13 Mei

GENERASI DI TENGAH KULTUSISME BARU

       Suatu ketika Rasulullah menangis. Lalu para sahabat bertanya, "apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?” “aku rindu pada kekasihku". Ujar Rasulullah, seraya menatap wajah para sahabat. "Bukankah kami ini juga kekasihmu ya Rasulullah?”, tanya para sahabat penasaran. "Kalian adalah sahabatku", tegas Rasulullah. "Adapun kekasihku adalah kaum yang akan datang setelahku dan beriman padaku walau mereka blum berjumpa denganku" lanjutnya.

       Hadits ini dari sisi sanadnya masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli hadits. Sebagian menggolongkan dhaif dan sebagian lagi menyatakan sanadnya berkualitas hasan. Akan tetapi dari sisi subtansinya hadits ini mengandung pesan persepektif yang lahir dari seorang pemimpin umat/Rasulullah yang memiliki wawasan berdaya jangkau ke depan. Rasulullah sudah pasti menyadari dan mengenal betul pada para sahabatnya itu sangat setia dan beriman pada Rasulullah. Para sahabat itu di depan Rasul tidak diragukan lagi sangat ta'zim dan mematuhi apa yang diperintah dan dilarang. Kesetiaan tinggi para sahabat ini adalah logis karena mereka sudah lama dikenal dan mengenal keperibadian sehari-hari Rasulullah yang demikian jujur, amanah, berwibawa dan berahlak tinggi.

       Sebagai pemimpin yang visioner dan memilki feeling tinggi, Rasulullah dalam batinnya mengalami kegundahan kreatif untuk memikirkan generasi ke depan yang kelak hidup dalam situasi perubahan tatanan/struktur sosial dan budaya yang jauh berbeda di masanya. Generasi ke depan boleh jadi telah mendapatkan ajaran keimanan dan keislaman secara turun-temurun dari Rasulullah melalui para sahabat, tabiin dan para ulama yang getol menyiarkan ajaran Rasulullah. Ajaran itu kini telah berkembang dan dianut oleh hampir umat seluruh dunia sehingga seiring dengan itu tumbuh pula lembaga-lembaga pendidikan sejak dari sekolah/madrasah/ pesantren hingga Perguruan Tinggi.

       Tidak dipungkiri produk pendidikan telah melahirkan generasi kaum cerdik pandai (ulama/ilmuwan), politisi dan teknorat. Generasi baru ini hidup dalam situasi irama dan gelombang perubahan yang sama sekali baru dibandingkan dengan situasi kehidupan di zaman Rasulullah. Pendidikan zaman Rasulullah yang belum mengenal teknologi mutakhir berjalan sangat efektif di dalam membentuk karakter.

       Rasulullah (selanjutnya disebut Nabi) mendidik umatnya bukan dengan bahasa basa-basi dan teori yang sulit dipahami atau dengan otoritas sakral yang menyuguhkan prilaku feodalisme. Ia mendidik dengan cara memberikan contoh dan keteladanan konsistensi /ahlak alami yang tak pernah cela sehingga para pengikunya tetap setia. Berkat ahlaknya yang tinggi para tokoh kuraisy yang dahulunya paling kejam memusuhi Nabi dengan tanpa paksaan mereka merelakan diri memeluk islam. Nabi SAW juga mengajarkan para sahabatnya agar memutuskan perkara dengan cara berijtihad (berfikir mandiri) setelah dalam kitab suci dan hadits tidak dijumpai secara tersurat dasar hukumnya manakala para sahabat telah bertugas di wilayah luar ( sebagai gubernur/hakim) yang jauh dari Nabi.

