FadaNews — Fakultas Dakwah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar kegiatan Studium Generale bertema “Media, Politik dan Perubahan Sosial” pada Kamis (23/4). Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si, Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik sekaligus Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai pemateri utama.
Dalam paparannya, Prof Gun Gun menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap komunikasi politik dan dinamika sosial secara signifikan. Menurutnya, ruang demokrasi kini semakin terbuka seiring penetrasi internet dan masifnya penggunaan media sosial yang mendorong partisipasi publik dalam isu-isu politik.
Ia menjelaskan, pengguna internet global pada 2025 mencapai 5,56 miliar orang atau 67,9 persen dari populasi dunia. Sementara di Indonesia, jumlah pengguna internet mencapai 229,4 juta jiwa atau 80,66 persen dari total populasi nasional. Kondisi ini menjadikan ruang digital sebagai arena baru dalam praktik politik modern.
“Dunia digital sangat memengaruhi politik dan melahirkan fifth estate, di mana masyarakat dapat meminta pertanggungjawaban publik dari lembaga maupun individu yang berkuasa,” ujar Prof Gun Gun.
Ia juga menyoroti tantangan demokrasi di Indonesia yang masih berada dalam kategori flawed democracy, ditandai persoalan efektivitas pemerintahan, partisipasi politik, budaya politik, hingga kebebasan sipil. Karena itu, media dinilai memiliki posisi strategis sebagai infrastruktur politik yang harus menjaga independensi serta kepentingan publik.
Selain itu, Prof Gun Gun membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengubah industri media dan jurnalistik. AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat analisis data, dan mendorong inovasi konten. Namun, di sisi lain, teknologi tersebut juga berpotensi disalahgunakan melalui penyebaran disinformasi, deepfake, hingga ancaman terhadap privasi publik.
Ia menekankan bahwa media modern harus bersikap adaptif terhadap perubahan perilaku audiens, perkembangan teknologi distribusi, serta model bisnis yang semakin kompleks.
Menutup pemaparannya, Prof Gun Gun menyampaikan tiga poin penting, yakni media harus menjaga keseimbangan antara bisnis, kepentingan publik, dan kepentingan politik; menaati regulasi yang berlaku; serta menjadikan digitalisasi sebagai sarana menghadirkan perubahan sosial yang berkeadaban.
Kegiatan Studium Generale tersebut berlangsung antusias dan diikuti sivitas akademika Fakultas Dakwah sebagai ruang refleksi atas tantangan media dan politik di era digital.