29 Apr
479

Moderasi Agama Jadi Tajuk Pembinaan Dosen UIN Banten

HumasUIN - Moderasi beragama merupakan cara pandang dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem. Hal itu diungkapkan rektor dalam acara pembinaan pegawai UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang dilaksanakan di Aula Rektorat, Kamis (6/2/2020).

Fauzul Iman mengatakan, radikalisme, ujaran kebencian, ekstremisme hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Sehingga, adanya program pengarusutamaan moderasi beragama ini dinilai penting terutama dalam lembaga pendidikan.

“Oleh karena itu, setiap tindakan kita seharusnya berpegang teguh pada Alquran dan Hadits agar tidak bertindak radikal,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Fauzul, banyak hal yang menyebabkan mudahnya orang terpapar paham radikal salah satunya aqidah, bagaimana dalam pemahamannya setiap negara yang tidak memakai hukum Allah adalah negara kafir dan setiap yang tinggal di negara kafir adalah kafir.

“Kita yang fokus dalam pendidikan harus bisa meluruskan paham-paham seperti ini, salah satunya dengan mendirikan lembaga yang menaungi hal seperti ini,” katanya.

Fauzul mengaku, Kementerian agama dalam rapat kerja nasional beberapa waktu lalu berpesan agar di kampus segera didirikan rumah moderasi untuk menampung segala permasalahan dan aspirasi dari segala tempat.

“Jika UIN Banten nantinya akan mendirikan rumah moderasi yang sekaligus peresmiannya akan bersamaan dengan peresmian kampus dua,” tuturnya.

Azyumardi Azra, guru besar UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) merupakan sistem pendidikan tinggi terbesar di dunia.

“Baik dunia muslim maupun lainnya dimana PTKIN mengintegrasikan ilmu-ilmu yang bersumber dari ayat Qur’aniyah dengan ayat kawniyah,” katanya memaparkan.

Ia menjelaskan, PTKIN dalam pengembangkan moderasi beragama harus lebih aktif dalam beberapa hal penting seperti penguatan dasar, paham dan ideologi kebangsaan untuk guru.

“Dosen hingga mahasiswa hingga mendekatkan cita ideal kebangsaan seperti terpatri dalam empat prinsip bangsa Indonesia dengan realitas kehidupan warga sehari-hari,” ucapnya.

Untuk penguatan keislaman, lanjut Azrumy, PTKIN perlu bekerja sama dengan ormas Islam Wasathiyah yang bergerak untuk pemberdayaan masyarakat dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, penyantunan sosial dan ekonomi.

“PTKIN bersama Ormas Islam Wasathiyah berperan besar dalam menumbuhkan civic culture dan civility yang penting untuk penguatan demokrasi dan pemcegahan ekstremisme dan radikalisme,” ujarnya menutup pembicaraan.