30 Okt
57

Rektor : Suburkan Nilai Keilmuan, Lahirkan Alumni yang Moderat

Selasa, 16 Oktober 2018 ini, seluruh sivitas akademika Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin (UIN SMH) Banten, merayakan peringatan Dies Natalis ke-56 tahun. Dalam usia yang lebih dari separuh abad ini, UIN SMH Banten telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan. Kontribusi UIN SMH Banten sudah tentu sangat besar bagi peningkatan sumber daya manusia (SDM), peradaban dan juga sebagai stabilitas pembangunan.

Sejarah panjang UIN SMH Banten mengandung banyak nilai-nilai perjuangan. Sejak didirikan 16 Oktober 1962, nilai-nilai perjuangan merupakan mata rantai yang tak putus sehingga UIN SMH Banten telah berkembang maju hingga saat ini. Pada usia 56 tahun, UIN SMH Banten menghadapi tantangan yang tak ringan. Kemajuan teknologi digital yang berkembang cepat serta perubahan tata kehidupan di masyarakat, harus disikapi dengan perubahan pada pola dan sistem pendidikan yang tepat, adaptif tanpa kehilangan jati diri sebagai perguruan tinggi dengan basis nilai-nilai ke-Islam-an.

Namun dengan modal histori yang kaya akan nilai-nilai heroik, semangat menjaga kehormatan diri (iffah), menjaga kesuburkan nilai-nilai keilmuan, kemampuan manajerial dan jaringan, UIN SMH Banten menatap optimistis mampu mewujudkan visinya sebagai Universitas Islam yang unggul dan terkemuka dalam keintegrasian yang berwawasan global.

“Refleksi 56 Tahun UIN SMH Banten tak terpisahkan dari rangkaian sejarah yang panjang. Nilai-nilai hostori itu hal yang tak terputus hingga sekarang. Saat UIN SMH Banten didirikan 16 Oktober 1962 lalu, para pendiri dan pejuang mampu menjaga kesuburan hati sivitas akademika kampus. Meskipun dengan tanah yang masih gersang, tetapi hati sivitas akademika tumbuh subur dalam mengembangkan keilmuan. Sekarang sarana dan prasarana sudah memadai (subur). Oleh karena itu, jiwa dan hatinya harus makin subur. Jangan sampai sebaliknya, tanah sudah subur, hati menjadi gersang,” kata Rektor UIN SMH Banten Prof Dr H Fauzul Iman, MA.

Berikut petikan lengkap wawancara khusus Rektor UIN SMH Banten Prof Dr H Fauzul Iman, MA :

Usia 56 Tahun, apa refleksi penting dari perjalanan UIN SMH Banten hingga sekarang, Prof?

Rememori UIN SMH Banten tak lepas dari sejarah pendirian kampus ini. Sejarah panjang dari awal didirikan sekitar 1960-an dari mulai fakultas, kemudian menjadi STAIN, IAIN dan sekarang menjadi UIN, mengandung pesan-pesan kekaryaan (legacy).

Bahwa para pendiri kampus ini, mewariskan semangat perjuangan yang tinggi, sikap herois, melakukan jihad aqidah, didasarkan pada unsur keimanan, bukan karena materi. Warisan kekaryaan ini yang harus jadi pondasi dan pegangan sekarang. Tentu saja dengan konteks dan zaman yang berbeda. Tapi nilai kekaryaan itu tidak boleh ditinggalkan.

Jadi, warisan pendiri itu yang harus dijaga dan dikembangkan oleh sivitas akademikan UIN SMH Banten sekarang?

Ya memang harus demikian. Warisan para pendiri berupa basis pendidilan keagamaan harus tetap dijaga, dipelihara dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman. Hari ini UIN SMH Banten telah tumbuh berkembang. UIN SMH Banten lahir bukan suatu hal yang tiba-tiba, berdiri tanpa perjuangan. Tetapi penuh nilai heroisme, akidah, prestasi, dan kemajuan.

