08 Sep

BURUNG GAGAK TUHAN

Tuhan sebagai penyusun kitab suci Al-Quran Yang Maha Cermat tentu sudah memperhitungkan setiap pilihan kata yang diungkapkan. Termasuk isi dan sistimatika yang disajikan dalam al-Quran tersebut.

 

Sebagai umat yang beriman kepada al-Qur'an berdasarkan ilmunya akan meyakini tanpa ragu dan curiga bahwa al-Quran adalah kitab yang disusun Tuhan dengan orisinil (bukan plagiator).

 

Sebaliknya, bagi yang tidak mengenal konstelasi keilmuan al-Qur'an, ia pasti akan mencibir al-Qu'ran sebagai kitab kuno yang berhiaskan mitos dan dongeng-dongeng hayali yang tak ada signifikansinya dengan kehidupan kongkrit.

 

Sebagai contoh adalah kaum orientalis yang meragukan bahasa Tuhan dalam al-Qur'an tentang kalimat-kalimat perumpamaan yang dibuatnya. Kaum orentalis itu dengan nada menghina menghujat Tuhan bagai anak kecil yang gemar membuat perumpamaan dengan binatang-binatang yang sesungguhnya tidak pantas diungkapkan Tuhan. Mereka beralasan perumpamaan binatang yang dibuat Tuhan itu sama sekali tidak ada gunanya karena semata merupakan binatang mitos yang menjadi fokus dongeng-dongeng yang sudah ketinggalan zaman (Out of date)

 

Tuhan sendiri dalam al-Qur'an dengan lantang dan lugas menyatakan tidak akan pernah malu membuat perumpamaan dengan binatang walau dengan binatang sekecil nyamuk sekalipun. Kelantangan Tuhan ini merefleksikan inuguinitas keberaniannya bahwa nyamuk yang dijadikan perumpamaannya itu adalah benar mengandung daya signifikansinya dengan realitas kehidupan.

 

Kuntowidjoyo dalam bukunya Paradigma Islam : Interpretasi untuk Aksi mengungkapkan bahwa untuk memahami bahasa Tuhan perlu dicermati mana bahasa yang kongkrit dan bahasa yang menjadi postulat. Dengan begitu kita akan memahami dengan mudah bahasa Tuhan yang tidak selalu hampa dengan strategi kebudayaannya sendiri dalam membaca realitas yang dihadapinya.

 

Dalam hal ini, maka ungkapan Tuhan tentang kalimat nyamuk jelas menunjukkan strategi kebudayaan Tuhan yang amat cerdas dalam merespon kaum kafir yang masih dangkal pengetahuannya tentang hakekat/ keunikan nyamuk. Para ahli biologi menemukan keunikan nyamuk dri sisi sensor pendengarannya amat tajam meliputi 15.000.000 sensor elektrik.

 

Kedangkalan kaum kafir itu terlihat dari kritik tegas Tuhan yang terungkap dalam ayat berikutanya yang menyatakan bahwa sebagian dari orang kafir dengan kata perumpamaan itu ada yang kebudayaan prilakunya sesat dan ada pula yang kebudayaanya tercerahkan (Q.S . 2 : 26).

 

Sebagaimana halnya keunikan nyamuk tentu dengan binatang -binatang lain pun yang disebut Tuhan dalm firmanNya seperti semut, lebah, lalat dan laba-laba memiki keunikan yang tidak jauh berbeda. Termasuk keunikan burung gagak yang menjadi judul tulisan ini.

 

Burung gagak diutus Tuhan pada saat situasi kebudayaan masyarakat yang masih terdiri dari beberapa unsur keturunan Nabi Adam yang belum mengenal kebudayaan dengan amat sempurna. Bahkan dijumpai salah satu keturunan yang bernama Qabil berperilaku dengki, rakus dan kasar terhadap adik kandungnya yang bernama Habil.

 

Konon diceritakan bahwa ibadah kurbannya Qabil tidak diterima Tuhan karena benda yang dikurbankan berupa gandum yang sudah busuk dan cacad persyaratan. Berbeda dengan Habil, ia berkurban dengan seekor ternak kambing yang sehat/tidak cacat. Lantaran karakter Qabil yang tidak diterima kurbannya oleh Tuhan ia kemudian tidak diizinkan nikah dengan Iklima adik kandungnya yang paling cantik. Iklim justru dinikahkan dengan Habil yang dinilai berkarakter tulus dan ikhlas dalam berkurban. Qabil pun cemburu lalu tumbuh niat jahatnya untuk membunuh Habil, adik kandungnya sendiiri.

 

Setalah Habil itu benar-benar dibunuh. Qabil sama sekali tidak mempunyai pengetahuan/kebudayaan bagaimana cara menguburnya. Dalam situasi kebingungan budaya inilah Tuhan mengutus burung gagak ke bumi untuk menggali tanah dengan kukunya yang tajam. Qabil menyaksikannya dan merasa mendapatkan ilmu menggali tanah sehingga ia meniru cara burung gagak untuk mengubur mayat Habil (QS. 5 : 31).

 

Straregi budaya Tuhan mengutus burung gagak ini, secara simbolik terkandung strategi cerdas Tuhan dalam memberikan pelajaran umat manusia yang masih berbudaya dangkal, rakus, dan kejam. Padahal manusia telah dipilih Tuhan dengan diberinya anugerah akal tetapi tidak mempergunakannya dengan baik.

 

Manusia yang berkarakter di bawah sadar ini memang pantas diberi pelajaran oleh sang burung gagak yang notabenenya bukan makhluk sempurna seperti manusia dengan atribut akalnya. Dengan pelajaran seperti ini manusia sesungguhnya sedang direkognisi kesadaranya dan diberi hukuman oleh sang binatang agar kembali ke jalan budaya yang benar dan berakal yang waras.

 

Di era modern dengan gaya hidup dan berbudaya tinggi ini ternyata tidak sedikit dijumpai orang yang cerdas tapi berperilaku tidak waras. Padahal mereka lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Akan tetapi sebagian dari mereka masih saja yang berkarakter dan berotak di bawah sadar. Mereka kerap larut dalam debat dan konflik yang berkepanjangan. Bahkan dengan otak di bawah sadarnya itu mereka berani saling hujat. Emha Ainun Najib dalam tulisannya meyayangkan banyak kaum cerdas yang gemar membinatangkan bangsanya sendiri seperti dengan kalimat mencacingkan orang. Padahal cacing tidak pernah bersalah yang salah adalah manusia-manusia cerdas yang telah mencacingkan SDM dan tata kelola kehidupan umat/bangsanya sendiri.

 

Oleh karena itu dalam situasi kerisis kemanusiaan ini, tampaknya Tuhan perlu mengutus kembali burung gagak super cerdas dan berbudaya tinggi untuk mendidik ulang umat manusia yang otaknya telah mengalami erosi. Pencerahan ulang oleh sang burung gagak ini secara simbolik terkandung sindiran yang amat memalukan sehingga umat manusia yang telah mengalami erosi dan distorsi tadi dapat bangkit kembali dengan otak cerdas memperbaiki martabat kesejahteraan lingkungannya. Semoga !