HumasUIN – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sukses menyelenggarakan prosesi Wisuda Sarjana ke-42 dan Pascasarjana ke-28 yang bertempat di Convention Hall pada Sabtu (11/04/2026). Sebanyak 750 wisudawan resmi menyandang gelar akademik.
Acara ini dihadiri langsung oleh Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Ketua MUI Provinsi Banten, serta Staf Ahli Gubernur Banten yang mewakili Pemerintah Provinsi. Kehadiran para tokoh ini memberikan legitimasi kuat terhadap kualitas lulusan UIN SMH Banten yang dipersiapkan untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa di berbagai sektor.
Dalam sambutannya, Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., memberikan pesan mendalam mengenai fase kehidupan setelah kampus. Rektor mengutip pemikiran ilmuwan muslim terkemuka, Ibnu Khaldun, dalam kitab Mukaddimah yang menjelaskan bahwa keahlian atau sina’ah merupakan keterampilan khusus yang memerlukan pengasahan terus-menerus.

Rektor menekankan bahwa apa yang diperoleh mahasiswa selama masa perkuliahan bukanlah akhir dari perjalanan intelektual, melainkan sebuah fondasi. Pembelajaran yang sesungguhnya baru dimulai ketika para alumni terjun langsung ke tengah masyarakat dan menghadapi dinamika sosial yang kompleks serta penuh tantangan.
Menanggapi isu mengenai keterserapan lulusan, Rektor memberikan dorongan optimisme bagi para wisudawan. Berdasarkan data, lulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki tingkat keterserapan lapangan kerja yang sangat kompetitif, bahkan seringkali mengungguli institusi pendidikan tinggi lainnya di berbagai bidang strategis.
Rektor juga menambahkan bahwa alumni UIN memiliki keunggulan komparatif karena dibekali dengan kemampuan spiritual dan intelektual sekaligus. Menurut Rektor, alumni PTKIN tidak hanya mampu mengelola urusan duniawi, tetapi juga menjadi penjaga moral dan nilai-nilai keagamaan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Banten, Zaenal Mutaqin, S.E., M.SE., M.Sc., Ph.D., yang hadir mewakili Gubernur Banten, menyampaikan bahwa wisuda adalah momen proklamasi kesiapan untuk mengabdi. Zaenal mengingatkan bahwa para lulusan tidak lulus di masa yang biasa-biasa saja, melainkan di tengah guncangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

Dalam perspektif teknologi, Zaenal menyoroti fenomena revolusi kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengubah lanskap berbagai profesi. Meskipun AI seperti Gemini atau Copilot menawarkan kemudahan luar biasa dalam karya ilmiah, ia menegaskan bahwa teknologi tersebut harus diposisikan sebagai “asisten”, bukan sebagai pengendali utama kreativitas manusia.
Ia juga mengajak para alumni untuk melihat potensi besar Provinsi Banten yang memiliki posisi geostrategis sejak zaman Kesultanan. Dengan aset berupa kawasan industri besar dan sumber energi listrik yang memasok 40% kebutuhan Jawa-Bali, Banten membutuhkan inovasi dari para sarjana baru untuk mendongkrak daya saing daerah.
Lebih lanjut, Zaenal mendorong para wisudawan untuk membawa perubahan hingga ke pelosok desa di wilayah Banten. Ia berharap ilmu yang didapatkan di UIN SMH Banten tidak hanya menumpuk di pusat kota, tetapi mampu memodernisasi sektor pertanian dan maritim guna mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh warga.
Puncak acara diisi dengan orasi ilmiah oleh Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Andi Salman Maggalatung, SH., MH. Mengangkat tema “ASTA PROTAS KEMENAG: Pilar Strategis Memperkuat Kerukunan Umat Beragama di Indonesia”, Prof. Andi memaparkan visi besar Kementerian Agama dalam menjaga stabilitas nasional melalui moderasi beragama.

Dalam orasinya, Prof. Andi menyatakan bahwa Kementerian Agama merupakan “Imamnya Negara” yang berfungsi sebagai benteng penjaga moral bangsa. Ia mengajak seluruh aparatur dan akademisi, termasuk para wisudawan, untuk menjadi teladan atau Uswatun Hasanah dalam mempraktikkan toleransi dan kasih sayang antar-sesama manusia.
Prof. Andi menjelaskan bahwa keragaman suku, agama, dan budaya di Indonesia adalah anugerah Tuhan yang harus dirawat dengan penuh kebijaksanaan. Tanpa pondasi kerukunan yang kuat, perbedaan tersebut berisiko menjadi konflik sosial, sehingga diperlukan penguatan nilai-nilai Pancasila dan konstitusi sebagai panduan hidup berbangsa.
Ia juga meluruskan persepsi keliru mengenai moderasi beragama, yang sering dianggap sebagai pengurangan ajaran agama. Sebaliknya, moderasi beragama berarti menjalankan agama secara bijak dan menghargai perbedaan keyakinan tanpa harus mengorbankan akidah masing-masing, demi menciptakan kedamaian dalam negara yang majemuk.
Di sisi lain, ada wisudawan terbaik di UIN SMH Banten di setiap Fakultas/Pacsasarjana:
-
Nurdin Rivaldy – Pascasarjana, MPI (S3), IPK 3,92.
-
Syahidul Ihya – Pascasarjana, MPI (S2), IPK 3,96.
-
Tubagus Miftahul Agnia Khoiron – FTK, PAI, IPK 3,84.
-
Alwina Nasta Sulaeman – FSY, HTN, IPK 3,81.
-
Dalilah Tausiyah – FUDA, SPI, IPK 3,83.
-
Dina Dzahabiyyati Ulumiah – FADA, PMI, IPK 3,90.
-
Darin Putri Syifa – FEBI, AS, IPK 3,77.
-
Siti Mulyani – FSA, Biologi, IPK 3,83.
Acara ditutup dengan harapan agar para lulusan UIN SMH Banten menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas moral. Sesuai dengan pesan penutup orasi, kecerdasan intelektual yang diraih harus dibarengi dengan integritas tinggi, sehingga para alumni tidak hanya sukses secara karier, tetapi juga mampu menjadi perekat persatuan bangsa.