HumasUIN – Menghadapi tantangan zaman dan degradasi moral pada era digital, pondok pesantren dinilai menjadi benteng pertahanan terbaik untuk mendidik karakter generasi muda agar tidak sekadar cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Hal tersebut ditekankan oleh Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. KH. Muhammad Ishom, M.Ag., saat memberikan Orasi Ilmiah dalam acara Haflatul Wada 2026 di Pondok Pesantren Daar El-Nuur, Mandalawangi, Pandeglang, Minggu (28/06/2026).
Di hadapan ratusan wali santri dan wisudawan yang memadati lokasi acara, Prof. Ishom membagikan kiat penting bagi para orang tua mengenai cara mendidik anak agar menjadi saleh sekaligus betah selama menempuh studi di lingkungan pesantren.
Menurut Prof. Ishom, kenyamanan dan ketenangan seorang santri di dalam pondok ternyata sangat dipengaruhi oleh kesiapan mental dan suasana kebatinan orang tuanya, khususnya ibu. Ia menuturkan bahwa rasa cemas dan rindu yang terlalu berlebihan dari seorang ibu justru sering kali tersambung secara batin dan membuat anak menjadi kurang betah di pesantren.
“Sebetulnya kalau ibu-ibunya ikhlas melepas anaknya mondok, insya Allah anaknya akan betah di dalam pondok,” ungkap Prof. Ishom.
Prof. Ishom juga mengingatkan kepada orang tua untuk menjaga pikiran dari prasangka buruk jika mendengarkan keluhan anak mengenai hilangnya barang pribadi seperti sandal atau pakaian.
“Sebagai orang tua kita perlu menyikapinya dengan bijak, dibandingkan langsung menaruh curiga kepada santri lain, kita juga perlu memahami bahwa kelalaian saat menjemur pakaian di lantai atas yang kemudian terbang tertiup angin sering menjadi penyebab utamanya,” jelas Prof. Ishom.
Lebih lanjut, Ia menuturkan tugas terbesar orang tua setelah menyerahkan anak ke pesantren adalah fokus mengirimkan doa keselamatan dan kekuatan agar anak tenang dalam menuntut ilmu.
Selain mengulas faktor psikologis anak, Rektor UIN Banten juga menjabarkan 4 pilar utama ciri anak saleh yang harus ditanamkan dan dijaga erat oleh para santri demi membentengi diri dari pengaruh negatif lingkungan luar:
- Menjaga Tutur Kata yang Lembut: Mendidik anak agar selalu bertutur kata santun dan mampu memfilter diri dari istilah-istilah kasar yang marak menyebar di media sosial.
- Berbakti dan Konsisten Mendoakan Orang Tua: Menjadikan doa untuk kedua orang tua sebagai amalan rutin yang tidak pernah terputus di setiap selesai salat lima waktu.
- Menyayangi yang Muda dan Menghormati yang Tua: Menerapkan asas saling menghargai antarsesama santri dan melarang keras adanya tindakan perundungan (bullying) di lingkungan pondok pesantren.
- Menjaga dan Mengamalkan Ilmu: Senantiasa konsisten mempraktikkan ilmu agama serta mempertahankan hafalan Al-Qur’an yang telah diraih, berapapun jumlah juz yang dikuasai.
Di akhir orasinya, Prof. Ishom menyampaikan pesan pamungkas bahwa esensi dari kesuksesan menimba ilmu di pesantren terletak pada ketakziman dan rasa hormat yang tinggi kepada para guru dan kiai.
“Insya Allah, jika hubungan antara ustaz dan murid selalu terjaga dengan baik dan mendapatkan barokah kiai, ilmu yang bermanfaat itu akan mampu mengantarkan santri Daar El-Nuur menjadi pemimpin masa depan, baik sebagai rektor, gubernur, menteri, bahkan presiden,” pungkas Prof. Ishom menutup orasinya.