05 Apr

KIYAI SARDEN DAN SARDUN MURID AYAHKU

          Malam itu usai salat Isa kiyai Sarden dan Kiyai Sardun seperti biasa menggelar tikar untuk persiapan halaqah pengajian. Ayahku pulang dahulu untuk sekedar makan malam. "Nak temani Kiyai Sarden dan Kiyai Sardun malam ini  ada pengajian di masjid". Ujar ayahku seraya menenggak segelar air. "Baik ayah, aku segera ke masjid". Jawabku singkat.

          Setibanya di masjid aku membantu mengurai dan menggelar tikar yang masih bergulungan. Kiyai Sardun tersenyum menyaksikanku berpartisipasi. "Bagus nak latihan" ucapnya sambil mengelus kepalaku. Akupun senyum, bangga.

          Aku tak tahu apa arti kata latihan yang terucap Kiyai Sardun. Selama kata tersebut belum dipahami selalu mengganjal pikiranku. Saat  ku tanya pada kiyai Sardun, ayahku datang mengapit kitab Taqrib dan kitab Jurumiyah. Kiyai Sarden dan Sardun spontan berdiri mencium tangan ayahku diikuti oleh yang hadir. Seketika itu rasa yang mengganjal pikiranku lenyap dan pengajian pun dimulai.

          "Kiyai Sardun, baca bab Taharah!" pinta ayahku. "Baik kiyai saya baca" ujar Kiyai Sardun.

          Belum sampai ke beberapa baris kalimat kiyai Sardun ditegur oleh kiyai Sarden karena kesalahan baca di ujung kata al-ilma yang harusnya fathah dibaca dhomah. "Betul" ujar ayahku membenarkan Kiyai Sarden.  Kiyai Sardun tampak wajahnya merah menahan malu. "Kenapa dibaca fathah?", tanya ayahku pada Kiyai Sarden. Baru saja Kiyai Sarden menyiapkan jawaban, aku dengan cepat menyerobot,  " maf'ul ayahku". "Betuul anakku". Timpal ayahku dengan Bangga. Kiyai Sarden dan Kiyai Sardun pun ikut senyum mendengar jawabanku yang tangkas.

          Demikian adegan halaqah pengajian berjalan  polos dan terbuka. Kiyai Sarden dan Kiyai Sardun memang dua sosok kiyai standar yang peringkatnya di bawah ayahku. Mereka amat setia menjadi khadim pengajian Ayahku. Di atas ayahku ada peringkat kiyai yang bernama Asyikin yang menggelar halaqah bulanan dengan audiensi lebih besar, lintas kampung. Ayahku dipercaya Kiyai Asyikin mengelar pengajian mingguan lantaran mampu menghafal alfiyah dari permulaan hingga ujung dan sebaliknya menghafal dari  ujung ke permulaan.  Itu sebabnya Kiyai Sarden dan Kiyai Sardun ta’zim pada ayahku.

          Namun semua tokoh di atas adalah manusia. Kehidupannya dibatasi oleh space, kontek dan relasi. Mereka tidak akan mampu menembus dimensi misteri ilahi Yang Maha Suci di atas segalanya. Kiyai Sardun bermuka merah padam saat bacaanya dikritik Kiyai Sarden. Kiyai Sarden dinilai lambat menjawab pertanyaan ayahku. Demikian pula ayahku merasa bangga saat mendengar jawaban anaknya dengan tangkas. Pada akhirnya semua cair. Saling memahami. Tidak ada yang merasa tinggi dan rendah. Bersabar dalam segala bentuk dan hiruk pikuk berinteraksi. Inilah yang kata kiyai Sardun kita sebagai manusia yang tidak suci harus banyak latihan dalam hidup yang penuh tantangan ini.