HumasUIN – Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A., menegaskan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai syariah, kearifan lokal, dan filantropi Islam dalam merespons isu green economy dan green Investment.
Hal tersebut disampaikan Prof. Ishom saat membuka webinar nasional “Green Economy & Green Investment: Peluang Transformasi Industri dan Keuangan Syariah Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar Prodi Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN SMH Banten secara hybrid (daring dan luring), Kamis (30/07/2026).
Dalam arahannya, Prof. Ishom menyoroti keunikan yang harus dimiliki oleh program studi Ekonomi Syariah di perguruan tinggi keagamaan Islam. Menurutnya, pendidikan ekonomi syariah di UIN Banten tidak boleh sekadar mengekor pada konsep ekonomi konvensional, tetapi harus memberikan warna khas melalui integrasi nilai keislaman dan kepedulian lingkungan.

“Yang membedakan program Ekonomi Syariah UIN Banten dengan kampus umum adalah kemampuan kita mengintegrasikan ekonomi dengan nilai-nilai syariah dan filantropi, seperti sedekah dan zakat. Dalam Al-Qur’an, konsep green investment bukan hanya soal keuntungan finansial semata, melainkan juga menjaga kelestarian alam dan menebar keberkahan bagi masyarakat luas,” ungkap Rektor.
Rektor juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di daratan, tetapi juga mencakup wilayah lautan. Oleh karena itu, investasi hijau berlandaskan prinsip syariah diharapkan menjadi wasilah atau perantara untuk menjaga kekayaan alam Indonesia agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi penerus bangsa.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Prodi Ekonomi Syariah S2-S3 Pascasarjana UIN Banten, Prof. Dr. Suryani, M.Si., menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyikapi krisis lingkungan global saat ini.
“Isu green economy dan green investment bukan sekadar tren global, melainkan respons atas krisis lingkungan dan perubahan iklim. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, di mana pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan,” jelas Prof. Suryani.

Ia menambahakan bahwa prinsip ekonomi syariah pada dasarnya sudah memiliki fondasi kuat terkait keberlanjutan lingkungan, keadilan, dan kemaslahatan. Industri keuangan syariah dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi motor utama investasi hijau di Indonesia melalui berbagai instrumen seperti green sukuk hingga pembiayaan energi terbarukan.
Webinar nasional tersebut turut menghadirkan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Danareksa (Persero), Ahmad Fauzie Nur, M.BA., sebagai pembicara utama untuk membedah peluang transformasi keuangan syariah dalam mendukung ekonomi hijau nasional