HumasUIN – Wakil Rektor II dan Kepala Biro AAKK UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten turut ambil bagian dalam momentum bersejarah bagi masa depan perekonomian bangsa melalui partisipasi aktif dalam agenda Sarasehan Kebangsaan bertajuk “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”.
Acara berskala nasional ini diselenggarakan di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Sabtu, (27/06/2026) dengan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan kunci demi merumuskan arah baru kedaulatan pangan nasional.
Forum strategis ini dihadiri oleh 2.600 peserta yang memadati ruangan, terdiri dari para Rektor, Dekan, serta Dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari seluruh Indonesia. Sinergi lintas sektor ini semakin kuat dengan kehadiran jajaran menteri kabinet dan tokoh penting, di antaranya Menteri KemendiktiSaintek, Menteri ESDM, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, CTO Danantara, Menteri Kelautan dan Perikanan, serta Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Selain itu, hadir pula pakar internasional Prof. Jeffrey Sachs dari Columbia University, bersama para dosen, peneliti, ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta perwakilan dunia industri dan mitra perguruan tinggi.
Dalam pembahasan utama, forum ini menekankan pentingnya kolaborasi tiga pilar utama pembangunan nasional. Perguruan tinggi berperan krusial dalam melaksanakan riset dan pengembangan SDM, sementara dunia usaha, baik swasta maupun BUMN, bertindak selaku penggerak industrialisasi dan hilirisasi. Di sisi lain, pemerintah bertugas menerbitkan kebijakan akomodatif demi menciptakan ekosistem usaha yang berpihak pada petani. Sinergi ini diarahkan untuk mendukung penuh target Presiden terkait Percepatan Swasembada Pangan Nasional melalui komitmen kuat agar target tersebut dapat dicapai dalam waktu yang jauh lebih singkat dan progresif dari lini masa aslinya.

Fokus utama sarasehan ini tertuju pada transformasi radikal dari pola pertanian tradisional menuju pertanian modern. Melalui pemaparan visi mekanisasi dari Menteri Pertanian, penggunaan teknologi canggih seperti traktor besar, drone penyemprot otomatis, mesin panen, dan silo penyimpanan modern akan menggantikan metode manual tradisional yang selama ini mengandalkan tenaga manusia dan hewan. Transformasi besar ini ditargetkan mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen sekaligus meningkatkan hasil produksi hingga 100 persen.
Selain modernisasi alat, pemerintah juga melakukan efisiensi distribusi melalui deregulasi penyaluran pupuk bersubsidi dengan memangkas 145 peraturan yang tumpang tindih di berbagai kementerian dan lembaga. Alur birokrasi yang rumit dipotong menjadi jalur distribusi langsung, mulai dari Kementerian Pertanian, lalu ke Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), diteruskan ke Gapoktan atau Koperasi Merah Putih, dan langsung sampai ke tangan petani. Langkah ini diambil demi menjamin stabilitas harga, penguatan distribusi, dan produktivitas di lapangan.
Penerapan budidaya modern dengan metode seperti PM-AAS ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang masif secara nasional.
Pendapatan bersih usaha tani akan berubah signifikan, di mana keuntungan nasional per musim diklaim akan melonjak tajam dari Rp207,95 Triliun jika menggunakan metode tradisional, menjadi Rp654,33 Triliun melalui metode modern PM-AAS. Dampak nyata dari perbaikan sektor pertanian ini tercermin dari grafik Nilai Tukar Petani (NTP) yang terus merangkak naik hingga mencapai angka tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, yang menjadi indikator kuat meningkatnya kesejahteraan petani secara riil.
Keberhasilan arah kebijakan baru ini dipertegas oleh rilis data dari Food and Agriculture Organization (FAO) per Juni 2026 yang dipaparkan dalam forum. Kondisi domestik Indonesia saat ini dilaporkan mencetak rekor dengan stok beras yang melimpah.
Berdasarkan data produksi global dari tahun 2024 hingga prediksi 2026/2027, Indonesia berhasil menempati peringkat keempat dunia di bawah India, China, dan Bangladesh. Pencapaian ini sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan ASEAN dengan proyeksi produksi mencapai 38,6 juta ton pada periode 2026/2027. Melalui keterlibatan dalam sarasehan ini, Kepala Biro AAKK UIN SMH Banten menegaskan komitmen civitas akademika untuk terus mengawal inovasi demi mendukung penuh Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan sejahtera.