Menag Dorong PTKIN Bangun Integrasi Keilmuan Berbasis Teologi Ahadiyah

HumasUIN – Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar mendorong perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) membangun paradigma integrasi keilmuan dan keislaman yang berlandaskan teologi Ahadiyah. Menurut dia, pendekatan integrasi yang selama ini berkembang masih menyisakan persoalan mendasar karena belum menempatkan nilai-nilai keislaman sebagai faktor yang memengaruhi pengembangan ilmu pengetahuan.

Pandangan tersebut disampaikan Nasaruddin saat menjadi narasumber dalam Seminar Pengembangan PTKIN Berbasis Teologis yang diselenggarakan UIN Syekh Wasil Kediri, Sabtu (21/6).

Dalam paparannya, Nasaruddin mengkritisi wacana integrasi keilmuan dan keislaman yang selama ini banyak diadopsi perguruan tinggi Islam. Menurut dia, model integrasi yang ada cenderung menempatkan keislaman sebagai unsur yang dipengaruhi oleh disiplin ilmu lain, bukan sebagai landasan yang memberi arah bagi pengembangan ilmu.

“Integrasi yang diwacanakan selama ini belum mampu menempatkan keislaman sebagai faktor yang memengaruhi. Keislaman justru sering menjadi faktor yang dipengaruhi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena konsep integrasi tidak dibangun di atas fondasi teologis yang kuat. Karena itu, ia menawarkan konsep teologi Ahadiyah sebagai dasar dalam merumuskan integrasi keilmuan dan keislaman di lingkungan PTKIN.

Nasaruddin menjelaskan, teologi Ahadiyah berasal dari kata “Ahad” sebagaimana termaktub dalam ayat pertama Surah Al-Ikhlas. Menurut dia, konsep “Ahad” memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan “Wahid”.

“Teologi Ahadiyah memandang bahwa segala sesuatu bersumber dari satu asal yang sama. Berbeda dengan Wahidiyah yang melihat adanya sesuatu yang paling unggul atau nomor satu dibanding yang lain,” katanya.

Untuk memudahkan pemahaman, Nasaruddin memberikan ilustrasi tentang batik yang dikenakan peserta seminar. Menurut dia, jika menggunakan perspektif Wahidiyah, perhatian akan tertuju pada batik mana yang paling bagus atau paling mahal. Namun dalam perspektif Ahadiyah, yang dilihat adalah kesamaan hakikat dari seluruh batik tersebut.

“Semua batik yang dikenakan peserta pada dasarnya berasal dari bahan yang sama, yaitu kain, dan kain itu berasal dari kapas. Di situlah titik kesatuannya,” ujarnya.

Dengan cara pandang tersebut, kata Nasaruddin, PTKIN dapat membangun visi dan misi integrasi yang berangkat dari kesadaran akan kesatuan sumber pengetahuan dan realitas, bukan dari kompetisi antarbidang ilmu.

Seminar tersebut juga dihadiri Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Muhammad Ishom. Menurut Ishom, forum tersebut penting untuk memperkaya kerangka epistemologis integrasi keislaman dan keilmuan yang selama ini terus dikembangkan di lingkungan PTKIN.

“Diskusi seperti ini menjadi pelengkap dalam membangun kerangka epistemologi integrasi keislaman dan keilmuan yang lebih utuh,” kata Ishom.


Jl. Jendral Sudirman No. 30
Ciceri, Kota Serang, Provinsi Banten,
Indonesia 42118

Jl. Syech Nawawi Al-Bantani
Curug, Kota Serang, Provinsi Banten
Indonesia 4217

Jl. Jend. Sudirman No.227,
Sumurpecung, Kec. Serang, Kota
Serang, Provinsi Banten Indonesia
42118

 Hak Cipta 2025 – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email : surat@uinbanten.ac.id No. Tlp : (0254) 200 323