13 Sep
188

Libatkan Mahasiswa dalam Sosialisasikan Kesetaraan Gender lewat Mata Kuliah

HumasUIN - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI bekerjasama dengan UIN SMH Banten mengadakan Workshop Pemetaan Mata Kuliah Potensial Responsif Gender dalam rangka membahas mengenai kesetaraan gender untuk kemudian disusun pada kurikulum mata kuliah.

Rektor UIN Banten, Fauzul Iman mengatakan ada tiga tahapan acara yang akan diikuti peserta dalam rangka kerjasama antar KPPPA dan kampus UIN mengenai pembahasan gender yaitu workshop, pelatihan dosen yang berkaitan dengan pemetaan mata kuliah dan fasilitasi tim pelaksanaan bagaimana meningkatkan potensi responsif gender.

Dia mengatakan jika kita semua memiliki tanggung jawab bersama dalam mengenalkan dan memberlakukan kesetaraan gender dimasyarakat umum agar kedepannya tidak ada diskriminasi lagi kepada perempuan dan anak. Bagaimana peran kesetaraan itu diwujudkan dalam pendidikan tinggi dengan menyelipkan mata kuliah yang didalamnya membahas mengenai penyetaraan gender. Dimasukannya pembahasan ini pada mata kuliah agar kedepannya mahasiswa juga ikut berperan dalam penyampaian kesetaraan gender kepada masyarakat. "Mahasiswa memiliki potensi yang besar dalam mensosialisasikan mengenai hal apalagi setelah mereka lulus dan bekerja di masyarakat," ungkapnya.

Dia menambahkan kesetaraan gender sudah sangat jauh dikenalkan dan diperhatikan oleh Allah, diskursus dan dibahas di dalam al quran, itu bisa dilihat dari bagaimana allah menciptakan bidadari disurga, bagaimana Allah menciptakan hawa untuk menemani adam dalam membangun peradaban di bumi. Hal seperti ini yang nantinya akan di bahas pada mata kuliah untuk mahasiswa agar mereka juga tahu dan faham mengenai hal yang banyak dipermasalahkan dalam masyarakat ini dan nantinya mereka juga akan bisa memberikan solusi mengenai permasalahan ini.

Kepala bidang kesetaraan gender KPPA, Sayuti mengatakan kampus UIN Banten merupakan salah satu dari 6 kampus yang ikut bekerjasama dengan KPPA dalam rangka ikut bekerjasama untuk mensosialisasikan mengenai gender. Dimana sosialisasi ini merupakan mandat dari presiden RI untuk membantu presiden dalam upaya memperkecil praktik diskriminasi terhadap perempuan dan anak.

Kita perlu melalukan trobosan untuk mengenalkan gender kepada masyarakat luas, salah satunya adalah dengan memasukkan pembahasan mengenai gender kedalam kurikulum mata kuliah mahasiswa. "Peran aktif mahasiswa sangat dibutuhkan agar ketika mereka lulus nanti mudah untuk membaur dan memberi informasi ini kepada lingkungan tempat dia bekerja dan bermasyarakat," ungkapnya.

Workshop yang diadakan selama tiga hari ini dihadiri 36 peserta yang terdiri dari para wakil dekan bidang akademik, ketua lembaga sampai ketua prodi pada s1 dan pascasarjana. (Ferry)