HumasUIN – Di sebuah kota di wilayah Khorasan, hiduplah seorang pedagang yang dikenal jujur dan tekun. Bertahun-tahun ia mengumpulkan harta dari perjalanan dagang, hingga akhirnya Allah memberinya kemampuan untuk menunaikan ibadah haji ke Masjidil Haram.
Menjelang keberangkatannya, ia menghitung seluruh hartanya. Semua kebutuhan perjalanan telah dipersiapkan: bekal, tunggangan, pakaian ihram, dan hadiah untuk keluarga yang ditinggalkan. Namun masih tersisa seribu dinar emas—jumlah yang sangat besar pada masa itu.
Ia duduk termenung sepanjang malam.
“Jika kubawa uang ini,” gumamnya, “aku khawatir dirampok di perjalanan. Tetapi jika kutitipkan kepada seseorang, aku takut ia mengingkarinya.”
Kegelisahan itu terus menghantuinya hingga akhirnya ia memilih cara yang menurutnya paling aman.
Keesokan harinya ia pergi keluar kota menuju hamparan padang pasir. Angin gurun berembus pelan, sementara matahari memancarkan cahaya kemerahan di ufuk timur. Di tengah kesunyian, ia menemukan sebuah pohon jarak yang tumbuh sendirian.
Ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak seorang pun melihatnya.
Dengan tangan gemetar, ia menggali tanah di bawah pohon itu. Setelah lubang cukup dalam, ia memasukkan kantong berisi seribu dinar, lalu menimbunnya kembali hingga tanah tampak seperti semula.
“Di sinilah hartaku aman,” pikirnya.
Maka berangkatlah ia bersama rombongan haji. Ia melintasi padang-padang tandus, menempuh panas yang menyengat, hingga akhirnya tiba di Makkah. Di sana ia thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan berdoa dengan penuh kekhusyukan. Hatinya tenang, merasa telah menyerahkan segala urusannya kepada Allah.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali dari perjalanan sucinya.
Sesampainya di kampung halaman, hal pertama yang ia lakukan adalah menuju pohon jarak itu. Dengan penuh harap ia menggali tanah tepat di tempat ia menguburkan hartanya.
Namun lubang itu kosong.
Ia menggali lebih dalam. Tidak ada apa-apa.
Ia berpindah sedikit ke kanan, lalu ke kiri. Tetap kosong.
Wajahnya pucat. Napasnya memburu.
“Tidak… tidak mungkin…”
Ia mulai menangis keras sambil memukuli wajahnya sendiri.
“Bumi telah mencuri uangku! Bumi telah memakan hartaku!”
Orang-orang yang melihat keadaannya merasa iba. Kisah itu pun tersebar hingga akhirnya seseorang berkata kepadanya,
“Pergilah kepada Adud al-Dawla. Ia dikenal cerdas dan bijaksana.”
Pedagang itu menjawab dengan putus asa, “Apakah ia mengetahui perkara gaib?”
“Tidak,” jawab orang itu, “tetapi tidak ada salahnya engkau mencobanya.”
Maka pergilah sang pedagang menghadap Adud al-Dawla dan menceritakan seluruh kisahnya: tentang pohon jarak, seribu dinar, dan hilangnya harta itu sepulang haji.
Sang penguasa mendengarkan dengan tenang, lalu memerintahkan agar seluruh tabib istana dikumpulkan.
Ketika mereka hadir, Adud al-Dawla bertanya,
“Apakah tahun ini ada di antara kalian yang mengobati seseorang dengan akar pohon jarak?”
Seorang tabib menjawab, “Ya, aku pernah mengobati salah satu kerabat dekat istana dengan akar jarak.”
“Siapa yang membawakan akar itu?” tanya Adud al-Dawla.
“Seorang penjaga pintu istana.”
“Panggil orang itu.”
Tak lama kemudian penjaga pintu datang menghadap. Adud al-Dawla menatapnya tajam.
“Dari mana engkau mendapatkan akar jarak itu?”
Penjaga itu menyebutkan sebuah tempat di padang pasir.
Adud al-Dawla segera berkata, “Bawa pedagang ini bersamamu dan tunjukkan tempatnya.”
Mereka pun pergi bersama hingga tiba di sebuah pohon jarak yang berdiri sendiri di tengah padang pasir.
Saat melihatnya, sang pedagang berteriak,
“Demi Allah! Di sinilah aku menguburkan uangku!”
Seketika wajah penjaga pintu berubah pucat.
Mereka kembali ke istana dan melaporkan semuanya kepada Adud al-Dawla.
Sang penguasa berkata dengan suara tegas,
“Kembalikan uangnya.”
Penjaga itu terdiam dan mencoba mengelak. Namun setelah Adud al-Dawla mengancamnya dengan hukuman berat, ia pun menyerahkan kembali seribu dinar tersebut.
Pedagang itu menangis kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena rasa syukur.
Ia menyadari bahwa kecerdasan seorang pemimpin yang adil dapat menjadi sebab terselamatkannya hak orang lain, dan bahwa Allah mampu mengembalikan sesuatu yang hilang melalui jalan yang tak pernah disangka-sangka.
Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)