15 Sep

ANJING (PUN CIPTAAN) TUHAN

Keunikan al-Qur'an sebagai kitab terbuka dan berani tak dapat di sangkal oleh siapapun di dunia ini. Tantangan Tuhan yang ditawarkan-Nya serta kepolosan dalam statment-Nya membuktikan keterbukaan al-Qur'an. Tak terkecuali sebutan-sebutan kalimat yang bernada baik, buruk, memajukan, menjijikan, menggetarkan dan yang mengerikan semuanya ternyatakan dalam al-Qur'an. Tak satupun dalam al-Qur'an sesuatu yang tertinggal (Q.S. 6 :38).

 

Tak mengherankan segala ragam nama tersebut dalam al-Qur'an sejak manusia terbaik Adam sampai Muhammad. Manusia/makhluk bengis sejak Iblis, Firaun, Qarun, musyrik, munafik, fasik, kafir sampai Abu Lahab. Termsuk spesies hewan sejak lebah, semut, belalang, kambing, sapi, burung gagak, katak hingga binatang paling najis pun disebut dalam al-Qur'an seperti babi dan anjing.

 

Semua yang diungkap Tuhan dalam bahasa Al-Qur'an menggambarkan kecerdasan konektif Tuhan dalam menyapa/mendialogkan pesan-pesan-Nya di tengah realitas yang dihadapiNya. Mustahil realitas yang komplek dan penuh dengan segmen budaya tanpa dikonstruksi oleh bahasa Tuhan yang budayawi/manusiawi. Jacques Derirda menyebutnya sebagai bahasa teks yang menjadi tulisan yang terlepas dari dirinya saat berada di ruang halaman.

 

Teks Tuhan yang telah menghalaman ini menjadi tanda untuk menyambungkan pesan dan sekaligus memberikan pemahaman/ibrah kepada seluruh objek/segmen kehidupan. Dalam bahasa semiotik teks itu kemudian langsung berhubungan dan dipahami maknanya karena telah terjadi mekanisasi kimiawi budaya yang meleburkan komunikasi kemanusiaan.

 

Dalam konteks ini firman Tuhan merupakan keranjang kebudayaan yang berusaha mengadopsi seluruh simbol dan pesan budaya. lalu dikembalikannya ke segmen untuk dipahami maknanya dengan logis dan mudah. Oleh karena itu seluruh pesan/ungkapan Tuhan yg ternyatakan dalam al-Qur'an tak selalu tunggal pemaknaannya. Di balik itu terkandung multi makna yang signifikantif dengan lingkungan budaya di mana pesan Tuhan dipublikasikan.

 

Dengan demikian ungkapan anjing yang dimonumentalkan Tuhan dalam al-Qur'an memiliki signifikansi pembelajaran kebudayaan dan keadaban bagi umat manusia. Terminologi anjing kerap dipinjam umat manusia sebagai alat hujat dengan cara menganjingkan sesamanya. Dua kesalahan sekaligus dalam perilaku ini. Pertama manusia menghujat anjing itu sendiri sebagai binatang yang amat buruk. Kedua manusia menjeniskan keburukan sesamanya seperti anjing. Padahl dua makhluk ini dikatagorikan Tuhan sebagai sesama umat yang harus dilindungi dan dihargai martabatnya (QS. 6: 38).

 

Posisinya sebagai umat, maka anjing adalah milik Tuhan. Ia adalah tergolong makhluk yang diciptakan Tuhan dengan tidak sia-sia (QS. 3 : 191). Beberapa pembelajaran keadaban dan kebudayaan terhadap anjing Tuhan ini telah dipetik dalam firmanNya yang paling fanomenal dan fundamental.

 

Pertama, dalam sejarah, Tuhan pernah mengecam ulama besar di zaman Nabi Musa yang bernama Bal'am bin Ba'ura. Ulama ini yang semula berjuang bersama Musa melawan kekuatan dan keangkuhan Tirani Fir'aun, ia berbalik menjadi melawan Nabi Musa dan mendukung Firaun untuk memerangi Nabi Musa demi limpahan harta suap yang diterimanya. Lalu Tuhan menyebut ulama itu tidak istikamah dengan kebenaran karena tenggelam dengan segala arus baik dan buruk. Tuhan menyebut ulama itu sejajar dengan mulut anjing yang selalu menjulurkan lidahnya baik saat dihalau maupun dibiarkan (QS. 7 : 176).

 

Kedua, Anjing yang sangat setia menemani orang -orang yang saleh dan berkualitas. Anjing Tuhan ini tidak liar dan lunak dikelola orang yang mempunyai kecakapan menjinakkannya. Dalam al-Qur'an orang-orang saleh ini dikenal sebagai pemuda kahfi. Selama 309 tahun pemuda kahfi ini mampu bergaul dan ditemani anjing tanpa emosi dan keluhan apapun (QS. 18 :18). Ini membuktikan bahwa orang yang beriman dan berkualitas memiliki integritas dan tanggung jawab yang tinggi. Bukan saja kepada sesama umat manusia tetapi juga disenangi anjing dan mengharagai anjing sebagai makhluk Tuhan.

 

Ketiga, Tuhan telah memberikan hak prevelage kepada siapapun yang memiliki kecakapan profesiaonl. Termasuk kepada anjing terdidik yang mempunyai kecakapan berburu. Kepada Anjing profesional inilah Tuhan memberikan hak istimewa dengan tidak menajiskan dan mengharamkan binatang-binatang buruannya (QS. 5 : 4 ).

 

Dalam situasi bangsa yang makin rentan dengan konflik dan nilai-nilai budaya toleransi yang dirasakan hampir terkikis. Uraian di atas menjadi pelajaran kita untuk membangun saling toleransi dan menebar perdamaian dengan siapapun makhluk Tuhan di muka bumi.

 

Sikap Tuhan yang sangat menghargai anjing merupakan sikap keberpihakan universal Tuhan yang patut diteladani oleh setiap umat manusia. Perilaku rasis dan kekerasan antara sesama bangsa segera dilenyapkan karena tidak sesuai dengan peradaban ketuhanan dan kemanusiaan. Semoga !