       Di zaman mutakhir ini umat tidak lagi bersama Nabi sebagaimana para sahabat yang langsung merasakan kharisma dan kemuliaan pribadi Nabi. Dalam hadits di atas Nabi menangis merindukan umat setelah ketiadaannya yang benar-benar beriman walaupun tidak pernah melihat jasad Nabi. Nabi bahkan menyebutnya sosok umat seperti ini sebagai kekasihnya. Maknanya apa? Disebut kekasih artinya Nabi benar-benar mendambakkan prediket generasi yang imannya berkualitas. Imannya sosok generasi yang tidak melihat simbol, status dan atau karena kultus pada gambar seseorang yang dipandangnya memiliki kelebihan segalanya. Tetap iman yang terbit dari kedalaman hati yang benar-benar tulus. Tidak terjerumus pada keimanan karna jebakan pengaruh kesaktian seseorang yang ditunduki secara buta.

       Sungguh masih banyak di zaman mutakhir ini umat yang disebut kekasih Nabi. Namun tidak sedikit pula generasi terjatuh pada jebakan kultusisme baru. Masih ingat tidak lama ini di negeri kita dihebohkan dengan peristiwa seorang yang dipandang sakti dan mampu melipatgandakan milyaran uang. Konon tidak hanya generasi muda dan kaum biasa yang mempercayai cara-cara klenik yang tak masuk akal itu. Para cerdik pandai, pejabat, pengusaha dan kaum elit lainnya pun banyak yang terperosok ke lembah kultusisme gaya baru ini.

       Masih dengan kultusisme ini, jenis lain dijumpai kultusisme dalam jenis berhalaisme politik kekuasaan dan ekonomi. Jenis kultus ini melibatkan sejumlah strara generasi yang bertekuk lutut dalam hegomoni kekuasan politik dan ekonomi. Kaum cerdik pandai (ulul albab) yang sejatinya berfikir merdeka/ berijtihad ---seperti yang Nabi ajarkan pada para sahabatnya---justru membenamkan nalar keahliannya di bawah telapak raksasa kekuasaan.

      Sejarah daur ulang paganisme menjadi niscaya merambah ke kalangan generasi muda intlektual, politisi dan pengusaha yang terkunci nalarnya mengkeritisi ketimpangan yang sudah berhamparan di ruang publik. Nalar mereka mati suri dalam perbudakan diri ke alam kultusisme baru kekuasaan yang sarat dengan pesona simbol berhiaskan materi/ekonomi. Para begawan dan generasi kehilangan kebegawanannya karena berbelok diri turun gunung menghampiri lampiran politik partisan. Mereka tak terusik daya tajamnya dalam mencandra kebenaran dan ketidakbenaran. Tak lahir lagi dari insan kekasih Nabi yang memancakan percikan dan sinar ilmi sebagai kebenaran sejati.

       Prilaku seperti ini, menurut Antonio Gramsci dalam bukunya the Revolution Against Capital, menyebutnya dengan ideologi hegemoni. Mereka diperbudak kekuasaan bukan karena dipaksa tetapi pasang badan demi menikmatinya simbol dan gambar di luar kebenaran subtansi. Inilah yang dimaksud dengan tangis Nabi yang tergambar dalam hadis di atas merindukan generasi kaum beriman setelah ketiadaannya. Yaitu kekasih Nabi yang beriman bukan karena melihat gambar pesona sang tokoh yang menghipnotisnya tetapi karena semata-mata tunduk pada subtansi ajarannya yang berasal dari kebenaran ilahi.

       Oleh karena itu, di tengah badai virus corona yang masih belum kunjung berakhir ini dibutuhkan para pemipin dan komponen generasi cerdik pandai yang merasakan derita rakyat yang tak berdaya. Lalu meresponnya dengan cara kontribusi dan berbagi tanpa terjatuh pada kepentingan yang bertendensi kultusisme ekonomi bergaya kapitalisme baru. Kultusisme pada gaya ekonomi kapitalisme baru boleh jadi persoalan covid 19 akan berakhir. Akan tetapi emosianilsme masyarakat yang geram menyaksikan dan merasakan ketidakadilan yang bertubi-tubi lambat atau cepat akan menjadi blunder kehancuran yang tak akan terbendung lagi. Nauzubillah !