09 Nov
71

Pascasarjana UIN SMH Banten Hadirkan Marzukie Alie pada Kuliah Umum

HumasUIN - Dengan mengangkat tema "Politik dan Managemen Pemberdayaan Pesantren", Program Pascasarjana UIN SMH Banten mengadakan Kuliah Umum di Aula rektorat. Kuliah umum yang ke 15 ini menghadirkan mantan ketua DPR RI tahun 2009-2014 Marzukie Alie dan di moderatori Kaprodi MPI Anis Fauzi, Rabu (8/11).

Direktur Pascasarjana, B. Syafuri mengatakan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, ponpes tentu sangat memiliki andil sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa. Pesantren merupakan tempat yang strategis untuk mendidik ummat yang mandiri, tangguh dan tidak mudah menyerah menghadapi zaman.

“Kapasitas kita ini harusnya mampu me-manage pesantren. Sebagai mahasiswa harus punya kegigihan, untuk memiliki andil besar dalam mengubah masa depan agar lebih baik,” kata dia saat sambutan.

Marzukie Alie mengatakan didalam mengelola tata kelola pesantren saat kni masih sangat tradisional oleh karena itu kedepan kita harus mampu membangun pesantren sehingga mampu berperan aktif dan membuat perubahan. "Saya kira Indonesia akan rapuh jika tidak bisa membangun dan membangkitkan pesantren," ungkapnya.

Jika berbicara polotik dan pondok pesantren, Marzukie Alie mengatakan selama ini pondok pesantren hanya sebagai subjek politik, pesantren hanya ramai dikunjungi saat momentum lima tahunan tanpa bisa berbuat untuk kemajuan pesantren khususnya dan ummat Islam secara umum. "Fenomena pesantren sebagai subjek politik, terlihat saat pemilu atau pilkada, banyak tamu yang hanya membawa janji-janji politik," ungkapnya.

Kita umat Islam seharusnya tidak buta akan politik, dimana ada politik disitu agama harus menjadi pondasinya. Politik dan agama itu adalah saudara kembar, dimana dua-duanya harus saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Banyak orang yang sudah mulai memisahkan politik dan agama untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. "Jika umat Islam buta akan politik, maka semua kebijakan tidak akan bisa dilawan karena nantinya semua akan dikuasai oleh orang asing, kita akan termarjinalkan di tempat kita sendiri," ungkapnya.

Kedepan, alumni pesantren diharapkan tidak hanya menjadi juru dakwah saja, tetapi juga mampu berkembang di semua lini pekerjaan mulai dari dokter hingga politikus. "Alumni ponpes harus berani tampil sebagai tokoh nasional dan menjadi pemimpin di negeri ini, jangan hanya menjadi guru ngaji saja sehingga mampu menjadi penguasa di bidang ekonomi," ungkapnya.

Dia berpesan agar umat Islam melek politik, membangun budaya partisipan artinya memahami situasi politik dan ikut aktif dalam kegiatan politik. "Ummat Islam harus menguasak politik, sehingga semua kebijakan-kebijakan politik terkait dengan kehidupan masyarakat baik dalam bidang ekonomi, sosial budaya dan penegakan hukum dan berpihak kepada kepentingan umat Islam," tutupnya.