HumasUIN – Fenomena iklim ekstrem yang dijuluki “Godzilla El Nino” kembali menjadi peringatan keras bagi Indonesia. Dalam beberapa bulan ke depan, anomali ini diperkirakan mendorong kenaikan suhu dan penurunan curah hujan secara signifikan. Istilah “Godzilla” merujuk pada intensitasnya yang luar biasa, sehingga dampaknya tidak bisa dipandang sebagai siklus iklim biasa.
Prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kekhawatiran tersebut. El Nino kuat yang beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi memperpanjang musim kemarau. Kondisi ini bukan hanya soal cuaca yang lebih panas, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas ekologi dan sosial.
Sektor pertanian menjadi yang paling rentan. Ketergantungan pada pola musim membuat petani menghadapi risiko gagal panen ketika air semakin terbatas. Dalam situasi ekstrem, gangguan produksi pangan dapat menjalar menjadi persoalan ketahanan nasional.
Di tingkat rumah tangga, dampaknya tak kalah terasa. Sumber air seperti sumur dan penampungan sederhana mengalami penurunan debit. Kebutuhan dasar mulai dari konsumsi hingga sanitasi pun terancam, terutama di wilayah yang sejak awal memiliki keterbatasan akses air bersih.
Kondisi kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Kawasan gambut menjadi sangat rentan, dan ketika api meluas, dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan masyarakat melalui kabut asap yang berkepanjangan.
Dalam konteks ini, sejarah menawarkan pelajaran penting melalui kisah Nabi Yusuf. Ia menafsirkan mimpi raja Mesir tentang tujuh tahun masa subur yang diikuti tujuh tahun masa paceklik.
Lebih dari itu, ia merumuskan langkah mitigasi: meningkatkan produksi saat masa subur, menyimpan hasil panen dengan sistematis, dan mengendalikan konsumsi secara disiplin. Strategi ini menjadikan Mesir mampu bertahan, bahkan membantu wilayah lain yang terdampak krisis.
Pelajaran tersebut relevan untuk konteks kekinian. Mitigasi tidak bisa ditunda dan harus dimulai dari lingkup terkecil. Rumah tangga perlu membangun kebiasaan hemat air, menampung air hujan, serta memanfaatkan ulang air untuk kebutuhan non-konsumsi.
Pada tingkat keluarga, pengelolaan air menuntut kedisiplinan. Penentuan prioritas penggunaan, perbaikan kebocoran, dan pengaturan konsumsi menjadi langkah sederhana yang berdampak besar dalam menjaga keberlanjutan sumber daya.
Di tingkat masyarakat, solidaritas menjadi kunci. Penampungan air bersama, sumur resapan, hingga kesepakatan distribusi air yang adil dapat mengurangi potensi konflik akibat kelangkaan. Gotong royong, sebagai nilai sosial yang mengakar, menemukan relevansinya dalam situasi krisis ini.
Dalam tata kelola pertanian, adaptasi harus dipercepat. Pola tanam yang menyesuaikan musim, penggunaan varietas tahan kering, serta teknik konservasi tanah dan air menjadi keniscayaan. Kerja sama antarpetani dalam mengatur distribusi air juga menentukan keberhasilan menghadapi musim kering panjang.
Upaya mitigasi juga menuntut komitmen menjaga lingkungan. Larangan pembalakan liar harus ditegakkan tanpa kompromi, baik terhadap individu maupun perusahaan. Kerusakan hutan hanya akan memperparah krisis air dan mempercepat degradasi lingkungan yang dampaknya dirasakan bersama.
Pada akhirnya, ikhtiar menghadapi krisis iklim tidak berhenti pada langkah teknis semata. Seperti dicontohkan Nabi Yusuf, perencanaan dan disiplin harus berjalan beriringan dengan kesadaran moral. Tawakkal kepada Allah SWT, memperbanyak doa, serta menjauhi larangan-Nya menjadi bagian dari ikhtiar batin. Dari sinilah harapan akan perlindungan dan keselamatan dari bencana yang menyengsarakan umat manusia dapat terus dipelihara.
M. Ishom El Saha (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)