30 Okt
104

UIN SMH Banten Harus Mampu Arusutamakan Moderasi Beragama

Sekjen Kemenag RI M Nur Kholis Setiawan mengatakan, UIN Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten harus mampu mewujudkan pemikiran yang mengarusutamakan kepada moderasi beragama, ujarnya pada Sidang Senat Terbuka yang dipimpin Rektor UIN SMH Banten Prof. Dr. H. Fauzul Iman, MA, dihadiri Gubernur Banten H. Wahidin Halim, dan para tamu undangan lain.

“Salah satu pilar yang menjadi pedoman UIN yakni pilar keislaman. Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), maka core businessnya adalah kajian keislaman. Pendidikan yang dikembangkan di UIN adalah kajian yang mampu mengarusutamakan moderasi beragama. Sebab, ini menentukan masa depan Indonesia, kerukunan umat beragama dan peradaban Indonesia di masa mendatang,” kata Nur Kholis saat menyampaikan orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-56 UIN SMH Banten di Aula Syadzili Hasan UIN SMH Banten, Selasa (16/10/2018).

Doktor lulusan Universitas Bonn Jerman ini mengatakan, pemikiran keislaman yang didalami Fakultas Keislaman harus mampu mewujudkan pemikiran yang mengarah kepada moderasi beragama. “Misi pengembangan keilmuan UIN adalah bagaimana mampu berada di tengah, mampu mempertemukan dua kutub, literalis dan liberalis,” ujar Nur Kholis yang menamatkan S1 pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Ia mengatakan, para ulama terdahulu banyak mengajarkan bagaimana menjadi pihak di tengah. Imam Asy Syaukni misalnya, dalam Fathul Qadir juz pertama halaman 12 mengatakan, musafir memberikan keterangan bahwa ada dua kutub yang berseberangan dalam memahami teks Quran. Pertama, hanya mendasarkan diri pada riwayat. Kedua, kata dia, hanya pada filsafat bahasa. “As Syaukani hadir untuk mempertemukan keduanya,” ucap M Nur Kholis.

Menurut dia, keislaman di perguruan tinggi harus mampu menjadi feeder dan vitamin positif pengembangan moderasi beragama,” tuturnya. Guru Besar Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan, selain pilar keislaman yang harus diperhatikan ada tiga pilar lagi yakni pilar keilmuan, keindonesiaan, dan kemasyarakatan.

“Perguruan tinggi adalah institusi di mana para cerdik cendekia dan akademisi berkumpul melakukan pendidikan dan pengajaran serta modifikasi ilmiah. Mahasiswa juga diajarkan melakukan kajian dan diskusi akademis sehingga core businessnya adalah keilmuan,” ujarnya.

Tapi, M Nur Kholis menggarisbawahi keilmuan tidak sekadar untuk ilmu, tapi juga untuk kemanusiaan. “Sehingga, paradigma berpikir UIN adalah mengembangkan keilmuan yang berorientasi pada kemanusiaan,” katanya.

Pilar selanjutnya, ucap dia, pilar keindonesiaan. Menurut dia, pemikiran keislaman yang dikembangkan UIN SMH adalah pemikiran yang berorientasi mempererat komponen seluruh bangsa sehingga NKRI maju karena kita tidak terus bertengkar. Sehingga tidak lagi ada ruang pemikiran anti NKRI. “Keindonesiaan harus menjadi bagian inheren kita semua sebagai ilmuan muslim,” ucapnya.

Sedangkan pilar keempat yakni kemasyarakatan. Ia mengatakan, PTKI tidak boleh asyik di Menara Gading. Karya yang diterbitkan dan publikasi yang dihasilkan, tutur dia, tidak boleh berorientasi pada ilmu semata, tapi juga merespons perkembangan zaman. “PTKI mandapat tantangan luar biasa agar kajian keilmuan yang dikembangkan berdampak terhadap perkembangan masyarakat, merespon kebutuhan dan mengadvokasi publik terutama mustad’afin,” tuturnya menandaskan.

