05 Apr

KITAB JURUMIYAH DICELA

          Sudah sekian tahun ayah mendidikku menghafal dan mengi'rab kalimat per kalimat kitab jurumiyah. Setiap pagi usai salat subuh ayahku menjadwal dengan getol dan ketat mengajarku ilmu nahwu dan saraf. Aku diajari mentasrif fiil tsulatsi mujarad dan amtsilah mukhtalifah. Ilmu nahwu aku diajar mendalami kitab jurumiyah. Adapun ilmu fikih aku diajar kitab taqrib usai salat isya.

          "Nak tekunilah dahulu kitab jurumiyah dan taqrib ini" ujar ayahku memberi arahan." "Setelah ini baru kau dalami kitab fath al muin dan kitab mutamimah". Lanjutnya.

          Setelah aku mendaptkan arahan dari ayah. Hatiku bertanya,  kitab apa lagi yang harus diajarkan ayah pada ku. Padahal aku sudah tamat berulang - ulang, menghafal dan mengi'rab kitab jurumiyah dengan lancar. Bahkan aku sudah mampu  membaca kitab dardir tanpa syakel dengan lengkap dan lancar. Di usia 6 tahun aku dites oleh ayah untuk membaca kitab dardir dari kampung ke kampung. Di sana ramai sekali orang-orang menyaksikan penampilanku membaca kitab gundul itu dengan fasih dan lancar.

          Rupanya ayah tahu apa yang sedang aku pikirkan. Lalu menegur. "Nak tidak usah banyak pikiran. Apa yang engkau banggakan hari ini menghafal, mengi'rab kitab jurumiyah dan membaca kitab dardir tanpa syakel . Itu hanya kebangaan sesaat untuk mengelabui masyarakat tentang kepintaranmu. Padahal kamu belum seberapa mampu dengan keasliannya. Engkau sebenarnya belum mampu membaca kitab gundul. Yang engkau baca itu hanyalah hafalan-hafalan luar kepala. Tapi engkau tdak akan bisa baca kitab gundul lain seperi yang tidak engkau hafal" ungkapnya seraya menunjukkan kitab fathul muin.

          "Nak ayah ingin kasih cerita".  Lanjutnya, "Baru-baru ini banyak orang pinter bicara yang kerjanya mengendus dari mimbar ke mimbar tapi tak memberikan keteduhan.

           Mereka maunya mencela kitab jurumiah dan membid’ahkan qunut, tahlil dan muludan. Bahkan mereka dengan lantang mencela kitab jurumiyah sebagai kitab rendahan yang tidak akan membawa yang belajar menjadi maju dan moderen". Ujar ayahku menyimpan kekesalan.

          "Nak", “ya ayah aku terhentak.” "Sudahlah tidak usah hiraukan mereka" . Ayahku mengalihkan perhatian. " Asal engkau tahu saja mereka yang mencela kitab jurumiyah itu orang-orang baik dan pintar. Satu hal saja mereka belum mau bersabar untuk belajar menekuni kitab secara berketahapan. Apalagi mereka harus menghafal dan mengi'rab kitab jurumiyah berbulan dan bertahun seprti engkau. Mereka benar belajar tapi yang dipelajari selama ini buku buku terjemahan saja. Itulah sebabnya mereka dengan terpaksa mencela kitab jurumiyah" ujar ayahku menengahi.

          "Padahal anakku", lanjut ayah, orang- orang besar dan guru guru kita seperti Kiyai Dahlan, Kiyai Idham Khalid dan Kiyai Saefuddin Zuhri yang pernah menjadi menteri itu semuanya belajar dan pintar kitab jurumiyah" tegas ayahku memberi contoh. "Anakku coba lihat nih" seraya jarinya menujuk ke arah Kiyai Sarden dan Sardun. Mereka itu kiyai yang biasa tapi hatinya jernih. Ucapannya tdak pernah meluap-luap dan mencela orang lain. Itu karena tekun dan mau belajar kitab-kitab seperti ini" ujar ayahku seraya memegang kitab jurumiyah dan kitab taqrib. "Nak dengar" seru ayahku. "baik Ayah" kataku. "Engkau perlu tahu kitab jurumiyah ini kata sementara orang kecil dan tak berharga tapi Ibnu Ajjurum, pengarangnya, ulama besar dan ahli berhitung" (Maksudnya ahli matematika). Tegas ayahku mengakhiri pembicaraan.

          Cerita di atas merupakan nasehat seorang ayah, kiyai kampung, kepada anaknya yang benar-benar terjadi sekitar tahun 60 an. Seluruh subtansi dari cerita itu benar adanya dan tidak dibuat-buat kecuali nama tokoh yang sengaja disamarkan. Sungguh tidak sedikit ibrah atau pelajaran yang dapat dipetik dari cerita tersebut.

          Pertama, para tokoh/pencerah umat sejatinya menunjukan karakter yang mulia terutama dari sisi menjaga lisan dan perilakunya. Kebiasaan/karakter suka mencela tanpa mengenali wujud atau kenyataan yang sebenarnya agar benar benar dihindari. Apa lagi kebiasaan mengklaim kelompoknya paling suci / banar. Sementara kelompok lain paling salah, sesat, dan bid’ah.

          Kedua, para penggali ilmu tidak boleh cepat letih atau tidak sabar dalam memperoleh bidang keilmuan. Terutama mendalami sumber ilmu keagamaan yang berasal dari sumber asli baik yang bersumberkan kitab klasik maupun yang bersumberkan dari bahasa asing lainnya. Legacy para ulama pendahulu yang demikian sabar, telaten, dan dalam / perfect menguasai turats islam menjadi sumber inspirasi dan keteladanan.

          Ketiga, di era disrupsi yang makin gandrung dengan penggunaan digital, para pencari ilmu keagamaan tidak akan cukup hanya mengandalkan data sumber sekunder/ apalagi berupa terjemahan  tanpa meneliti sumber/turats aslinya lewat digital. Sekecil apapun sumber ilmiah, bagi seorang peneliti / penggali ilmu tidak mungkin mencela dan menghinanya. Letak kekuatan ilmiah tergantung dari sisi objektif, valid dan perfect nya data ilmiah itu sendiri.

          Semoga kita semua dapat mengambil ibrah dari kisah ini. Amin. Wallahu A'lam.!