HumasUIN – Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten (UIN Banten) mengusung keunggulan berbasis integrasi keilmuan, akal dengan wahyu, dan keislaman-keindonesiaan. Program yang sejalan dengan visi Kementerian Agama ini berbasis cinta, studi ekoteologi, dan pengembangan tata nilai religius-akademis.
Kurikulum ini bertransformasi dari sekadar materi teoritis menjadi penanaman kasih sayang, empati, serta akomodatif terhadap tradisi lokal, sehingga konsep moderasi beragama dapat lebih mudah diterima dan dipraktikkan.
“Implementasi nilai-nilai tersebut kini diperkuat melalui pendekatan ‘Kurikulum Cinta’ yang digagas Kementerian Agama, sebuah metode yang lebih lunak (soft) untuk menumbuhkan rasa menghargai kepada sesama manusia dan alam semesta,” ungkap Prof. Muhammad Ishom, Rektor UIN Banten
Hal tersebut merupakan perwujudan mandat kampus dalam menciptakan atmosfer akademik yang toleran dan saling menghargai. Dalam implementasinya, UIN Banten mengintegrasikan fokus moderasi secara menyeluruh, tidak lagi terbatas pada ‘Rumah Moderasi Beragama’, melainkan di bawah naungan resmi UPT dan LP2M.
Penyesuaian diwujudkan melalui gerakan nyata, salah satunya dengan menanam lebih dari 20 ribu pohon kelapa dan berbagai pohon langka di area kampus, yang melibatkan partisipasi aktif mahasiswa UIN Banten. Kampus UIN Banten juga bersikap terbuka dan suportif terhadap kunjungan atau kegiatan lintas agama di lingkungan kampus.
Hal ini didasarkan pada visi moderasi beragama dan inklusivitas Islam yang damai (rahmatan lil ‘alamin). “Kami kerap mengadakan pertemuan lintas agama. Namun, kegiatan lebih sering diselenggarakan di luar kampus UIN,” tuturnya.
Integrasi nilai lokal Banten dengan moderasi beragama, lanjut Prof. Muhammad, juga dilakukan dengan mengangkat kembali kearifan lokal yang menjunjung tinggi toleransi, seperti sejarah Kesultanan Banten yang inklusif dan harmoni sosial dengan komunitas adat.
Pendekatan ini bertujuan menyadarkan generasi muda akan akar sejarah moderat Banten, yang dicontohkan melalui keberadaan Suku Baduy di tengah masyarakat santri serta jejak historis sultan yang melibatkan berbagai etnis dalam pembangunan.
Dari sisi capaian kinerja tahun 2025, menunjukkan perkembangan pesat, ditandai dengan 16 dari 38 program studi terakreditasi unggul dan peningkatan signifikan jumlah guru besar menjadi 29 orang. Selain itu, UIN Banten kini masuk dalam jajaran 10 besar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia, memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi berprestasi yang setara dengan wilayah Jakarta.
Capaian itu tentu tidak lepas dari sejumlah tantangan. Tantangan utama di kampus UIN Banten adalah belum terintegrasinya tata kelola antara Kampus 1, 2 (Cerceri), dan Kampus 3 (Palima), serta minimnya SDM dengan rasio 1 dosen melayani 60 mahasiswa.
Akibatnya, diperlukan restrukturisasi teknologi, penataan ruang (kerjasama dengan ITB), serta peningkatan pengalaman kerja dosen. Upaya mengatasi rasio dosenmahasiswa yang tidak ideal dilakukan melalui penerapan cyber campus dan pengembangan teknologi informasi.
Selain itu, peningkatan budaya kerja dilaksanakan melalui kegiatan seperti visiting lecture dan pertukaran mahasiswa atau dosen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing kampus. UIN Banten menargetkan menjadi universitas yang unggul dan terkemuka di tingkat nasional maupun internasional, khususnya di wilayah Asia Tenggara.
Untuk mencapai visi tersebut, universitas fokus pada integrasi data publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa guna meningkatkan peringkat Webometrics dan Sinta Score. Selain itu, UIN Banten tengah mengajukan proposal UI Greenmetric sebagai standar pengukuran implementasi ekoteologi kampus di level dunia agar seluruh prestasi dan kemajuan universitas dapat terukur secara sistematis.