Pendirian UIN SMH Banten bukan diraih atas dasar perebutan materi, kekuasaan. Kita mengetahui bagaimana duku para pendiri mengumpulkan pohon kelapa dari sumbangan masyarakat untuk dijual kemudian hasilnya digunakan untuk biaya membangun kampus.

Hal itu menunjukkan berdirinya UIN tidak lepas dari peran serta masyarakat, hubungan kepiawaian ulama kita dengan pemerintah daerah. Para ulama menunjukkan jiwa mental pejuang, tidak cengeng, apalagi berebut pada hal-hal yang tidak prinsip.

Nilai dan semangat para pendiri yang harus dipegang teguh para pengelola, mahasiswa, dan alumni. UIN SMH Banten hadir sebagai perguruan tinggi dan penjaga umat. Selain juga dituntut piawai berkomunikasi, membangun jejaring (networking) menjaga diri (iffah) kehormatan. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama yang baik antar semua elemen kampus.

Dalam konteks sekarang, apa yang ditonjolkan UIN SMH Banten?

Ada dua hal, yakni peningkatan kualitas internal dan eksternal. Untuk internal, yakni dalam hal peningkatan rangking akreditasi, kemudian desain kurikulum, keorganisasi, tata kelola atau manajemen sehingga selaras dengan kondisi sekarang. Demikian halnya juga dalam hal pengembangan kerjasama. Alhamdulillah, UIN telah menjalin kerjasama luar negeri antara lain dengan Jerman, Belanda, Malaysia, Maroko, Tunisia, Iran dan Turki. Kerjasama dengan negara tersebut bagian dari upaya dalam meningkatkan kualitas dosen maupun mahasiswa UIN.

Dalam hal peningkatan kualitas eksternal, UIN SMH Banten memiliki potensi yang sangat besar. Dengan alumni yang telah mengabdi di berbagai sektor kehidupan, seperti mengabdi di TNI/Polri, menjadi aparatur sipil negera (ASN), pimpinan pondok pesantren, kepala sekolah/madrasah, guru, pegawai swasta, tokoh masyarakat, dan yang menduduki lembaga strategis, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Potensi ini harus dijadikan modal pengembangan UIN ke depan. Bagaiamanapun peran alumni sangat dibutuhkan, sesuai dengan peran dan kiprahnya masing-masing.

Selain itu, perlunya pengembangan dalam pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU). Keberadaan BLU ini ke depan akan sangat berperan dalam peningkatan kualitas UIN. Sebagaiama diketahui, dengan perubahan menjadi UIN sudah tentu akan makin terbuka untuk pendirian jurusan dan fakultas baru. Sedangkan untuk rekrutmen tenaga pengajar terbatas. Oleh karena itu, kampus sudah tentu harus mampu mencari pembiayaan dari BLU untuk menutupi kebutuhan seperti gaji dosen yang non ASN.

Tema Dies Natalis ke-56 yakni reintegrasi keilmuan sebagai destinasi peradaban pemikiran Islam moderat. Apa pesan yang ingin disampaikan, Prof?

Kami ingin kampus UIN SMH Banten merupakan kampus yang melahirkan alumni yang berpikiran moderat. Yakni tidak berpandangan sempit, tetapi berpikir holistik, menghargai perbedaan, dan berperilaku dengan akhlak yang terpuji. Untuk itu, maka dibutuhkan integrasi kembali keilmuan sebagai pusat dari membangun pemikiran moderat tersebut.

Sampai saat ini, alhamdulillah, UIN SMH Banten telah melahirkan banyak lulusan dengan ciri berpikiran moderat. Dai yang lulusan UIN merupakan dai moderat. Demikian juga yang menjadi pimpinan pondok pesantren semuanya mencirikan sebagai kalangan yang moderat. Inilah yang harus terus dijaga dan dipertahankan oleh UIN SMH Banten. (KB)