HumasUIN – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Tahun 2026 di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, secara resmi berakhir pada Kamis, 20 Agustus 2026. Momen penutupan ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi ajang pembuktian atas besarnya potensi desa yang berhasil diangkat oleh para mahasiswa melalui pendekatan ekoteologi, inovasi berkelanjutan, dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Selama kurang lebih 40 hari masa pengabdian, para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terjun langsung mendampingi masyarakat untuk menggali dan mengembangkan potensi tersembunyi di wilayah tersebut. Hasil dari pendampingan intensif ini dipamerkan di penghujung acara, menampilkan beragam produk olahan, kerajinan tangan, hingga inovasi berbasis bahan alam yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh warga setempat.
Kehadiran mahasiswa tersebut diakui memberikan dampak positif dan suntikan semangat baru bagi masyarakat. Camat Leuwidamar, H. Agung Nugraha, mengungkapkan bahwa program KKN ini telah berhasil membuka wawasan warga dalam melihat kekayaan alam dan peluang ekonomi yang selama ini belum tergarap optimal. Menurut Agung, kolaborasi ini menghasilkan inovasi yang sangat aplikatif untuk kebutuhan sehari-hari warga.
“Beberapa produk yang selama ini belum dikenal ternyata di setiap desa menyimpan berbagai potensi. Ada yang memanfaatkan alam untuk membuat minyak sirih, mengolah daun kelor menjadi makanan yang bermanfaat bagi kesehatan, hingga membantu para pelaku UMKM melalui penggunaan fasilitas pembayaran QRIS dan pengembangan website desa,” jelas Agung di Leuwidamar, Kamis (20/8/2026).
Agung menilai kreativitas para mahasiswa tidak hanya berhenti pada penciptaan produk baru, tetapi lebih jauh lagi mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa sumber daya lokal bisa menjadi motor penggerak ekonomi demi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Menyambung hal tersebut, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Rijal Firdaos, turut menekankan pentingnya aspek keberlanjutan. Rijal menegaskan bahwa esensi dari program KKN adalah meninggalkan warisan pengetahuan dan keterampilan yang dapat terus dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, meskipun masa pengabdian mahasiswa di desa telah usai.
Dari sisi pemerintahan daerah, Pemerintah Kabupaten Lebak memberikan apresiasi tinggi terhadap terselenggaranya kegiatan ini. Asisten Daerah III Pemkab Lebak, Iyan Fitriyani, memandang bahwa mahasiswa telah sukses menghadirkan paradigma baru dalam melihat rutinitas keseharian masyarakat. Iyan menjabarkan bagaimana kegiatan sederhana ternyata bisa disulap menjadi peluang ekonomi strategis ketika dipadukan dengan sentuhan kreativitas.
“Sesuatu yang biasa dikerjakan sebagai bentuk aktivitas, ternyata dengan pemikiran kreatif mampu menciptakan peluang dan berbagai pemanfaatan. Sesuatu yang tampak sederhana dan seolah tidak memiliki nilai guna ternyata menyimpan manfaat yang besar,” tutur Iyan.
Lebih lanjut, Iyan menyatakan bahwa inisiatif mahasiswa KKN Nusantara telah mendorong keseriusan pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat untuk terus menggali potensi spesifik di wilayahnya masing-masing. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Lebak, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya KKN Nusantara di Kecamatan Leuwidamar yang telah berjalan lancar selama kurang lebih 40 hari ini,” tambahnya.
Selain menitikberatkan pada penguatan fondasi ekonomi desa, para peserta KKN juga membawa misi pelestarian dengan mengangkat konsep ekoteologi. Pendekatan strategis ini berusaha mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab pelestarian alam. Hal ini dipandang sangat sejalan dengan tradisi masyarakat Leuwidamar yang kental dengan kearifan lokal.
Kasubdit Litapdimas Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Nur Kafid, memberikan pandangan mendalam mengenai penerapan konsep ini. Nur Kafid menegaskan bahwa KKN Nusantara melampaui batas-batas pengabdian konvensional, menjadikannya ruang inkubasi strategis untuk membangun kemandirian desa yang selaras dengan alam.
“Leuwidamar menyimpan potensi besar dalam ekoteologi. Tradisi masyarakat yang berpadu dengan nilai-nilai keagamaan telah menjadi modal sosial yang kuat untuk menjaga keseimbangan alam,” terang Nur Kafid.
Dirinya menjelaskan bahwa gagasan ekoteologi tersebut diwujudkan lewat aksi nyata kolaborasi mahasiswa dan warga, mulai dari gerakan konservasi lingkungan, penanaman pohon, perbaikan sistem tata kelola sampah, hingga menghidupkan kembali tradisi lokal yang berpihak pada kelestarian lingkungan. “Kementerian Agama RI melalui KKN Nusantara berkomitmen menjadikan ekoteologi sebagai tema unggulan yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Potensi ini harus terus dikembangkan agar Nusantara memiliki model desa ekoteologis yang berdaya dan berkelanjutan,” tegasnya.

Rangkaian acara penutupan KKN Nusantara VI ini juga diwarnai dengan aksi simbolis yang mengukuhkan komitmen lingkungan dan sosial. Panitia secara resmi menyerahkan fasilitas tong sampah dan bibit pohon matoa kepada setiap desa sebagai langkah nyata menjaga keberlanjutan alam. Di samping itu, mahasiswa turut menyalurkan donasi bantuan kepada salah satu madrasah di wilayah Leuwidamar, yang melengkapi dedikasi mereka dalam mempertebal ikatan sosial dan kepedulian terhadap fasilitas pendidikan dasar masyarakat.
Acara dipungkas dengan pameran ragam produk inovatif hasil pendampingan antara mahasiswa dengan warga. Gelaran pameran ini menjadi bukti autentik bahwa potensi lokal pedesaan mampu menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru, asalkan didukung oleh semangat inovasi, kolaborasi lintas sektor yang kuat, serta kesadaran kolektif untuk merawat alam tempat mereka hidup.