FadaNews – Fakultas Dakwah (Fada) UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten menyusun Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan yang berorientasi pada dampak (impact-based) untuk peningkatan pendaftar mahasiswa baru serta mendorong internasionalisasi kampus. Penyusunan Renstra ini dirancang agar selaras dengan Rencana Induk Pengembangan (RIP) UIN SMH Banten periode 2025-2045.
Kegiatan tersebut digelar selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Agustus 2026, di Episode Hotel, Tangerang. Workshop strategis ini diikuti oleh 38 peserta yang terdiri dari unsur pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris program studi (Prodi), kepala laboratorium, hingga staf tata usaha.
Dekan Fada UIN SMH Banten, Prof. Dr. Endad Musaddad, mengakui bahwa fakultas dan universitas tengah menghadapi tantangan berat, terutama terkait penurunan angka penerimaan mahasiswa baru pada tahun ini.
“Ini perjalanan berat bagi UIN Banten. Terget kita setiap tahun itu penerimaan mahasiswa baru harus terus meningkat. Harus ada lompatan-lompatan besar, tidak bisa berjalan di tempat,” tegas Endad di hadapan peserta workshop, Senin (10/8).
Sebagai langkah mitigasi peningkatan jumlah guru besar khususnya di Fada, ia menargetkan penambahan Guru Besar baru dan percepatan studi Doktor bagi para dosen maksimal pada 2027.
“Visi kita unggul di tingkat internasional, mau tidak mau kita tidak bisa mundur lagi. Ini harus dikejar dari sisi kuantitas mahasiswa, penelitian level internasional, hingga kolaborasi pengabdian masyarakat yang berskala global,” tambahnya.
Pergeseran Paradigma: Dari Input Menuju Dampak
Sementara itu, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Kelembagaan, Prof. Dr. Nana Jumhana, yang hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya penyelarasan antara Renstra Fakultas dengan RIP Universitas.
Prof. Nana menjelaskan, sejak bertransformasi dari IAIN menjadi UIN pada 2017, kampus sempat tidak memiliki RIP yang utuh karena masih mengacu pada dokumen lama. Kini, dengan RIP baru yang menargetkan visi universitas unggul bertaraf internasional dan berdampak pada 2045, seluruh unit wajib menyesuaikan arah kebijakannya.
Lebih lanjut, ia meminta fakultas meninggalkan paradigma perencanaan lama. “Renstra kita sebelumnya masih berbasis input, seperti sekadar menghitung berapa jumlah kegiatan yang dilakukan atau dokumen yang dihasilkan. Ke depan, kita harus beralih ke pendekatan berbasis outcome atau dampak,” jelasnya.
Ia mencontohkan, program pelatihan dakwah digital tidak boleh hanya diukur dari jumlah peserta atau terselenggaranya acara, melainkan dari peningkatan kompetensi mahasiswa dalam menghasilkan konten dakwah yang moderat dan konstruktif di ruang digital.
Revitalisasi 14 Program Studi
Dalam paparannya, Prof. Nana juga memaparkan hasil evaluasi data terhadap program studi di lingkungan UIN SMH Banten. Berdasarkan analisis tiga tahun terakhir, terdapat 14 Prodi di berbagai fakultas yang mengalami tren penurunan peminat secara konsisten dan masuk dalam kategori mendesak untuk direvitalisasi.
“Ada Prodi yang masuk kategori superstar seperti Manajemen Haji dan Umroh yang pendaftarnya terus naik. Namun, ada 14 Prodi yang trennya menurun dan operasinya harus segera dimitigasi agar tidak terus merugi,” ungkapnya.
Prof. Nana mendorong Fada untuk merumuskan keunggulan spesifik (niche) yang membedakannya dari fakultas dakwah di perguruan tinggi keagamaan lain. Ia menyarankan optimalisasi Prodi Dakwah Digital, Sosiologi Agama, Manajemen Dakwah, hingga Kajian Masalah Banten sebagai modal strategis.
Hasil dari workshop ini akan diturunkan menjadi rencana pencapaian visi keilmuan di tingkat Prodi, yang selanjutnya dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT). Langkah ini diharapkan dapat memastikan setiap program yang dijalankan memiliki kontribusi strategis terhadap pencapaian RIP UIN SMH Banten dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.