Tsumamah bin Utsal: Sahabat yang Pertama Kali Lantang Baca Talbiyah

HumasUIN – “Labbaika Allahumma Labbaik” Kalimat ini nyaris tak putus-putus berkumandang sebab dibaca oleh tiap-tiap peziarah di Kota Suci Makkah. Sebagaimana kita ketahui bahwa mereka yang tengah ber-ihram baik untuk menunaikan ibadah umrah maupun haji sangat disunnahkan untuk ber-talbiyah dengan suara lantang.

Tahukah, siapa yang pertamakali membaca Tarbiyah dengan suara lantang? Apakah dia adalah utusan Allah SWT? Bukan! Ternyata orang yang pertama kali membaca Tarbiyah dengan suara lantang adalah Tsumamah bin Utsal, pemimpin Bani Hanifah dari Yamamah.

Beliau meminta ijin kepada Rasulullah untuk mengerjakan ibadah umrah: “Ya Rasulullah! Aku telah duduk di atas kendaran milikmu untuk berangkat ke Mekkah“. Lalu Rasulullah SAW mengijinkan.

Tsumamah pada saat memasuki kota Mekkah membaca Talbiyah dengan lantang, sampai orang-orang Quraisy menyangkanya sebagai suara Abu Sufyan. Namun ketika dilihat ternyata Tsumamah.

Apa kamu sudah pindah keyakinan?” Tanya orang orang Quraisy. Kemudian Tsumamah menjawab tanpa ragu: “Ya! Sekarang aku mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.”

Tsumamah pada awalnya dikenal sebagai salah satu tokoh Arab yang paling keras memusuhi Rasulullah SAW. Ia tidak hanya membenci Islam, tetapi juga aktif menghasut kaumnya untuk melawan dakwah Nabi.

Dalam sebuah ekspedisi yang dikirim Rasulullah SAW ke Najd, para sahabat berhasil menangkap Tsumamah dan membawanya ke Madinah. Ia kemudian diikat di salah satu tiang masjid agar dapat diawasi.

Namun, yang menarik bukanlah penangkapannya, melainkan bagaimana Rasulullah SAW memperlakukannya. Nabi tidak memerintahkan penyiksaan atau penghinaan terhadap musuh besar itu. Sebaliknya, beliau memerintahkan para sahabat untuk memperlakukannya dengan baik.

Setiap hari Rasulullah SAW mendatanginya dan bertanya dengan lembut, “Apa yang ada padamu wahai Tsumamah?

Jawaban Tsumamah selalu sama. Ia berkata, “Jika engkau membunuhku, engkau membunuh orang yang memiliki kedudukan. Jika engkau berbuat baik kepadaku, engkau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika engkau menginginkan harta, mintalah sebanyak yang engkau mau.”

Selama tiga hari Rasulullah SAW membiarkannya menyaksikan kehidupan kaum Muslimin dari dekat. Dari tempatnya di masjid, Tsumamah melihat akhlak para sahabat, mendengar lantunan Al-Qur’an, dan menyaksikan bagaimana Islam membentuk manusia penuh kasih sayang. Di sinilah hidayah itu bekerja, bukan dengan paksaan, tetapi dengan keteladanan.

Pada hari ketiga, Rasulullah SAW membuat keputusan yang mengejutkan semua orang. Beliau berkata kepada para sahabat, “Lepaskan Tsumamah.” Tidak ada tebusan, tidak ada syarat, dan tidak ada balas dendam.

Kebebasan yang diberikan dengan penuh kemuliaan itu mengguncang hati Tsumamah. Ia pergi mandi di sebuah kebun kurma dekat masjid, lalu kembali menemui Rasulullah SAW. Dengan suara mantap ia mengucapkan syahadat di hadapan kaum Muslimin.

Perkataan Tsumamah setelah masuk Islam menjadi salah satu pengakuan paling jujur dalam sejarah dakwah. Ia berkata, “Demi Allah, dahulu tidak ada wajah yang paling aku benci di muka bumi selain wajahmu. Namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Dahulu tidak ada agama yang paling aku benci selain agamamu, namun sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai.

Perubahan hati Tsumamah menunjukkan kekuatan tarbiyah Rasulullah. Nabi tidak menaklukkan manusia dengan pedang, melainkan dengan akhlak. Beliau memahami bahwa hati manusia dapat luluh oleh kasih sayang dan penghormatan.

Setelah memeluk Islam, Tsumamah tidak setengah-setengah dalam membela agama Allah. Ia menggunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk mendukung kaum Muslimin. Bahkan ia pernah memblokade pasokan gandum ke Makkah hingga kaum Quraisy mengalami kesulitan besar.

Namun ketika mereka meminta bantuan kepada Rasulullah SAW, Nabi justru memerintahkan Tsumamah untuk membuka kembali jalur makanan bagi mereka. Sekali lagi, Islam mengajarkan rahmat, bukan kebencian.

Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323