13 Feb

BERWUDU BERSAMA PRESIDEN JOKOWI

      Beberapa kali saya bertemu dengan Bapak Persiden Jokowi dalam setiap even  selau saja mendapat kesan yang mengharukan.  Kesan  itu teramati dari gesture Pak.Jokowi  yang amat bersahaja dalam cara memndang, menyapa  rakyat,  senyum dan berpakaian yang dikenakannya di tengah  rakyat yang dikunjunginya.

      Dengan  sifat bersahabat dan  kebersahajaannya itu warga masyarakat yang dikunjungi  tak sungkan mendekatinya dan berebut ingin bersalaman dan  berpoto bersama tanpa ragu dan rasa takut. Pak Jokowi pun meladeninya sepenuh hati tanpa rasa keberatan sedikit pun. Bahkan  saya sempat melihat  Pak jokowi  dari dekat berupaya dan bergegas menemui kerumunan warga yang  belum berkesempatan bersalaman  dan berpoto bersama

       Sifat bersahja Pak Jokowi semakin saya rasakan  saat beliau menunaikn salat idul Adha berjamaah di Masjid Agung Al-Tsawrah Serang Banten dimana saya menjadi khatibnya. Pak Jokowi dengan tekun mendengarkan khutbah yang saya sampaikan dan sekali waktu menatap wajah saya. Di luar dugaan, baru saja saya turun dari mimbar Pak Jokowi dengan cepat melangkah ke depan  dan memeluk saya . "Bagus Pak" ujarnya memuji khutbah saya seraya melepaskan senyum khasnya.

       Pak Jokowi  kemudian meminta  saya agar berpoto bersama. Pak Teten Masduki yang berada di samping Pak Jokowi meminta  saya agar merapat di sisi Pak Persiden. Lalu Pak Teten  dengan cepat mencabut telpon seluler dari sakunya dan langsung menjepretkan kameranya. Tidak lama setelah itu Pak Jokowi menuju  hewan korban miliknya sebgai  ibadah  kurban yang akan diberikan  buat masyarakat setempat.

     Di tempat itu lagi lagi Pak Jokowi harus menyelamani kerumunan warga yg sangat antusias ingin berkomunikasi dari dekat. Usai menemui kerumunan masa yang tak terbendung itu Pak Jokowi menghampiri saya dan menyatakan hal yang amat mengagetkan di depan saya, " Pak Rektor pengusaha-pengusaha besar yg berkelas kakap yang masih menonopoli pedagang pedagang kecil itu harus saya basmi" ujar Pak Jokowi. " Bayangkan Pa Rektor", lanjut Pak Jokowi, "di negri kita ini hal yang kecil-kecil saja masih impor" . "Garam impor, beras impor ,  buah-buahan impor dan sapi pun impor" "Harga sapi di Malaysia itu murah Pak Rektor tapi di negeri kita ini mahal sekali" . "Ini pekerjaan pengusaha yang kurangajar". "Akan saya berantas Pak Rektor" Tegas Pak Jokowi.

      Saya sangat percaya apa yang dikatakan Pak Jokowi itu lahir dri hati yang tulus, spontan dan tidak diada ada. Pak Jokowi tidak sedang menghujat seluruh pengusaha kita bandel. Tapi ada beberapa pengusaha yang memang mengabaikan hak-hak pengusaha kecil sehingga yang besar makin melejit  yang kecil makin terhimpit.

       Poin yang patut dipetik dari pernyataan Pak Jokowi ini ia mengutarakannya dengan tegas tanpa tembok penghalang. Padahal  seharusnya menjadi rahasia, apa lagi disampaikan di sekitar orang-orang  seperti saya yang levelnya orang lokal. Ini berarti terkandung keseriusan Pak Jokowi yang ingin membela meningkatkn taraf kehidupan ekonomi arus bawah di satu sisi dan membasmi prilaku monopoli sebagai bentuk ketidakadilan ekonomi di sisi lain.

       Keseriusan Pak Jokowi makin terlihat ketika ia bersama Prof Dr. KH. Makruf Amin menggagas perlunya membangun ekonomi arus baru. Menurut  KH. Makruf Amin, Persiden Jokowi  sangat mendukung gagasan pembangunan ekonomi yang berbasis umat/ kerakyatan. Membangun Ekonomi arus baru ini, kata Makruf Amin, sebagai distribusi aset yang tidak top down / dari bawah  ke atas tapi  terdistribusikan ke bawah.

       Gagasan itu ditangkap cepat Pak Jokowi  dengan melakukan kunjungan ke pesantren-pesantren sekaligus meresmikan pendirian ekonomi mikro syariah di pesantren yang sudah ditentukan sebagai proyek percontohannya.

      Uraian ini tentu dapat menepis pandangan  dan berita hoax yang selama ini menyudutkan Pak Jokowi dengan narasi-narasi yang selalu negatif. Sebagai manusia biasa, Pak Jokowi  bukanlah sosok sakral  yang tidak pernah mengenal kesalahan. Akan tetapi tidaklah arif dan adil bila yang selama ini dilakukannya nihil dari kebaikan. Kerap kali blusukan dan kunjungan daerah yang dilakukan Pak Jokowi dipandang sebelah mata sebagai pencitraan. Padahal dari belusukan dan kunjungannya itu Pak Jokowi menyaksikan dan mendengar  langsung apa yang menjadi beban dan keluhan masyarakat untuk kemudian dicari pemecahannya secara simultan. Salah satunya adalah kunjungan ke pesantren yang hasilnya ditindaklanjuti dengan mendirikan ekonomi mikro syariah di pesantren.

      Anehnya pandangan negatif pada Pak Jokowi tidak terhenti di sini. Ia juga dituduh persiden keturunan PKI yang tidak sensitif dengan nilai-nilai agama. Tidak dekat dengan ulama dan tidak bisa baca Qur'an. Kesan sebaliknya yang paling mengharukan justru pada saat acara konsultasi cendekiawan dunia islam tingkat tinggi di istana Bogor, saya sempat menyaksikan Pak Jokowi menjelang salat zuhur  berwudu di masjid dengan baik. Saya perhatikan sejak niat wudu ia membacanya dengan fasih sampai dengan cara-cara membasuh anggota wudu ia melakukannya dengan tertib. Usai berwudu Pak Jokowi kaget melihat saya yang berdiri disampingnya. Beliau tampaknya masih ingat  lalu  menyapa saya  dengan senyumnya yang amat simpatik. " Hai Pa Rektor terimakasih ya atas kehadirannya". " Sama-sama Pak Presiden"  jawab saya. Tidak lama setelah itu kemudiam saya  bersama Bapak Persiden menuju ke masjid untuk menunaikan salat berjamaah zuhur. Wallahu Aa'lam