HumasUIN – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar prosesi Wisuda Sarjana ke-42 dan Pascasarjana ke-28 yang berlangsung khidmat di Aula Kampus, Sabtu (11/04/2026). Dalam momentum bersejarah ini, UIN SMH Banten menghadirkan Prof. Dr. H. Andi Salman Maggalatung, SH., MH., untuk menyampaikan orasi ilmiah di hadapan para wisudawan dan tamu undangan.
Mengawali orasinya, Prof. Andi Salman menyampaikan bahwa wisuda kali ini memiliki keistimewaan tersendiri karena masih berada dalam suasana bulan Syawal 1447 H. Momentum ini hendaknya dijadikan wahana silaturahmi untuk saling memaafkan sebagai satu keluarga besar UIN SMH Banten.
“Wisuda hari ini bukan sekadar seremoni akademik belaka, melainkan sebuah momentum bersejarah yang menjadi saksi atas perjuangan panjang, pengorbanan, serta ketekunan saudara dalam menempuh pendidikan,” ujar Prof. Andi Salman.
Prof. Andi Salman mengingatkan para wisudawan bahwa di balik keberhasilan meraih gelar dan mengenakan toga, terdapat kekuatan doa yang luar biasa dari orang tua. Menurutnya, ada doa yang dipanjatkan di keheningan malam dan cucuran air mata di atas sajadah demi keberhasilan putra-putri mereka.
“Jadikan momentum hari ini sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada orang tua serta orang-orang yang ikut berjasa dalam pencapaian saudara hari ini,” tegasnya.
Sebagai lulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag), para alumni diajak untuk menjadikan agama sebagai perekat sosial. Prof. Andi Salman menekankan pentingnya meningkatkan kualitas kerukunan dan toleransi demi melahirkan harmoni serta memperkokoh persatuan bangsa di bawah bendera Merah Putih.
Ia juga memaparkan Program Prioritas Kemenag di bawah kepemimpinan Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA, yang dikenal dengan ASTA PROTAS KEMENAG BERDAMPAK. Salah satu poin utamanya adalah peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan.
“Dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Agama itu adalah imamnya negara. Oleh karena itu, Kemenag adalah benteng dan penjaga moral bangsa,” jelas Prof. Andi Salman.
Dalam orasinya, Prof. Andi Salman menekankan bahwa keragaman yang dimiliki Indonesia adalah anugerah sekaligus tantangan. Jika tidak dikelola dengan moderasi dan kerukunan yang kuat, perbedaan tersebut berpotensi memunculkan radikalisme dan konflik sosial.
Ia meluruskan persepsi keliru yang menganggap Moderasi Beragama (MB) sebagai upaya mengurangi ajaran agama. Sebaliknya, MB adalah melaksanakan ajaran agama secara bijak, baik, dan benar, serta menghargai perbedaan keyakinan.
“Bisa dibayangkan jika semua umat beragama bersikap ekstrem dan mau menang sendiri, negara ini akan kacau balau. KUB (Kerukunan Umat Beragama) dan MB hadir sebagai solusi untuk menciptakan kedamaian,” tambahnya.
Menutup orasi ilmiahnya, Prof. Andi Salman menyebutkan bahwa Indonesia kini menjadi rujukan dunia dalam hal toleransi. Keberhasilan bangsa melewati konflik masa lalu dan hadirnya simbol-simbol perdamaian—seperti Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral hingga momen keakraban antara Prof. Nasaruddin Umar dengan Paus Fransiskus—menjadi bukti nyata bahwa Indonesia layak menjadi contoh global.
Ia berharap keluarga besar UIN SMH Banten terus menjadi garda terdepan dalam mensosialisasikan pentingnya kerukunan demi kelancaran pembangunan dan kemajuan bangsa.