01 Mei
93

Gelar Webinar Internasional: Akhlak dan Tasauf Sebagai Terapi Modernitas  

HumasUIN - Webinar internasional bertemakan “Akhlak dan Tasauf” yang digelar secara daring pada Kamis (4/29/21), merupakan salah satu langkah penyadaran kembali terkait trapi modernitas melalui perspektif akhlak dan tasauf.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kerja sama antar Lembaga Perguruan Tinggi Internasional antara Indonesia dan Malaysia yang terdiri dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, IAIN Jember, IAIN Kudus, Universias Darussalam Gontor, Universitas Islam Indragiri Riau, STAI Khez Muttaqien dan Universiti Tunn Hussein Onn Malaysia (UTHM).

Mengusung tema Akhlak dan Tasauf ini merupakan kegelisahan para akademisi mengenai persoalan modernitas. Di mana modernisasi merupakan hasil peradaban yang ditopang dengan pengetahuan saintifik, tolak ukur kemajuan peradaban ini ditandai dengan tumbuh suburnya teknologi terbarukan, sehingga ia mampu menggeser tenaga manusia menjadi tenaga mesin.

Tapi di sisi lain, kemajuan tersebut ternyata menyebabkan tumbuh suburnya imoralitas atau dengan kata lain rapuhnya moralitas. Dampaknya, peradaban yang dihasilkan rawan akan malapetaka terutama tergerusnya pada nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini disebabkan, ia secara mayoritas tidak mengindahkan nilai-nilai ketuhanan dan kebenaran relatif yang mengacu kepada rasionalisme, empirisme dan realisme.

Guru Besar UIN SMH Banten Prof Udi Mufrodi, salah satu Keynote Speakers webinar tersebut menuturkan, perlu kiranya untuk menjadikan akhlak sebagai terapi bagi peradaban yang positivistik. “Etika dan akhlak memang memiliki persamaan, tapi juga ada perbedaan. Di mana persamaannya, yaitu sebagai gambaran perbuatan, tabiat dan perangai manusia, sementara perbedaannya, etika bersumber dari indra dan akal relatif, dan akhlak bersumber dari Alquran dan Hadits yang mutlak,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan, persoalan terapi terhadap modernitas, maka akhlak adalah prinsip yang paling utama, karena itulah Rasul kita diutus sebagai penyempurna Akhlak, tuturnya.

Sementara itu, Win Ushuluddin Bernadien menyambungkan, Akhlak islam ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan dan pemerintahan modern. “Jika dijalankan akhlak yang berlandaskan nilai-nilai agama maka dapat mengurangi bentuk-bentuk penyimpangan sosial. Karena setiap agama prinsipnya menyimpan nilai-nilai moral dan kemanusiaan,” Tutur pemantik asal IAIN Jember tersebut.

Dengan demikian, kata Bernadien, adanya korupsi, nir kemanusiaan dan lainnya ini sebagai bentuk penyimpangan akhlak. Karenanya ia dipastikan tidak berpegang teguh kepada Kitab sucinya.

Begitu juga dengan tasauf, yang dimaknai secara luas merupakan bentuk asupan terapi rohani dalam relung jiwa manusia, keberadaan hal dan maqamat ini senantiasa dalam konteks terapi modernitas mampu membendung subjektifisme atau hawa nafsu pada sikap, prilaku, pandangan dan penilaian yang berdasarkan kepentingan sendiri. Jelas Ijrus Irawan, pemantik dari Universitas Islam Indragiri. (Salim R).