01 Agu

SELAMAT DATANG 1443 H

Sepuluh hari ke depan kita akan meninggalkan tahun 1442 Hijriyah dan berganti ke tahun 1443 H.

Sebagai insan beriman kita sangat berkepentingan dengan penanggalan hijriyah ini karena terkait, tidak saja muamalah tapi lebih dari itu terkait ibadah.

Tidak sah Idul Fitri kalau bukan pada tanggal 1 Syawwal, tidak sah Idul Adha kalau bukan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tidak sah wukuf di Padang Arafah kalau tidak tanggal 9 Dzulhijjah.

Ada dua kelompok manusia yang akan berhadapan dengan kedatangan tahun baru 1443 H.

Yang pertama bagi mereka yang usai melaksanakan ibadah haji dan kedua bagi mereka yang tinggal di tanah air.

Bagi mereka yang usai melaksanakan ibadah haji demi kemabruran hajinya dituntut untuk lebih semangat mengimplementasikan nilai haji yang tercermin baik dari rukun haji, wajib haji, maupun amalan sunnah saat haji.

Bagi yang usai haji seyogyanya terus menggelorakan Piagam Madinah yang penuh nilai kemanusiaan, toleran dan anti-radikslisme di bumi Indonesia umumnya maupun jagat raya ini melalui medsosnya, tulisannya, bahkan obrolan non formalnya.

Walaupun jumlah jamaah haji asal Indonesia di kisaran 350 orang tahun 1442 ini bisa turut menyuarakan arti penting kerukunan yang sudah terpatri dengan semboyan kebangsaan Bhinneka Tunggal Ika.

Demikian halnya kondisi bumi yang tandus namun berkah juga bisa disuarakan untuk tanah kita yang subur, jangan sampai malah dibuat tandus karena pelanggaran hukum dan sebagainya.

Bagi yang berada di tanah air dan tidak berangkat haji tidak perlu gusar dengan adu domba yang tersiar. Tetap tegar dan bersama ikhtiar memutus mata rantai covid-19 dengan taat prokes plus berdoa, bermunajat, berzikir, merendahkan hati penuh harap semoga wabah virus ini bisa lenyap dan dilenyapkan oleh Sang Maha Kuasa.

Bila yang berhaji ada tawaf maka kita yang tidak berhaji ini keliling kampung, desa, dan kota untuk berbagi saling asah asih asuh berupa bantuan kepada warga yang terkena terdampak covid-19.

Bila yang berhaji dilarang memetik pohon saat wukuf karena bisa kena pelanggaran maka yang tidak berhaji mari bersama menjaga lingkungan. Darat, laut, udara milik negara tercinta harus kita jaga kelestariannya.

Bila yang berhaji semua tempat dijadikan tempat sujud maka kita yang tidak berhaji kita jadikan rumah masing-masing menjadi masjid untuk membina keluarga yang samawawan (sakinah mawaddah warohmah wannimah)

Bila yang berhaji ada kegiatan tahalul maka yang tidak berhaji merapikan rambut agar tidak menghalangi saat sujud kita.

Dengan tibanya tahun baru 1443 H ini mari kita hijrah dari meminum minuman yang diharamkan ke minuman yang dihalalkan sebagaimana dicontohkan oleh yang berhaji yakni minum air zam zam .

Saat jamaah haji melempar jumroh sebagai simbol perlawanan terhadap godaan syetan maka di tahun 1443 H ini mari jaga diri dari perbuatan tercela, adu domba, fitnah, menyebar hoax, korupsi, jual beli jabatan, merusak lingkungan, narkoba, miras, seks bebas, dan malas ibadah.

Bila ibadah haji niat di mikot sebagai rukun haji demikian juga tertib maka bagi kita yang ada di tanah air kita jaga niat kita untuk NKRI yang berdasarkan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945 agar tetap utuh.

Kiita dihadapkan dalam kondisi pandemi covid-19 memerlukan persatuan dan kesatuan supaya bisa fokus dan tidak tergerus oleh pragmatisme kepentingan sesaat namun dapat menyengsarakan kondisi kehidupan berbangsa yang sulit diprediksi. Wallahu a’lam. (*)