Menteri Agama RI : Indonesia Sudah Dekat Menjadi Episentrum Peradaban Islam

HumasUIN – Menteri Agama R.I., Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menyatakan, Indonesia sudah lebih dekat untuk dinyatakan sebagai episentrum peradaban Islam dunia. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan dunia terhadap salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN), UIN Syarif Hidayatullah, pada kajian Islamic Studies, masuk pada level 29 dunia. Dibandingkan dengan kajian-kajian lain yang kian terseok-seok mengejar perkembangan keilmuan di perguruan tinggi luar negeri, Islamic Studies tinggal beberapa langkah lagi.

“Melihat perkembangan geopolitik dunia pada hari ini, Indonesia memiliki potensi khusus yang lebih dekat menuju puncak. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta berhasil menempati peringkat 29 dunia dalam bidang Theology, Divinity & Religious Studies pada pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026,” ungkap Nasaruddin memberi sambutan penutupan dan pengukuhan pengurus pada Pertemuan Nasional IKA PTKIN Indonesia, (24/04/2026), di Jakarta.

Optimisme terhadap Indonesia sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan agama dunia merupakan alasan penting namun perlu didorong bersama dengan kolaborasi, konsolidasi agar bisa berkontribusi untuk ummat dan dunia.

“Sesungguhnya, kita memang patut gelisah. Sebagai penduduk terpadat kelima di dunia, di dominasi umat Islam, tak ada yang memenangkan hadiah nobel. What wrong. Tentu ada strategi nasional yang belum tersingkap. IKA PTKIN harus ikut memberi sumbang saran soal ini,” ujar Imam Besar Masjid Istiqlal ini di hadapan para pengurus IKA PTKIN yang baru terbentuk.

IKA PTKIN wadah baru, entitas yang mengumpulkan seluruh ketua Iluni dari 59 PTKIN. Nasaruddi mengharapkan agar tokoh-tokoh alumni mampu membicarakan, menggali, mencari, berbagai potensi umat agar bisa memberi kontribusi nyata untuk bangsa.

“Tokoh-tokoh alumni harus membicarakan ini, geopolitik, geo-emosional, geo-intelektual dan geo-spiritual. Beri masukan kepada rektor yang asyik sendiri dengan tugas beratnya di kampus. Dan perubahan dan perkembangan teknologi memaksa kita berpikir ulang tentang defenisi kampus yang dulu sebagai tempat mencari ilmu. Jangan-jangan kini, sudah bergeser. Apalagi jika dosennya belum berubah, mungkin masih dictator, mungkin juga tidak mengembangkan diri sementara zaman terus berubah,” ungkapnya di hadapan segenap jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama R.I, para rektor dan para pengurus alumni dari masing-masing PTKIN.

Dunia terus berubah cepat dan kampus mesti berubah. Para alumni punya tanggung jawab memberi masukan, bermitra sebab alumni adalah cermin mutu dari almamaternya. Jika alumninya tidak ada kejutan kemajuan, berarti perguruan tingginya perlu diperiksa kembali. Alumni mesti membangun konektivtas dengan kampus, alumni harus punya hubungan emosional.

“Alumni UIN seluruh Indonesia merupakan potensi sangat strategis untuk membuat sesuatu yang besar. Kalau hanya kerja dengan per UIN, itu hanya kerja lokal saja. Kalau bersinergi, ada kemungkinan menjadi pusat gerakan peradaban,” jelasnya.

Nasarudin mengungkapkan keadaan geopolitik, yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Dimana di Jazirah Arab, seperti Syiria, Sudan, Libanon, bahkan Mesir, kian tidak kondusif keadaannya secara geopolitik. Maka Indonesia harus menyiapkan diri sebagai episentrum itu. Patut disadari, para intelektual muslim Indonesia masih punya kelemahan, salah satunya adalah dalam menulis, berkarya dan dalam Bahasa.

Ketua Umum IKA PTKIN Indonesia, Muhammad Idrus Marham dalam sambutannya menyatakan, lahirnya dari kesadaran kolektif dari para rektor dan ketua alumni di perguruan tinggi masing-masing untuk konsolitasi kekuatan ini. Inspirasinya dari Menteri Agama.

“Bersama, bersatu, kita kuat. Secara kolektif kolegial, organisasi ini akan bekerja menyelesaikan pedoman seperti AD/AR. Moment tahun baru Islam 1448 H, akan jadikan program kerja perdana IKA PTKIN,” ujarnya.

Menurut Idrus, IKA PTKIN akan melaksanakan kerja keumatan dan kebangsaan sehingga menjadi kekuatan yang selama ini tidak terperhatikan secara serius.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI., Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. melaporkan secara resmi terbentuknya pengurus IKA PTKIN Indonesia. Dimana dalam Pertemuan Nasional ini, terpilihnya ketua umum, Idrus Marham didampingi lima ketua, Dr. Ida Fauziah, M.SI; Dr. TB. Ace Hasan Syadzily; Prof. Dr. Amien Suyitno, M.Ag; H. Lukman Hakim, M.Si; Prof. Dr. Idrus Al Hamid, M.Si.

Sedang Ketua Harian, Dr. Ismail Cawidu, Staf Ahli Bidang Komunikasi Publik Menteri Agama R.I.

Adapun Sekretaris Umum IKA PTKIN, Prof. Dr.Phil. Sahiron, M.A., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama Republik Indonesia. Didampingi lima sekretaris, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag; Husni Mubarok; Syahril Jamil; Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, S.Ag; Dr. Amar Ahmad, M.Si.

Sedangkan bendahara umum, didapuk Ketua IKA Iluni UIN Sunan Gunung Jati Bandung, Drs. H. Cucu Sutara, M.M. Didampingi lima bendahara, Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag; Idy Muzayyad, M.Si; Mahyudin; Dr. Sidiq Sisdiyanto, M.Pd.


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323