HumasUIN – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten resmi memulai langkah strategis dalam pengembangan infrastruktur dan akademik melalui kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Pertemuan ini dilaksanakan di Ruang Rapat Rektor pada Senin, (2/3/2026) merupakan tindak lanjut dari surat Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB terkait permohonan izin survei untuk pelaksanaan Swakelola Tipe II mengenai Kajian Master Plan Fisik, Infrastruktur, dan Lansekap Kampus II UIN SMH Banten.
Rangkaian kegiatan ini mencakup evaluasi mendalam terhadap master plan eksisting, paparan konsep pengembangan dari Tim ITB, serta Focus Group Discussion (FGD) untuk menyelaraskan arah pembangunan universitas dengan visi dan misi lembaga. Selain itu, tim juga melakukan peninjauan lapangan yang meliputi dokumentasi fisik, pengambilan gambar udara, serta verifikasi data pendukung di lahan seluas 48 hektare tersebut.
Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., dalam sambutannya menekankan pentingnya pembaruan dokumen kerja sama, termasuk MoA antara Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) yang telah berakhir masa berlakunya. Ia berharap kolaborasi ini tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga pengembangan kualitas layanan dan akademik yang terintegrasi.

“Mudah-mudahan pertemuan kita ini nanti dapat menghasilkan sesuatu yang khususnya dapat meningkatkan kualitas layanan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Kita di kampus ini berdiri di atas lahan 48 hektare. Konsep awalnya dulu masih perlu penyusunan ulang terkait set proyeknya karena perkembangan wilayah ini sebagai pusat pemerintahan memungkinkan adanya pengembangan pusat bisnis dan lainnya,” ujar Prof. Ishom.
Lebih lanjut, Prof. Ishom mengungkapkan adanya dorongan dari Menteri Agama agar UIN Banten mulai mengembangkan fakultas kesehatan dan kedokteran. Hal ini menuntut kesiapan infrastruktur IT yang terintegrasi di seluruh area kampus.
“Kami ingin mengembangkan IT yang terintegrasi antara Kampus 1, 2, dan 3. Walaupun kegiatan pokoknya terkait pengembangan set plan dan IT, tidak menutup kemungkinan kita membicarakan pengembangan akademik, khususnya dengan Fakultas IT. Harapannya, di Fakultas IT ini ada kemajuan nyata melalui sinergi dengan ITB,” tambah Rektor.
Senada dengan hal tersebut, Penanggung Jawab Kegiatan dari ITB, Prof. Dr. Ir. Jaka Sembiring, M.Eng., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Menurutnya, sebuah master plan yang baik harus berakar dari keputusan strategis tingkat pimpinan agar hasil kajiannya relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Kami sangat mengapresiasi pertemuan ini karena master plan itu pasti berasal dari keputusan yang paling strategis. Alhamdulillah Pak Rektor beserta jajarannya berkenan meluangkan waktu sehingga kami bisa mendengar, mencoba mengkaji, dan memaknai masukan tersebut. Ini akan menjadi bahan paling penting bagi tim kami dalam pengembangan IT maupun lanskap kampus ini,” kata Prof. Jaka Sembiring.
Selain fokus pada infrastruktur, Prof. Jaka juga membawa kabar baik mengenai peluang kerja sama akademik melalui program fast track. Program ini diproyeksikan memungkinkan mahasiswa UIN Banten untuk memulai jenjang S2 lebih awal saat masih berada di tahun keempat perkuliahan sarjana.
“Di ITB memang sedang diproses aturannya untuk membuat program fast track. Jadi, pada tahun keempat di universitas asal, mahasiswa sudah diperkenankan mengambil beberapa mata kuliah tingkat S2 secara hybrid maupun daring. Dengan begitu, nanti di ITB-nya tinggal satu tahun untuk menyelesaikan program S2. Peraturan Rektornya akan segera keluar, dan ini bisa menjadi bentuk implementasi lebih lanjut dari MoU antara ITB dengan UIN Banten,” jelasnya.
Pertemuan ini diakhiri dengan komitmen kedua belah pihak untuk mendalami detail teknis melalui diskusi kelompok terarah (FGD) yang lebih spesifik, guna memastikan transformasi Kampus II UIN SMH Banten menjadi kawasan pendidikan yang unggul dan modern dapat segera terwujud.
