25 Mei

KISAH KEMANUSIAAN TAK BERSEKAT

          Hikmah yang amat mengharukan pernah menjadi kisah harmoni diantara seorang pendeta dengan seorang anak pelajar muslim di sebuah kampung Afrika. Anak kecil itu bernama Farid Esack. Kini ia menjadi doktor ahli Tafsir Al-Quran. Farid kecil adalah seorang anak desa yang miskin dan menderita tapi semangat untuk bersekolah. Uang tak punya dan pakaian seadanya.

          Suatu ketika di musim hujan salju ia hendak pergi ke sekolah. Sepatu tak punya semntara ia harus menembus jalan salju. Demi menggapai cita belajar ia paksakan lari melewati salju tanpa bersepatu.

          Tiba-tiba kaki sang anak itu tak kuat menahan dinginnya salju. Lalu ia terjatuh pingsan. Melihat anak yang terjatuh,  Pendeta Maria Shely dari kejauhan berlarian hendak menolong anak tersebut. Sang pendeta membangunkan dan memeluk anak itu dengan penuh kasih. Lalu ia bawa ke rumahnya. Sesampai di sana anak itu siuman dan diberinya roti untuk menghilangkan rasa lapar yang menderanya begitu lama.

          "Nak tolong ceritakan kenapa engkau jatuh pingsan". Tanya pendeta. "Aku ingin jalan menuju sekolah di saat salju turun dengan lebat. Aku tidak punya sepatu karena itu aku lari demi menahan dari kedinginan. Tiba-tiba kakiku tak kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulang kakiku sehingga aku terjatuh",  ujar sang anak lirih.

          "Ya Tuhan sungguh kau menderita hari ini. Siapa orang tuamu Nak" tanya pendeta terperangah. "Orang tuaku sudah lama tiada. Aku seorang diri ingin menjadi orang yang berhasil karena itu aku butuh biaya untuk sekolah. Darimanapun biaya itu ku dapatkan yang penting aku bekerja keras dengan jalal halal". Ucapnya lugas.

          Mendengar jawaban sang anak pendeta Maria menatapnya dengan perasaan kasih dan dibelailah bahu sang anak itu pelan-pelan. Seraya berucap, "Nak sudahlah jangan kau pikirkan tentang biaya sekolah. Kau kini aku angkat sebagai anakku. Silahkan kau lanjutkan belajar ke sekolah Islam. Aku serahkan pada pilihanmu untuk belajar dan menganut agamamu dengan taat dan berkepatuhan", pinta sang pendeta itu tulus.

          Konon kisah panjang ini mengantarkan sang anak kini menjadi pemikir besar dan Doktor ahli bidang Tafsir Quran. Anak itu bernama Dr Farid Esack. Pikiran-pikirannya menghiasi jurnal dunia. Kegiatan kegiatan seminar dan ide-ide besarnya tentang keharmonian  antar agama tersiar dalam rekaman youtube.

          Saking harunya merasakan kebaikan dan rasa kasih Pendeta terhadapnya. Farid Esack  pun dalam suatu kesempatan menyatakan. "Sungguh aku ingin mengucapkan  terima kasih banyak pada Ibuku Pendeta Maria Shely yang telah menyalamatkanku dari pederitaan. Aku dibangunkan dan dibelai dari tragedi yang nahas. Lalu aku disekolahkan hingga aku menjadi seorang Doktor. Aku terkadang membuat kesal padanya. Tapi Ibuku Maria seorang arif. Tak pernah keluar caci dan kemarahan dari lisannya. Aku disentuhnya dengan nasehat tanpa paksaan. Aku dibiarkan memilih jalan agama yang aku anut hingga sekarang. Yang ingin aku katakan sekarang sungguh Ibuku pendeta Shely adalah orang yang bijak, arif dan toleran. Betapa adilkah Tuhan kalau Ibuku Maria Shely kematiannya kelak telah disiapkan ke dalam surga dengan tenang.

          Kisah di atas patut menjadi renungan kreatif dan sekaligus pelajaran bagi siapa saja yang ingin membangun harmoni dan empati kemanusiaan.  Harmoni dan kerukunan di negeri ini tak akan terwujud dengan kokoh manakala tidak diiringi dengan empati kemanusiaan yang tak bersekat. Sikap kemanusiaan yang masih terhalang dengan sekat kelompok, struktur, suku dan apalagi agama akan menjadikan negeri ini tercabik konflik kecemburuan yang fatal.

          Dalam situasi sosial ekonomi politik yang masih sensitif dan meninggalkan saldo troumatik ini, ketulusan pendeta Maria menolong anak yang tengah kesusahan pendidikan hingga menjdi pemikir besar Islam  merupakan inspirasi teragung yang patut diteladani.