Rektor UIN SMH Banten, Fauzul Iman mengatakan dalam pidatonya bahwa UIN SMH Banten telah menjadi Universitas Islam Negeri. Berdirinya UIN SMH Banten ini tentu berkat bantuan dan kebijakan Menteri agama sebagai pemimpin instansi, terutama yang mengizinkan proposal pendirian UIN SMH Banten.

“Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Agama RI, terutama kepada Bapak Presiden RI yang telah sudi dengan cermat menandatangani berkas-berkas untuk UIN SMH Banten. Lalu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik pemerintah daerah, ataupun seluruh sivitas akademika yang telah berkontribusi dalam memajukan UIN SMH Banten,” katanya.

Fauzul bersyukur karena keberadaan UIN SMH Banten telah memberikan kontribusi besar kepada program pendidikan, kemasyarakatan, kebudayaan baik lokal dan nasional, di tingkat lokal tidak sedikit alumni yang terlibat dan menjadi tokoh sentral yang bergerak dalam pembangunan, instansi pemerintahan, sebagai bupati, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), di bidang pendidikan seperti pimpinan pesantren, tersebar hampir di seluruh kota. Para mahasiswa telah berhasil mendapat prestasi di tingkat lokal maupun nasional.

“Tema Dies Natalis UIN SMH Banten, yakni Integerasi Keilmuan Sebagai Destinasi Peradaban Islam Moderat. Tema ini sejalan dengan misi UIN SMH Banten dalam mengenalkan posisi UIN SMH Banten kepada peradaban pendidikan dunia Islam, baik direspons oleh dunia Islam maupun internasional. Sejalan dengan penguatan identitas kelembagaan dan keilmuan, peningkatan daya saing, dalam upaya merekonstruksi pemikiran Islam yang sesuai dengan UIN SMH Banten, maka dengan demikian tema-tema pemikiran pun harus secara fleksibel, komunikatif, dan terbuka, dalam situasi ini UIN SMH Banten kelak akan menjadi destinasi pemikiran Islam yang moderat,” tuturnya.

Pusat peradaban

Gubernur Provinsi Banten, Wahidin Halim mengungkapkan rasa bangganya atas daerahnya yang telah menjelma sebagai kawasan pendidikan. “Karena ternyata mahasiswa yang datang ke Banten, bukan berasal dari lokal saja, melainkan dari luar Banten juga. Dan telah banyak melahirkan para alumni-alumni yang telah menjadi profesor yang luar biasa,” ucapnya.

Satu perubahan yang luar biasa, dengan revolusi dari sisi pendidikan. Universitas sebagai tempat kajian keilmuan. Saya ingin membangun Banten sebagai pusat peradaban, bahwa kita memiliki potensi. Saya sebagai gubernur bertanggung jawab atas kelangsungan kemajuan pendidikan. Banten tanpa kita, tidak akan jadi apa-apa. Kami bangun sekolah-sekolah, menggratiskan mereka. Lalu, saya akan membantu UIN SMH Banten, karena memang UIN SMH Banten memiliki kontribusi untuk Banten,” katanya.

Maka yang perlu dilakukan saat ini, tuturnya, adalah dengan membangun peradaban, melanjutkan peradaban Sultan Maulana Hasanuddin. Banten sebagai tempat kajian, penelitian. “Generasi kita tidak boleh kalah, kita harus mencontoh Syekh Nawawi al-Bantani, bagaimana kita membangun Banten dari berbagai persepektif. “Selamat atas Dies Natalis UIN SMH Banten yang ke-56. UIN tambah jaya, berkembang, dan menjadi rujukan masyarakat dunia,” tuturnya.

Gubernur mengatakan, sebagai kampus negeri di Banten, UIN SMH Banten bisa memberikan harapan dan sumbangsih dalam dunia pendidikan dan keislaman di Provinsi Banten. “Semoga UIN tambah jaya, berkembang dan menjadi rujukan masyarakat Banten khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” ucapnya. Sebagai gubernur, dirinya sangat bangga karena di Provinsi Banten ini terdapat 136 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Ini menandakan Banten sudah menjelma sebagai kawasan pendidikan. (KB)