kepada Rasulullah SAW.

Tokoh ketiga adalah Abdullah bin Abu Bakar. Dalam berbagai riwayat sejarah, ia berperan sebagai pengumpul informasi selama masa persembunyian Rasulullah SAW dan Abu Bakar di Gua Tsur. Pada siang hari, Abdurrahman membaur dengan masyarakat Makkah untuk mengetahui berbagai rencana dan pembicaraan kaum Quraisy. Pada malam hari, ia menyampaikan informasi tersebut kepada Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Peran ini sangat membantu dalam menentukan langkah yang aman selama proses hijrah.

Tokoh keempat adalah Mushab bin Umair. Jauh sebelum hijrah berlangsung, ia telah berperan mempersiapkan Madinah sebagai tempat berkembangnya Islam. Setelah Baiat Aqabah pertama, Rasulullah SAW mengutus Mushab ke Yatsrib untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Dengan kebijaksanaan dan kemampuan berdakwah yang luar biasa, Mushab berhasil mengajak banyak tokoh berpengaruh Madinah memeluk Islam. Keberhasilannya membuat Madinah menjadi lingkungan yang siap menerima kedatangan Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin.

Tokoh kelima adalah Asma binti Abu Bakar. Putri Abu Bakar ini memiliki jasa besar dalam penyediaan logistik selama masa persembunyian di Gua Tsur. Ia secara diam-diam mengantarkan makanan dan kebutuhan lainnya kepada Rasulullah SAW dan ayahnya. Ketika tidak menemukan tali untuk mengikat bekal, Asma membelah ikat pinggangnya menjadi dua bagian. Karena peristiwa itu, ia mendapat julukan Dzatun Nithaqain atau pemilik dua ikat pinggang. Keberaniannya menunjukkan besarnya pengorbanan perempuan Muslim dalam perjuangan Islam.

Tokoh keenam adalah Amir bin Fuhairah, seorang sahabat yang dahulu merupakan budak Abu Bakar. Ia membantu menyamarkan jejak perjalanan Rasulullah SAW dan Abu Bakar dengan menggembalakan kambing di jalur yang dilalui para pembawa informasi dan bekal. Selain itu, susu dari ternaknya menjadi tambahan makanan selama masa persembunyian. Peran yang tampak sederhana ini sangat penting dalam menjaga kerahasiaan lokasi Rasulullah SAW.

Tokoh ketujuh adalah Abdullah bin Uraiqith. Meskipun saat itu belum memeluk Islam, ia dikenal sebagai penunjuk jalan yang jujur dan terpercaya. Rasulullah SAW dan Abu Bakar menyewanya untuk memandu perjalanan menuju Madinah melalui jalur yang jarang digunakan. Keahliannya mengenal rute-rute padang pasir membantu rombongan hijrah menghindari kejaran kaum Quraisy dan mencapai tujuan dengan selamat.

Kisah ketujuh tokoh tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan hijrah Rasulullah SAW merupakan hasil kerja sama berbagai pihak yang memberikan kontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Dari mereka, umat Islam dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya keberanian, kesetiaan, amanah, kecerdasan, dan pengorbanan dalam menegakkan kebenaran. Hijrah menjadi bukti bahwa perjuangan besar akan berhasil ketika dilakukan dengan keimanan yang kuat dan dukungan dari orang-orang yang tulus berjuang di jalan Allah SWT.

Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A (Rektor UIN SMH Banten)


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323