Orasi Ilmiah di UIN Banten, Menteri Desa Serukan Kolaborasi Lulusan Perguruan Tinggi Entaskan Kesenjangan Perdesaan

HumasUIN – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Yandri Susanto menghadiri acara Wisuda Sarjana ke-43 dan Pascasarjana ke-29 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Dalam lawatannya kali ini, Yandri membawa jajaran petinggi kementeriannya secara lengkap untuk memberikan motivasi langsung kepada ratusan wisudawan agar berani berkolaborasi membangun kawasan perdesaan.

Kehadiran formasi lengkap dari Kementerian Desa dan PDT ini menjadi perhatian khusus dalam acara yang digelar di Aula Convention Hall Kampus UIN Banten, Curug, Kota Serang tersebut. Yandri didampingi langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Desa dan PDT Taufik Madjid, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Samsul Widodo, serta Kepala Badan Pengembangan dan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal (BPSDM) Agustomi Masik. Selain itu, sejumlah direktur, kepala pusat, dan kepala biro turut meramaikan rombongan.

“Biasanya saya bawa satu-dua orang. Tapi hari ini full team, Pak Sekjen, Pak Taufik Madjid, Pak Dirjen Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Pak Samsul Widodo, Kepala Badan SDM Pak Agustomi, beserta para direktur, kepala pusat, kepala biro yang mohon maaf tidak saya sebutkan satu per satu,” ujar Yandri di hadapan sekitar 750 wisudawan dan wisudawati.

Pada kesempatan orasi ilmiahnya, Yandri membagikan kisah inspiratif tentang perjalanan hidupnya yang bermula dari sebuah desa tertinggal di Bengkulu. Secara tidak langsung, Yandri menekankan bahwa latar belakang dan asal-usul seseorang tidak semestinya menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan di masa depan. Yandri menceritakan bahwa dirinya lahir dan besar di Desa Palak Siring, Bengkulu, di mana akses infrastruktur sangat terbatas. Listrik baru masuk ke desanya pada tahun 2000, sementara jaringan telekomunikasi baru bisa diakses masyarakat setempat pada tahun 2015.

“Saya SD jarang pakai sepatu. Sekolah SMP menyeberang sungai. Pernah menjadi marbot masjid dan sekolah jurusan peternakan,” cerita Yandri mengenang masa lalunya.

Menteri Desa dan PDT itu menegaskan, siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang sukses asalkan memiliki kesungguhan yang kuat dalam menjalani proses kehidupan.

“Apa mungkin marbot masjid jadi menteri? Bisa, ini contohnya. Apa mungkin orang desa tertinggal jadi menteri, jadi anggota DPR? Bisa, ini contohnya. Jadi dalam menjalani hidup dan kehidupan tergantung kita. Artinya, ini saya ingin memulai bahwa apa pun asal kita, dari mana pun asal kita, asal kita sungguh-sungguh, kita bisa menjadi apa pun di negeri yang sangat kita cintai ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yandri menyampaikan pesan krusial kepada para lulusan perguruan tinggi agar mengubah cara pandang pascakampus. Yandri menyarankan agar para wisudawan, khususnya yang berasal dari Banten dan sekitarnya, tidak lagi berorientasi mencari pekerjaan di wilayah perkotaan, melainkan kembali untuk menggali potensi besar desanya masing-masing. Menurut Yandri, lulusan universitas memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat di desa.

“Tadi kata Pak Rektor, Prof Ishom, sejatinya kita tidak mesti melulu mencari pekerjaan. Kita bisa menciptakan lapangan kerja dan bisa mengajak orang lain untuk bekerja dengan kita,” kata Yandri.

Gagasan pemberdayaan desa ini dinilai sangat strategis untuk segera diterapkan, mengingat Provinsi Banten sendiri memiliki lebih dari 1.200 desa. Yandri memaparkan bahwa Indonesia secara keseluruhan memiliki 75.266 desa dengan tantangan dan kondisinya masing-masing. Mengingat besarnya jumlah tersebut, pemerintah pusat tidak mungkin bekerja sendirian tanpa bantuan masyarakat dan kaum intelektual.

“Jumlah desa di Indonesia 75.266 desa. Jadi kalau Menteri Desa setiap hari keliling desa, perlu waktu 206 tahun. Tidak cukup,” ujarnya memberikan gambaran nyata.

Yandri kemudian merinci data terkini terkait status desa di Indonesia. Menteri Desa dan PDT ini menjelaskan bahwa sebagian desa telah berstatus mandiri, namun tidak sedikit pula yang masih membutuhkan intervensi serius dari pemerintah. Berdasarkan catatan kementerian, saat ini terdapat lebih dari 20.000 desa mandiri, sekitar 23.000 desa maju, dan 21.000 desa berkembang. Di sisi lain, angka kemiskinan dan keterbelakangan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah.

“Masih ada desa tertinggal dan sangat tertinggal hampir 10.000 desa,” ungkapnya secara gamblang.

Suami dari Bupati Serang Ratu Zakiyah ini menutup orasinya dengan mengingatkan bahwa kesenjangan pembangunan desa merupakan tantangan kebangsaan yang harus diselesaikan secara gotong royong. Menjelang peringatan hari ulang tahun ke-81 kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus ini, Yandri menyoroti masih adanya masyarakat di beberapa wilayah, terutama di ujung timur Indonesia, yang belum sepenuhnya merasakan pemerataan pembangunan.

“Beberapa hari lagi Indonesia akan memperingati 81 tahun Indonesia merdeka, tapi masih ada saudara-saudara kita, terutama di Papua,” pungkas Yandri. Oleh karena itu, kolaborasi aktif antara pemerintah, pihak perguruan tinggi, dan para generasi muda yang baru diwisuda diharapkan mampu menjadi ujung tombak perubahan di desa-desa tertinggal.


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323