HumasUIN – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten sukses menyelenggarakan Kajian Literasi Keagamaan dan Sosial pada Selasa, (09/06/2026). Mengangkat tema yang sangat relevan bagi generasi muda, “Career Hack dan Personal Branding”, kegiatan ini bertempat di BI Corner, Perpustakaan Pusat UIN SMH Banten.
Acara ini menghadirkan Kepala Unit Karier UIN SMH Banten, Dr. As’ari, sebagai narasumber utama. Turut hadir langsung dalam kegiatan tersebut Kepala UPT Perpustakaan UIN SMH Banten beserta jajaran staf dan sivitas akademika lainnya.
Dalam sambutannya, Kepala UPT Perpustakaan UIN SMH Banten, Dr. Muhamad Shoheh, S.Ag., M.A menyampaikan bahwa kegiatan literasi ini merupakan bagian dari komitmen perpustakaan untuk terus mengembangkan wawasan mahasiswa, khususnya dalam mempersiapkan masa depan dan karier mereka setelah lulus kuliah.
“Kami ingin mahasiswa UIN SMH Banten semakin terarah dan memiliki bekal yang baik agar mampu kompetitif di berbagai industri. Selain itu, kami juga menginginkan mahasiswa memiliki citra diri (branding) yang positif demi pengembangan bisnis dan karier mereka ke depan,” ujarnya.
Memasuki sesi pemaparan materi, Dr. As’ari mengajak mahasiswa untuk berdiskusi santai mengenai pentingnya pengembangan diri (self-development) dan pembentukan citra diri (personal branding). Dalam penjelasannya, beliau menegaskan perbedaan mendasar antara branding dan framing.
Menurut Dr. As’ari, framing cenderung bersifat momentum jangka pendek dan sering kali dibuat-buat demi pencitraan sesaat yang tidak sesuai dengan realitas. Sebaliknya, personal branding adalah sebuah proses panjang untuk menanamkan karakteristik positif (personal traits) yang autentik di dalam diri seseorang.
“Jika Anda dikenal egois atau suka berbohong, itu adalah contoh branding negatif yang melekat di mata teman-teman Anda. Oleh karena itu, branding harus dibangun berdasarkan potensi nyata melalui refleksi diri,” jelas Dr. As’ari.
Di era modern, Dr. As’ari mengingatkan bahwa personal branding sangat erat kaitannya dengan jejak digital (digital tracking). Segala aktivitas di media sosial, mulai dari unggahan di Instagram dan TikTok, pembaruan status di WhatsApp, hingga kolom komentar, merupakan cerminan langsung dari kepribadian seseorang.

Dirinya mengimbau para mahasiswa, terutama yang sudah menginjak semester 4 dan 6, untuk mulai berhati-hati dalam membagikan konten.
“Saat Anda melamar pekerjaan, tim HRD atau psikolog perusahaan akan melacak jejak digital Anda. Jika Anda sering membagikan hoaks, menulis ujaran kebencian (hate speech), atau memberikan komentar yang terlalu tendensius, reputasi Anda akan langsung jatuh di mata perekrut,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kepala Unit Karier tersebut menepis anggapan bahwa kesuksesan karier masa depan hanya ditentukan oleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi. Idealnya, mahasiswa harus mampu menyeimbangkan antara nilai akademik yang baik dengan kualitas soft skills, hard skills, dan portofolio yang kuat.
Salah satu wadah terbaik untuk membangun portofolio dan personal branding profesional adalah melalui organisasi, baik organisasi internal (Ormawa) maupun eksternal. Di dalam organisasilah mahasiswa dapat mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan (leadership), pembentukan karakter, penyelesaian masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), hingga membangun jejaring (networking).
Dr. As’ari memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang aktif berkegiatan, seperti mahasiswa yang terlibat aktif dalam tim Humas maupun organisasi profesi lainnya, karena mereka dinilai telah mencuri start dalam me-branding diri secara positif.
Di akhir pemaparannya, Dr. As’ari berpesan agar mahasiswa tidak menghabiskan seluruh waktu kuliahnya hanya di dalam kelas lalu langsung pulang ke kosan (mahasiswa ‘kupu-kupu’).
“Jangan sampai di akhir masa kuliah, Anda kebingungan karena tidak tahu harus melangkah ke mana akibat minimnya relasi dan koneksi. Mulailah keluar dari zona nyaman, ikuti seminar, terlibatlah dalam proyek-proyek positif, dan bangun portofolio Anda sejak dini sebagai calon pendidik, pendakwah, maupun profesional lainnya,” pungkasnya.