HumasUIN – Aktivitas perkuliahan di lingkungan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten tetap dilaksanakan secara tatap muka dan tidak dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ), di tengah perhatian masyarakat terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi dampak erupsi maupun abu vulkanik.
Meski demikian, mahasiswa diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Imbauan tersebut menjadi langkah antisipasi terhadap kemungkinan paparan abu vulkanik atau debu yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten berpandangan bahwa keberadaan Kampus 2 UIN Banten di kawasan Palima berada pada wilayah yang relatif aman dari penyebaran abu vulkanik anak gunung Krakatau. Termasuk dampak langsung tsunami besar yang pernah melanda pesisir Banten.
Pandangan tersebut dikaitkan dengan data yang di informasikan BMKG kepada masyarakat luas, di mana arah penyebaran abu vulkanik lebih mengarah ke arah selatan Serang. Di samping itu kebijakan juga mempertimbangkan analisa hasil penelusuran terhadap sejumlah manuskrip dan artikel sejarah mengenai dampak letusan Krakatau pada 1883.
Dalam catatan yang ditelusuri, wilayah pesisir utara Banten yang mengalami dampak sangat besar akibat tsunami Krakatau antara lain kawasan Ciwandan dan Cilegon.
Dalam perspektif sejarah, lokasi pusat pemerintahan Kesultanan Banten di Surosowan juga menjadi perhatian. Sultan Maulana Hasanuddin disebut dalam tulisan tersebut memiliki pengetahuan mengenai ilmu falak dan tata ruang sehingga pemilihan Teluk Banten sebagai pusat pemerintahan dinilai mempertimbangkan berbagai aspek.
“Bagaimana Kampus 2 UIN di Palima? InsyaAllah aman sebab masih dalam radius wilayah kekuasaan Banten sampai Palka sebelum Baros,” demikian pandangan yang disampaikan dalam tulisan tersebut.
Meski demikian, aspek keselamatan kampus dari potensi bencana tetap perlu ditempatkan dalam perspektif mitigasi kebencanaan modern. Faktor geografis, jarak dari sumber ancaman, topografi, arah angin, hingga hasil kajian lembaga kebencanaan menjadi dasar penting dalam menentukan tingkat risiko suatu wilayah.
Karena itu, mahasiswa dan sivitas akademika UIN Banten tetap diimbau mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau serta mematuhi arahan otoritas kebencanaan apabila terjadi perubahan kondisi.
Untuk sementara, kegiatan perkuliahan tetap berlangsung secara tatap muka, bukan PJJ. Penggunaan masker menjadi salah satu bentuk kewaspadaan mahasiswa dan sivitas akademika dalam menghadapi kemungkinan paparan debu maupun material vulkanik.