HumasUIN – Setiap muktamar Nahdlatul Ulama selalu memiliki suasana sendiri. Khususnya Muktamar NU di Jombang kali ini memberi kesan yang berbeda. Bagi saya, NU seperti sedang pulang ke rumahnya sendiri. Hal ini penting ditegaskan karena tidak setiap muktamar NU yang pembukaannya berlangsung di pesantren menjadikan seluruh rangkaian kegiatannya berada di lingkungan pesantren.
Dalam beberapa muktamar sebelumnya, pembukaan memang digelar di pondok pesantren, tetapi rapat, persidangan, penginapan, dan berbagai aktivitas peserta berlangsung di tempat lain. Muktamirin harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Di Jombang, hampir seluruh denyut muktamar berada di lingkungan pesantren. Tenda-tenda persidangan berdiri di antara bangunan pondok. Jalan-jalan pesantren menjadi jalur lalu-lalang muktamirin maupun pengunjung yang menempati rumah-rumah warga sekitar pondok yang sengaja disewakan.
Sejak pagi, kawasan pesantren seperti sebuah kota kecil yang sedang bergerak. Kiai, pengurus NU, muktamirin, santri, relawan, wartawan, pedagang, tamu, dan pengunjung berbaur. Ada yang bergegas menuju persidangan, mencari ruang komisi, bertemu kawan lama, atau sekadar duduk berbincang di pinggir jalan.
Yang menarik, suasana cair itu tidak berarti tanpa aturan. Justru sistem pengamanan dan akses kali ini terasa lebih tertib. Peserta diwajibkan mengenakan ID card yang terintegrasi dengan sistem. Akses ke ruang-ruang tertentu tidak bisa dilakukan sembarang orang.
Namun, pengetatan tersebut tidak membuat suasana menjadi kaku. Muktamirin dan pengunjung—atau, meminjam istilah yang akrab, Romli dan Romlah—tetap bisa menikmati keramaian dengan santai. Mereka berjalan, bercengkerama, bertemu teman, makan, minum, dan menyaksikan kesibukan muktamar dari dekat.
Salah satu pemandangan yang menarik terlihat di pintu masuk tenda-tenda ruang komisi. Akses dijaga para santri yang mendapat tugas dari seksi keamanan pondok: Di samping tentu saja ada Banser, dan aparat keamanan.
Mereka masih muda, tetapi berdiri dengan sikap tegas sekaligus sopan. Mereka menyapa, mengarahkan, dan terKadang menyampaikan pertanyaan sederhana, “ID card-nya, Gus?”
Pengunjung yang memang tidak memiliki akses biasanya langsung memahami maksudnya. Bahkan ada rasa sungkan untuk memaksa masuk. Barangkali karena yang berdiri di hadapan mereka bukan sekadar petugas keamanan, melainkan santri yang sedang menjalankan amanah pondok.
Di sinilah kultur pesantren bekerja dengan cara yang menarik. Ketertiban tidak hanya ditegakkan melalui aturan, tetapi juga melalui rasa sungkan. Orang mungkin bisa berdebat dengan petugas keamanan. Tetapi rasanya tidak elok memaksa seorang santri yang sedang menjalankan tugas. Akibatnya, sistem keamanan tetap berjalan tanpa harus mengubah wajah muktamar menjadi tegang.
Pengalaman semacam ini membuat saya melihat perbedaan yang cukup mendasar dengan muktamar yang sepenuhnya berlangsung di hotel atau gedung pertemuan.
Di tempat seperti itu, batas antara ruang persidangan dan ruang kehidupan sehari-hari biasanya lebih jelas. Orang datang untuk mengikuti agenda, masuk ruang sidang, menyelesaikan urusan, kemudian kembali ke kamar atau meninggalkan gedung.
Percakapan tentang NU bisa berlanjut di serambi masjid. Perdebatan organisasi berpindah ke warung. Pertemuan yang semula tidak direncanakan terjadi begitu saja di jalan pesantren. Seorang kiai bertemu santri. Muktamirin bertemu kawan lama. Pengunjung yang semula hanya ingin melihat keramaian akhirnya ikut larut dalam suasana.
Di tengah pembicaraan tentang kepemimpinan, organisasi, perbedaan pandangan, dan masa depan NU, kehidupan pesantren tetap hadir sebagai latar yang kuat. Santri tetap beraktivitas. Masjid tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Tradisi keilmuan dan penghormatan kepada kiai terasa bukan sebagai slogan, melainkan sebagai bagian dari suasana. Seolah-olah pesantren terus mengingatkan bahwa NU mempunyai akar.
Karena itu, bagi saya, keistimewaan Muktamar Jombang bukan hanya apa yang terjadi di dalam ruang sidang. Ada pengalaman sosial yang berlangsung di luarnya: cara orang bertemu, cara aturan dijalankan, cara santri menjaga ruang muktamar, dan cara ribuan orang berbagi tempat dalam suasana yang tetap akrab.
Hal-hal semacam itu mungkin tidak tercatat dalam laporan resmi. Jumlah peserta bisa dihitung. Sidang bisa dijadwalkan. Fasilitas bisa dievaluasi. Sistem keamanan bisa diukur tapi suasana tidak mudah dihitung.
Suasana itulah yang membuat Muktamar NU di Jombang terasa berbeda. Di sini, NU bukan sekadar mengadakan muktamar di sebuah pesantren. NU seperti kembali ke ruang yang ikut membentuk tradisi dan wataknya.
Barangkali karena itulah muktamar kali ini terasa ramai tanpa gaduh, tertib tanpa kaku, dan ketat tanpa kehilangan keramahan.
Selama beberapa hari, pesantren bukan sekadar menjadi tempat berlangsungnya muktamar. Ia menjadi ruang tempat NU memperlihatkan kembali wajah yang paling dekat dengan akar kehidupannya: akrab, sederhana, tertib, dan penuh rasa sungkan.
Hemat saya, justru di situlah kita menemukan makna sebuah muktamar yang sesungguhnya.
Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)