07 Nov
66

UIN Gaet OJK dan Pemprov Banten Kembangkan Ekonomi dan Keuangan Syariah

HumasUIN - Dalam rangka mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di provinsi Banten, UIN SMH Banten bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pemprov Banten mengadakan Focus Group Discussion (FGD) di Aula rektorat UIN SMH Banten, Selasa (7/11).

Bambang widjanarko selaku kepala OJK regiaonal 1 DKI Jakarta dan Banten dalam sambutannya mengatakan dengan melihat kondisi dimana Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mendorong perkembangan ekonomi keuangan syariah. Dimana Indonesia memiliki potensi yang tinggi sebagai negara muslim terbesar, tetapi belum dapat dioptimalkan oleh Indonesia sendiri.

Banten memiliki potensi yang sangat tinggi dalam perkembangan keuangan syariah kedepan, kondisi demografi banten yang didominasi masyarakat muslim menjadi potensi utama pengembangan ekonomi syariah di banten. "Saya memandang di Banten potensi perkembangan keuangan syariahnya lebih spesifik dan hampir sama dengan daerah lain, jika daerah lain sudah mulai bergerak maka Banten harus secepatnya bergerak dan berkembang," ungkapnya.

Dia juga menyampaikan, pada FGD kali ini hadir enam narasumber dari berbagai bidang mulai dari Bank Indonesia hingga akademisi. "Pada FGD ini, beberapa narasumber yang fokus pada ekonomi islam akan menyampaikan beberapa program unggulan yang akan dilakukan dengan melihat banyaknya potensi yang tersedia di Banten," ungkapnya.

Efi syarifudin, akademisi dari UIN SMH Banten mengatakan edukasi formal yang harus diajarkan kepada masyarakat mengenai pentingnya pengembangan syariah sudah seharusnya diajarkan sejak dini, agar ketika mereka dewasa dan tiba ditengah masyarakat, tinggal menerapkan.

Dalam diskusinya, dia membagi Banten menjadi dua, yaitu Banten Utara dan Banten Selatan, dimana perkembangan ekonomi di Banten Utara lebih cepat daripada Banten selatan. Jika dilihat dari sisi luas wilayah, Banten selatan lebih besar dan memiliki potensi lahan dan wisata yang bisa meningkatkan perkembangan ekonomi di Banten. Tetapi itu tidak diberdayagunakan dengan baik sehingga pertumbuhan ekonominya tidak merata.

Perbedaan kultur di Banten dan strategi pendekatan yang baiknya digunakan agar perkembangan ekonomi di Banten merata yaitu dengan intensifikasi regulasi, penguatan komunitas dan edukasi untuk di Banten Utara. Dilain sisi, pengembangan ekonomi di Banten Selatan lebih kepada hal-hal edukasi formal seperti perberdayaan ekonomi syariah, penguatan skill dan kapasitas hingga pelibatan key community.

Selain dari BI dan akademisi, hadir juga dari Bappeda, Kementerian Agama, Pengamat Ekonomi Syariah, Masyarakat Ekonomi Syariah dan Baznas.