HumasUIN – Ma’had Al-Jamiah Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan karakter keilmuan mahasantri melalui seminar keislaman bertajuk “Menghidupkan Nilai Turats: Membangun Karakter Mahasantri di Era Society 5.0”. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Pusgiwa Kampus 2 UIN SMH Banten pada Senin (16/4), dan dihadiri ratusan mahasantri serta mahasiswa lintas fakultas.

Seminar dibuka secara resmi oleh Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. KH. Muhammad Ishom, M.A. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya mengintegrasikan khazanah keilmuan klasik Islam (turats) dengan perkembangan zaman yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital. Menurutnya, mahasantri tidak hanya dituntut adaptif terhadap perubahan, tetapi juga harus memiliki akar tradisi keilmuan yang kuat.
Lebih lanjut, Rektor juga mendorong para mahasantri untuk tidak berhenti pada proses belajar, tetapi mulai berkontribusi secara nyata melalui karya. Ia mengajak mahasantri untuk menulis buku, menyusun karya ilmiah, serta memproduksi konten edukatif dan informatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Dengan demikian, nilai-nilai turats tidak hanya dipelajari, tetapi juga disebarluaskan dalam format yang kontekstual dan mudah diakses.
Wakil Rektor III, Dr. Dedi Sunardi, M.H., mendorong mahasantri untuk terus mengasah kapasitas intelektual melalui tradisi literasi Islam yang mendalam sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan profesional di masa depan. Di samping itu, mahasantri juga didorong untuk cerdas dalam mengakses literatur primer melalui alat bantu seperti Maktabah Syamilah secara etis, serta mampu melakukan validasi akademik silang dengan mengintegrasikan penelusuran kitab kuning ke dalam database jurnal global.

Selain aspek teknis, Dr. Dedi Sunardi, M.H. juga memberikan peringatan mengenai ancaman pendangkalan intelektual di era digital. Beliau menyoroti fenomena “instanisme” di mana banyak mahasiswa kini lebih cenderung mengandalkan mesin pencari dan platform video sebagai rujukan utama dibandingkan mengkaji literatur primer.
Narasumber utama, Abdul Muiz Ashaf, S.Pd.I., M.Pd., dalam pemaparannya mengangkat semangat keilmuan ulama klasik yang penuh dedikasi. Ia menegaskan bahwa meskipun akses informasi saat ini semakin mudah dan cepat, struktur berpikir yang sistematis dalam turats tetap memiliki keunggulan yang tidak tergantikan.
“Ulama-ulama terdahulu menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menyusun disiplin ilmu secara terstruktur. Dalam kitab kuning, kita tidak hanya belajar agama, tetapi juga menemukan fondasi sains, teknologi, sosial, hingga sastra yang kompleks. Turats adalah bukti bahwa tradisi berpikir Islam sangat ilmiah dan tetap relevan di era modern,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Ma’had Al-Jamiah, Ahmad Muchlishon, M.A., memberikan analogi reflektif mengenai posisi turats dalam kehidupan intelektual mahasantri. Menurutnya, turats ibarat akar yang menghunjam kuat ke dalam tanah; “Ia mungkin tidak selalu tampak di permukaan, tetapi darinyalah tumbuh batang yang kokoh, cabang yang rindang, serta buah yang bermanfaat. Tanpa akar yang kuat, pohon peradaban akan mudah tumbang diterpa arus zaman.”
Ia menekankan bahwa di era Society 5.0, mahasantri harus mampu memadukan dunia turats dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, meski digitalisasi menawarkan peluang besar, tantangan terhadap karakter dan identitas keislaman juga semakin nyata. Oleh karena itu, mahasantri dituntut untuk tidak memilih salah satu, melainkan menyinergikan keduanya sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.
Acara yang dimoderatori oleh Indah Zakiah Putri berlangsung dinamis dan interaktif. Sejak awal, suasana telah mencair melalui pantun-pantun pembuka yang disambut hangat oleh peserta. Antusiasme terus terjaga hingga sesi diskusi, di mana para mahasantri aktif mengajukan pertanyaan kritis dan reflektif terkait relevansi turats di tengah era digital.
Kemeriahan seminar semakin terasa dengan berbagai penampilan bakat mahasantri putri. Di antaranya pembacaan Nadzom Adabut Thollab dan Nadzom Baiquni, pertunjukan musik gambus dan akustik, serta pembacaan puisi yang menggugah.
Melalui seminar ini, Ma’had Al-Jamiah UIN SMH Banten berharap para mahasantri tidak hanya memahami turats sebagai warisan intelektual, tetapi juga mampu menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan lahir generasi mahasantri yang unggul secara intelektual, tangguh menghadapi tantangan zaman, serta tetap berpijak pada tradisi keilmuan Islam yang otentik dan berkelanjutan.*