HumasUIN – Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama terus memperkuat implementasi program prioritas ekoteologi bersama forum Kepala Biro dan Kepala Bagian Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Langkah strategis ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola kelembagaan dan kehidupan akademik berbasis lingkungan di lingkungan kampus keagamaan.
Pesan tersebut ditegaskan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, saat membuka Lokakarya Penguatan Ekoteologi yang berlangsung selama tiga hari, 19–21 Mei 2026, di Bogor, Jawa Barat. Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) beserta jajaran, Kepala BMBPSDM beserta jajaran, serta pimpinan biro dan kepala bagian dari berbagai PTKN di seluruh Indonesia.
Dalam arahannya pada Selasa (19/05/2026), Menteri Agama menekankan bahwa pimpinan biro dan kepala bagian memiliki posisi yang sangat krusial dalam struktur sosiologis kampus. Pimpinan administratif tersebut diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai ekoteologi dari sekadar konsep teoretis menjadi kebijakan konkret serta budaya organisasi yang nyata di lapangan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa kampus keagamaan harus menjadi pelopor dan contoh nyata dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Menurut beliau, spirit spiritualitas lingkungan ini harus hadir secara utuh, baik dalam tata kelola kelembagaan maupun kehidupan akademik sehari-hari.
Lebih lanjut, Menteri Agama menjelaskan bahwa penguatan ekoteologi merupakan jawaban konkret atas tantangan lingkungan global, sekaligus menjadi momentum penting untuk memperluas makna kerukunan yang selama ini diusung oleh Kementerian Agama. Konsep “Trilogi Kerukunan” yang selama ini menjadi acuan, kini dikembangkan menjadi lebih komprehensif untuk mencapai harmoni yang total.
Jika sebelumnya fokus kerukunan hanya mencakup hubungan internal umat beragama, antarumat beragama, dan relasi dengan pemerintah, kini konsep tersebut diperluas demi menyentuh tiga pilar utama. Pilar tersebut meliputi harmoni manusia dengan sesama secara sosial, harmoni manusia dengan alam secara ekologis, dan harmoni manusia dengan Tuhan secara spiritual.
Menteri Agama menambahkan bahwa kerukunan tidak cukup hanya diukur dari relasi sosial antarmasyarakat saja. Manusia juga diwajibkan untuk membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitar demi menjaga keseimbangan dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, Kementerian Agama berkomitmen menjadikan isu lingkungan ini sebagai bagian dari misi kemanusiaan yang lebih besar, salah satunya melalui pengembangan kurikulum berbasis cinta yang menanamkan kepedulian sosial dan lingkungan sejak dini.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama mengingatkan kembali esensi mendasar manusia di muka bumi berdasarkan ajaran agama. Beliau menegaskan bahwa menjaga bumi bukan sekadar agenda program lingkungan biasa, melainkan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab spiritual manusia yang mengemban amanah sebagai khalifah di bumi.
Mengakhiri sambutannya, Menteri Agama mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat luas untuk mulai membangun kebiasaan sederhana namun berdampak nyata bagi kelangsungan bumi, seperti menjaga kebersihan, merawat tumbuhan, dan menghentikan segala tindakan yang merusak ekosistem. Beliau memungkas arahannya dengan menekankan bahwa ekoteologi pada akhirnya mengajarkan manusia untuk bersahabat dengan alam, karena jika manusia mampu menjaga alam dengan baik, maka alam pun akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi manusia.
