HumasUIN – Pengalaman pribadi selama satu bulan mengemban amanat sehingga banyak berinteraksi dengan kenalan-kenalan baru yang begitu beragam, membuat kita harus belajar lebih dari sekadar memahami. Kita diajak untuk hadir dengan penuh kesadaran—bahwa setiap orang membawa cerita yang tak kita ketahui, membawa pesan dan termasuk luka yang tak tampak, dan membawa nilai-nilai yang terbentuk dari perjalanan panjang hidupnya. Tidak ada satu pun hati yang sama, dan karena itu, menjelajah di setiap hati adalah sebuah seni yang dalam.
Kita semua ingin diterima. Itu adalah kebutuhan dasar manusia—diperlakukan dengan hormat, didengar tanpa dihakimi, dan dilihat apa adanya. Namun, jalan menuju penerimaan sejati bukan dengan menyesuaikan diri secara berlebihan atau mengorbankan prinsip, melainkan dengan hadir secara tulus. Hadir sebagai manusia yang mampu melihat manusia lain dengan mata hati, bukan hanya dengan pikiran atau persepsi luar.
Dalam tradisi spiritual—apa pun latar keyakinannya—ada satu pesan yang selalu muncul: bahwa hati manusia adalah tempat suci. Hati adalah pusat rasa, pusat kesadaran, dan juga jembatan menuju yang lebih tinggi. Maka, ketika kita bertemu orang lain, sesungguhnya kita sedang diberi kesempatan untuk menjejak tanah yang sakral. Cara kita memperlakukan orang lain, pada akhirnya, adalah cerminan dari cara kita memperlakukan nilai-nilai luhur dalam diri sendiri.
Kerendahan hati menjadi kunci utama. Ia bukan soal merendahkan diri, tapi tentang menahan ego agar kita tidak merasa lebih dari orang lain. Saat kita datang ke sebuah komunitas—apa pun bentuknya—dengan sikap ingin belajar, ingin mengenal, dan tidak terburu-buru menilai, saat itu kita sedang membuka pintu hati orang lain. Dan ketika hati terbuka, relasi pun menjadi lebih ringan.
Menjadi orang yang mudah diterima bukan berarti harus menyenangkan semua orang. Itu mustahil. Tapi kita bisa menjadi pribadi yang membawa suasana aman. Orang-orang nyaman berbicara dengan kita karena tahu mereka tidak akan dihakimi. Kita bisa menjadi ruang tenang di tengah kebisingan, bisa menjadi air yang meresap ke segala bentuk tanpa kehilangan esensinya.
Dalam dunia yang sering memaksa kita memilih kubu, menjadi jembatan adalah sikap yang berani. Bukan berdiri di tengah karena tak punya sikap, tapi karena kita percaya bahwa semua manusia punya ruang yang layak untuk dihargai. Kita tidak perlu sependapat untuk saling menghormati. Tidak perlu seragam untuk bisa saling bekerja sama. Cukup punya hati yang terbuka dan niat yang bersih.
Menjelajah di setiap hati artinya terus belajar tentang manusia. Kadang kita disambut hangat, kadang kita ditolak. Kadang kita diterima, kadang juga disalahpahami. Tapi jika niat kita adalah kebaikan, maka setiap langkah akan tetap bermakna. Yang penting bukan apakah kita diterima di semua tempat, tapi apakah kehadiran kita memberi nilai bagi tempat-tempat yang kita singgahi.
Akhirnya, dunia ini terlalu luas untuk ditempuh dengan hati yang sempit. Semakin dalam kita menjelajah hati orang lain, semakin dalam pula kita mengenal diri sendiri. Dan mungkin, dalam proses itulah kita pelan-pelan menemukan sesuatu yang lebih besar—sebuah keterhubungan yang melampaui sekat apa pun: keterhubungan sebagai sesama manusia yang sedang sama-sama mencari makna, arah, dan kedamaian.
M. Ishom el Saha